Muslimah Untuk Mafia Psychopath

Muslimah Untuk Mafia Psychopath
26.


__ADS_3

"Langkah apa yang akan kau ambil?" Azka berdiri dihadapan Peter.


Tidak ada anggapan apapun yang diberikan oleh Peter atas ucapannya Azka, ia hanya duduk berdiam diri dengan tangan bersedekap. Memandangi keadaan sang adik melalui jendela kaca transparan, tanpa adanya pergerakan sedikitpun untuk berpaling.


Dugh!


Merasa geram karena merasa telah di acuhkan oleh Peter, Azka dengan sepenuhnya menggunakan tenanganya menendang kaki Peter sehingga membuatnya harus terjatuh dari atas kursi yang ia duduki.


Mendapatkan hal seperti itu, pada akhirnya pria itu mulai kehabisan kesabaran untuk kesekian kalinya.


"Arkh! Kenapa kau menarik rambutku? Lepaskan." Teriak Azka saat tangan kekar milik Peter menarik rambut kepalanya dengan sekuat tenaga.


"Masih tidak berubah, jangan pernah berharap aku akan mengizinkan adikku untuk berdekatan denganmu." Peter melepaskan tangannya.


"Kau tidak bisa begitu, bagaimana pun juga dia sudah masuk dan menjadi bagian dari hidupku." Menyeringai kepada Peter.


"Kau tidak akan pernah bisa membohongiku, Azka. Jangan sampai sikapmu ini semakin membuat adikku membencimu, dan aku adalah orang yang paling utama menertawakanmu jika itu terjadi." Tanpa membalikkan tubuhnya, Peter mengatakan kebenaran yang ada.


Mendadak tubuh Azka menjadi kaku, ia juga tidak bisa menyalahkan apa yang telah dikatakan oleh Peter mengenai hubungannya bersama Unni. Dirinya memutuskan sepihak atas semuanya tanpa sepengetahuan dan persetujuan dari Unni, akan tetapi saat ini tantangannya akan semakin besar. Bukan hanya untuk mendapatkan hati wanitanya, dengan menghembuskan nafas beratnya. Azka menatap punggung Peter yang menbelakanginya.


...Adiknya saja sangat sulit untuk dicapai, ini malah ditambah kakaknya hadir. Peter lagi yang menjadi orangnya, aih....


.

__ADS_1


.


.


Waktu pun berjalan dengan cukup cepat, proses penyembuhan dan pemulihan untuk Unni sudah terlihat hasilnya.


"Bagaimana, masih ada yang terasa tidak enak?" Peter memastikan keadaan tubuh Unni.


"Alhamdulillah, sudah tidak ada. Terima kasih." Unni masih terlalu canggung untuk menggunakan kalimat kakak pada Peter.


"Syukurlah kalau begitu, kita akan segera pulang." Senyuman itu Peter berikan kepada adiknya.


Peter melakukannya sendiri untuk membereskan semua barang-barang disana, tidak ingin ada yang ikut membantunya. Apalagi membuat Unni menjadi tidak nyaman dengan kehadiran para bawahannya yang cukup dingin, maka dari itu Peter melakukannya sendiri.


"Mulai sekarang, kamu akan bersama kakak. Memang berat dan sulit untuk memulainya, namun. Tidak akan ada lagi yang namanya perpisahan, sudah cukup untuk semuanya."


"Kenapa kau juga ikut?" Kaget, itulah yang Peter dapati saat Unni mengikuti dirinya yang berlutut.


"Tidak ada kedudukan manusia yang lebih mulia daripada sang penciptanya, dengan ini akan kita akan sama." Ujar Unni tanpa menatap Peter.


Dengan hal tersebut, Peter segera berdiri agar Unni mengikuti dirinya. Saat ia mengulurkan tangannya membantu Unni, dengan hormat Unni merapatkan kedua telapak tangannya didepan wajahnya dan hal tersebut terlihat oleh Peter. Ada rasa kesal dalam dirinya, namun itu semua ia sadari jika sang adik mempunyai keteguhan dalam dirinya.


Keduanya berjalan menuju mobil yang telah dipersiapkan, awalnya Unni menolak. Sekuat apapun yang ia lakukan untuk menolaknya, maka sekuat itu pula Peter akan memaksanya kembali.

__ADS_1


Selama perjalanan menuju mansion milik Peter, Unni hanya melempar pandangannya dengan menatap berbagai pemandangan yang mereka lalui. Tiba-tiba saja air mata itu berada di sudut kedua mata miliknya, dengan cepat ia menghapusnya agar tidak ada yang mengetahui hal tersebut.


Ccciiittt...


Brak!!


Sebuah mobil hitam menghantam mereka dari arah belakang dengan cukup kuat, kaca jendela yang berada disamping tempat Unni duduk pecah. Hal tersebut membuat Unni seketika berteriak kaget, dan Peter pun menghalau sesuatu yang sudah mengarah pada kepala Unni.


"Bre****k!"


Tangan Peter memutar benda tersebut, sehingga tangan orang yang memegangnya ikut berputar dan berakhir dengan suara patahan yang begitu nyaring terdengar.


Sebuah belati kecil yang sangat tajam sudah beralih tangan pada Peter, Eiger segera keluar dari bagian kemudi untuk mengejar orang tersebut. Saat itu pula Peter meraih Unni dan memeluknya, mengusap kepalanya dengan perlahan.


"Jangan menanggis."


"A ak aku takut." Nada ucapan yang bergetar bersama tubuhnya, membuat Unni sangat ketakutan.


"Tidak apa-apa, ada kakak. Jangan menanggis dan takut lagi, oke." Peter masih memeluk erat Unni yang masih sangat bergetar.


Sedangkan di luar sana, Eiger menghajar orang tersebut dengan sekuat tenaga. Empat orang pria itu dengan begitu mudahnya ditakhlukan oleh Eiger, tanpa menggunakan senjata apapun.


Dalam hitungan menit, ke empat pria tersebut sudah tak berdaya. Lalu Eiger mengambil tali dan mengikatkannya pada mereka, tak lama kemudian para anggota lainnya membawa ke empat pria itu pada sebuah tempat yang biasa meraka gunakan untuk para tawanannya.

__ADS_1


Para anggota lainnya memang sengaja Peter berikan jarak, karena ia tidak ingin membuat Unni kembali teringat akan peristiwa saat ia berada di bandara. Yang dimana terdapat banyak anggota dari Peter yang menghalau perjalanannya, lalu berakhir dengan peristiwa penembakan.


Sementara anggota lainnya membereskan kekacauan yang terjadi, Eiger melajukan kembali mobil yang kini membawa mereka menuju mansion.


__ADS_2