
Dua bulan setelah Varo mengungkapkan perasaannya kepada Aira, dan saat ini. Aira berkeyakinan untuk segera memberika jawaban kepada Varo, jika dirinya juga memiliki perasaan yang sama dengan dirinya.
Namun, sudah beberapa hari ini. Varo tidak pernah menghubunginya, dan itu membuat Aira menjadi merasa ada yang aneh. Memutuskan untuk berkunjung ke mansion kedua orangtua Varo, dimana ia juga merindukan Unni.
Saat tiba disana, Aira disambut dengan begitu baik. Dan Unni segera menemaninya dan mereka berdua saling melepas rindu, berbincang-bincang sampai lupa waktu.
"Mom." Dengan ragu-ragu, Aira bermaksud untuk bertanya pada Unni mengenai keberadaan Varo.
"Varo?" Unni langsung memberikan tanggapan atas ucapan Aira.
Menganggukkan kepalanya, Aira terlihat begitu penasaran. Unni pun tersenyum akan sikap Aira, lalu ia menggenggam tangan Aira dan mengajaknya masuk kedalam mansion dan menuju salah satu pintu yang berada di lantai atas.
"Ayo masuk."
"Tapi mom."
"Tenang saja, mommy akan selalu disampingmu." Unni membuka pintu tersebut.
Terlihatlah orang yang selama beberapa hari ini telah menghilang, orang tersebut dengan senyumannya sedang bersendau gurau dengan seorang wanita. Namun, wanita itu begitu leluasanya menyentuh tubuh Varo.
"Sudah selesai nak?" Unni memecah kesunyian yang Aira rasakan.
"Mom! Aira!" Varo kaget dan melihat dua wanita yang ia cintai sudah berdiri disana.
"Mommy! Abang keras kepala!" Protes wanita itu yang juga memanggil Unni dengan sebutan mommy.
Hal itu membuat Aira semakin bingung, bahkan ia merasa jika tidak ada apa-apanya saat dibandingkan dengan wanita itu. Kini wajahnya tidak berani untuk ia angkat, walau hanya sekadar menatap ke depan.
Begitu cepatnya, Varo segera menutupi tubuhnya yang dipenuhi oleh kasa dan perban dengan menggunakan pakaiannya. Lalu menghampiri kduanya, wahai Varo terlihat begitu kaget dan cemas.
Plak!
Plak!
__ADS_1
"Argh! Moga, sakit!!" Teriak Varo ketika luka-lukanya diantara dengan kepalan dari tangan wanita itu.
"Rasakan, siapa suruh keras kepala dan menculikku dari rumah sakit! Uueekk!"
Moga, dia adalah anak dari dokter yang selalu mengesalkan dalam kehidupan Azka. Siapa lagi kalau bukan Mark, bahkan ia mewarisi sikap menjengkelkannya itu kepada putrinya. Padahal istrinya adalah orang yang begitu introvet, sangat berbeda sekali.
"Sstth, Moza. Sebaiknya kita turun, biarkan abangmu ini melepas rindunya." Goda Unni.
"Mom!" Secara bersamaan, Varo dan Aira memprotes.
Unni hanya menahan senyumannya, sedangkan Moza. Ia menatap satu persatu wajah yang membuat Unni menahan senyumnya.
"Wah, ternyata pawangnya sudah datang. Pantas saja, ini kak Aira ya? Jangan bilang, kalau pria keras kepala ini sudah memaksamu untuk menjadi pasangannya?"
"Moza!!" Kali ini, Unni bersamaan dengan Varo.
"Hahaha, hanya bercanda mom. Ya sudah, aku serahkan tugasku selanjutnya pada kakak ya. Kalau dia menolak, tekan saja luka-lukanya. " Bisik Moza dan lari dari kamar tersebut.
"Ya sudah, mommy tinggal ya. Jika tidak nyaman, kalian bisa berbicara di tempat yang lain." Unni mengusap punggung Aira lalu keluar dari kamar milik Varo.
Keduanya kini duduk ditaman, yang biasanya digunakan untuk bersantai bersama anggota keluarga yang lainnya.
"Jangan berpikiran yang aneh-aneh, dia adalah Moza. Adikku dari paman yang menyebalkan."
"Hmm."
"Jangan marah, maaf. Aku tidak memberi kabar padamu."
"Hmm."
"Aira, ayolah." Varo mulai tersulut emosinya.
Menghela nafas beratnya, Varo tahu jika Aira saat ini tidak percaya pada dirinya. Menarik telapak tangan kanan Aira dan meletakkan pada dadanya, membuat Aira menatap Varo dengan tajam.
__ADS_1
"Aku akan mengatakan yang sejujurnya padamu, tapi. Aku harap, setelah semuanya aku ceritakan. Tidak akan membuatmu menjauh dariku."
Perlahan, Varo menceritakan mengenai dirinya. Tidak menutupi sekecil apapun dari Aira, bahkan dunia bawah yang ia pimpin tidak luput dari ceritanya. Dan begitu juga dengan daddy serta kedua adik kembarnya, Varo tidak ingin Aira menjadi salah menduga. Bahkan, alasan atas menghilangnya dirinya dalam beberapa hari ini. Di akibatnya oleh pertarungannya dengan musuhnya dari klan lain, menyebabkan dirinya mendapatkan luka yang cukup banyak.
Akan tetapi, tidak ada ekpresi apapun yang Aira berikan sebagai respon, wajahnya tetap datar dari awal Varo menceritakan semua perjalanan hidupnya dan keluarganya.
"Aira, kamu baik-baik saja?"
"Hmm, aku baik-baik saja. Sudah selesai ceritanya?"
"Hmm, aku harap kamu tidak akan menjauhiku setelah mengetahui aku dan keluargaku yang sebenarnya." Varo masih menggenggam tangan Aira pada dadanya.
Dimana, Varo sudah siap jika Aira tidak akan menerima dirinya bahkan keluarganya. Setelah apa yang menjadi rahasianya selama ini diketahui oleh orang lain.
"Aira."
"Iya, bawel! Mommy sudah cerita semuanya, saat aku masih dirumah sakit. Kamunya saja yang telat." Aira memanyunkan bibirnya.
"Apa? Jadi, mommy sudah cerita semuanya?!" Varo melepaskan tangan Aira dna mengusap wajahnya dengan kasar.
"Memangnya kenapa? Itu tandanya, mommy percaya padaku untuk mendengar rahasia keluarga kalian."
"Mommy, mommy." Varo memijat pelipisnya dan memejamkan kedua matanya.
Dengan tengilnya, Aira menekan sembarangan tubuh Varo saat itu. Dimana, Aira dapat melihat perban yang menonjol dari tubuh Varo dibalik bajunya. Secara acak menekannya, membuat Varo kaget dan berteriak.
"Argh!"
"Ternyata, tuan yang keras kepala, bawel, dingin, datar dna kejam ini bisa berteriak juga ya. Katanya pemimpin klan dunia bawah, masa kayak gini aja sudah berteriak. Payah!" Dengan menahan senyumnya, Aira terus menggoda Varo.
"AIRA!!"
Mengetahui jika Aira sedang menahan tawanya, membuat Varo tahu akan dirinya yang sudah dijahili oleh wanita tersebut. Tanpa menunggu lama, Varo langsung membalasnya dengan menggelitik Aira habis-habisan. Mereka berdua tertawa bersama dengan begitu lepasnya.
__ADS_1
Dari balik jendela mansion, pihak keluarga yang lainnya menjadi saksi jika Varo sudah menemukan jati dirinya.