Muslimah Untuk Mafia Psychopath

Muslimah Untuk Mafia Psychopath
72.


__ADS_3

"Aauumm!!! Aauumm!!!"


Suara Macis bergema, menyadarkan Unni dan leon akan situasi mereka saat ini. Sejenak Leon menatap Unni dengan tatapan yang tidak bisa diartikan, lalu ia melangkah mundur dan kembali bergabung bersama Macis.


Seakan menyadari keadaan sudah tidak kondusif, Unni kembali melangkahkan kakinya menjauh.


Dalam pertarungan tersebut, pasukan yang tidak pernah mereka duga sebelumnya. Memberikan bantuan dalam jumlah yang cukup, persenjataan mereka pun bisa dibilang begitu lengkap dan canggih.


Hampir semua orang disana dibuat melebarkan kedua bola matanya, klan tersebut juga tidak mengucapkan sepatah kata pun. Mereka hanya fokus untuk menyerang musuh dan menyelamatkan orang-orang yang sudah menjadi target inti.


"Siapa mereka? Kenapa aku sangat merasa asing dengannya?" Azka memperhatikan orang-orang tersebut.


Kedatangan klan tersebut sangatlah membantu, perlawanan terus terjadi dari pihak musuh mereka. Wajah dari para anggota klan asing itu begitu tertutup, ketika kondisi sudah mulai mereda. Azka bersama Kenzo berhasil menarik salah satu penutup wajah dari anggota klan tersebut, betapa kaget keduanya melihat wajah dibalik penutup itu.


"Ady?!" Ucap Azka dan Kenzo bersamaan.

__ADS_1


Dalam keadaan tubuh yang sudah begitu kotor, basah dan berbau amis. Tangan pun masih menggenggam senjata yang digunakan, Azka menarik nafasnya dengan sangat panjang.


"Jelaskan semuanya, Ady! Ap maksud dari semuanya ini!!" Bentak Azka yang masih tersulut oleh emosi.


Begitupun dengan Ady, ia sangat bingung untuk mengatakan apa yang ingin Azka dapatkan. Bahkan Kenzo harus menarik tubuh Ady ke salah satu sudut tempat dimana mereka sedang memanfaatkan situasi.


" Katakan!" Lagi, Azka berteriak untuk mendapatkan jawaban yang jelas.


Tangan kekar itu mencengkram rahang Ady dengan sangat kuat, disaat itu Kenzo menyadari kehadiran musuh mereka. Namun Azka masih ingin mendapatkan jawaban yang sebenarnya dari Ady, kini Kenzo harus mengamankan situasi disana.


"Maafkan saya tuan, saya tidak bisa mengatakannya." Singkat Ady.


"Dad!"


Ketika suara itu terdengar, membuat Azka melonggarkan cengkraman tangannya pada rahang Ady. Tubuh kecil itu, kini terlihat begitu berantakan.

__ADS_1


"Boy, darimana saja. Hah!" Sontak saja kedua kata Azka melebar saat melihat keadaan Varo seperti itu.


"Sorry dad, akan Varo jelaskan nanti." Wajah dingin anak itu, mengalahkan milik daddy nya sendiri.


"Jangan membohongi daddy, katakan pada daddy!" Suara Azka meninggi.


Ady terlepas dari persoalan untuk menjelaskan apa yang Azka tanyakan padanya, ia lebih memilih bertarung daripada berhadapan dengan Azka serta anaknya.


"Black shadow, itu milikku. Sorry dad, aku mewarisi darahmu." Jelas singkat Varo, namun tidak mengurangi dinginnya wajah yang ia perlihatkan.


Tubuh Azka luruh seketika, saat mendengar putranya yang masih dalam masa pertumbuhan. Dimana pada usianya sata itu, harusnya di isi dengan kegiatan bermain dan belajar. Akan tetapi, apa yang terjadi tidak bisa ia kendalikan. Tanpa sepegetahuan dan lepas dari pengawasannya, kini putranya tumbuh begitu cepat.


"Dad, kumohon. Biarkan aku mewarisi semua darahmu, namun tidak dihadapan mommy."


Kembali lagi dan lagi, Azka begitu kaget mendengar Varo mengatakan hal tersebut. Mengerti akan ucapan tersebut, namun seketika ingatan Azka tertuju pada keadaan istrinya.

__ADS_1


"Mommy!"


Kedua pandangan mereka bersatu, segera mereka berlarian menuju suatu tempat yang dimana diyakini Unni berada. Meneruskan pertarungan yang ada, semakin lama. Pihak musuh pun bertambah, membuat bingung klan Red Dragon beserta klan asing yang ternyata adalah milik dari putra sang leader.


__ADS_2