Muslimah Untuk Mafia Psychopath

Muslimah Untuk Mafia Psychopath
54.


__ADS_3

Bugh!


Bugh!


David yang sedang menahan serangan dari para musuhnya, menjadi sedikit kewalahan. Dimana saat ini, ia hanya sendirian berada di dalam ruang kerjanya. Dan yang paling sialnya, tidak ada satupun senjata yang ia punyai saat ini.


Brakh!


Kakinya menendang sebuah kursi ke arah lawannya, bagaimana bisa satu melawan dua belas orang dan tidak ada senjata yang ia gunakan. Memutar otaknya dengan cepat, David segera mengambil langkah dengan menendang kursi di dekatnya. Bertujuan agar lawannya tidak fokus dan dia bisa kabur mencari bantuan, seperti perkiraannya. David bisa melakukannya dan ia berlari mencari bantuan, namun ia harus dikagetkan dengan keadaan markas yang benar-benar tidak berbentuk.


"Ba***at!! Akan kuhabis kalian!" Kepalan kedua tangannya menguat.


Begitu juga dengan suasana mansion, bantuan tim alpa yang datang cukup membantu. Klan yang di naungi oleh Peter juga turut andil, kini keadaan disana cukup menegangkan.


Saya Kenzo datang, ia melempar sebuah senjata kepada Azka. Dengan cepat dan gerakan Azka tidak bisa dibaca, tangan itu dalam sekejap melenyapkan puluhan nyawa.


"Dimana ketua kalian?!" Dengan tegas dan wajah yang memerah Azka meletakan sebuah katana didepan leher tawanannya.


Tidak ada jawaban yang didapatkan, merahasiakan keberadaan dari ketua mereka. Memilih mati daripada harus menjawab pertanyaan Azka, tiba-tiba saja orang tersebut menghentakkan tangan Azka sehingga ia terbebas.


"Kalian tidak akan pernah menemukannya." Orang tersebut menembak ke sembarangan arah, agar bisa lepas dari cengkraman Azka.


Dor!


Dor!


Dor!

__ADS_1


"Baji***an! Mati kau!!!"


Pergerakan orang tersebut dan beberapa musuh lainnya, ternyata dapat terbaca oleh Azka. Dengan cepat ia mengejarnya dan melayangkan katana di tangannya, tanpa perlawanan yang berarti.


Trash!


Brugh!


Dalam satu gerakan tangan tersebut, tiga nyawa telah melayang. Terlalu larut dalam kemurkaan yang besar, hingga mereka melupakan keberadaan orang yang tidak berdaya.


Meninggalkan Unni sendiri ditempat persembunyiannya, membuat wanita mungil itu harus tetap waspada. Namun semuanya tidak bisa ia duga sebelumnya, tanpa ia sadari. Terdapat dua orang yang langsung membekapnya mulutnya, dan menodongkan sebuah senjata tajam didepan wajahnya.


"Diam! Atau nyawamu akan hilang!" Suara pria dibalik topeng wajah, terdengar menakutkan untuk Unni.


"Eeemmm, mmmm." Unni berusaha berteriak, namun tidak bisa.


Unni tidak ingin hal itu terjadi, ia berusaha memberontak dengan sekuat tenaganya. Mencari celah dimana ia bisa berteriak, agar suaminya bisa mengetahui jika dirinya tertawan.


...Bismillah, Ya Rabb. Maafkan hambaMu ini....


Membuka mulutnya depan menggigit dengan kuat tangan orang yang sedang membekapnya, saat orang tersebut melepaskan tangannya. Lalu Unni menendang aset berharga miliknya dengan kakinya, membuat orang tersebut meringgis kesakitan.


"Arkh! Sialan, arkh!" Pria itu sontak menutupi bagian asetnya dengan tangan. Hingga Unni bisa terlepas, dan berlari menjauh.


"Hei, berhenti kau!" Pria satunya yang kaget saat mengetahui temannya seperti itu, lalu ia mengejar Unni.


"Hubby! Hubby!" Teriak Unni dengan keras.

__ADS_1


Masih dalam keadaan nafas yang memburu, Azka sayup-sayup mendengar suara yang cukup ia kenal. Segera Azka membalikkan tubuhnya dan melihat ke arah dimana ia meninggalkan Unni, betapa kagetnya ia melihat Unni yang sedang berlari ke arahnya. Dan di belakang tubuhnya, pria yang merupakan musuh mereka sedang mengejarnya.


" Tidak, sayang menunduk!" Azka mempercepat langkahnya.


Namun na'asnya, Unni tidak mendengar ucapan Azka kepadanya. Ia terus berlari yang dimana pria tersebut semakin dekat dan menghadangnya dari arah depan. Lalu ia menancapkan senjata ditangannya tepat pada perut Unni, membuat Unni berhenti seketika dan melebarkan kedua matanya.


"Tidak!!" Teriak Azka yang melihat istrinya dihadang oleh musuhnya.


"Enyah kau!!" Katana di tangan Azka dengan cepat membelah tubuh orang tersebut menjadi dua bagian.


Trash!


Nyawa orang tersebut hilang seketika, Azka segera menyambut tubuh mungil milik istrinya yang meringgis menahan rasa sakit. Darah terus mengalir dari luka tersebut, tangan Azka bergetar sata melihat istrinya terluka.


"Hu hubby."


"Sayang, maafkan aku. Bertahanlah." Azka meraih tubuh mungilnitu ke dalam dekapannya.


Akan tetapi, gerakan itu berhenti saat tangan Unni menahannya. Azka merasa panik akan keadaan seperti ini, tangan yang sudah basah akan darah itu meraih wajahnya.


"Hu hubby, to tolong selamatkan baby. Tolong selamatkan dia, kamu akan menjadi da daddy." Suara Unni dengan lirih dan pada akhirnya tubuh mungil itu melemah.


"Ap apa? Sayang, sayang bangun. Bangun!" Azka menghentakkan tubuh Unni agar ia tetap tersadar.


Mata sayu itu masih terbuka, namun tubuhnya sudah tidak berdaya. Dengan darah yang terus menerus mengalir dengan cukup banyak, membuat Azka mempercepat langkahnya. Walaupun situasi saat itu masih cukup tegang, masih banyak yang beradu kekuatan satu sama lain.


"Apa yang terjadi?!" Kenzo menghampiri Azka.

__ADS_1


"Mobil! Cepat!" Bentakan Azka membuat Kenzo melirik ke arah Unni, kedua matanya ikut melebar melihat senjata masih berada pada tubuh mungil itu.


__ADS_2