Muslimah Untuk Mafia Psychopath

Muslimah Untuk Mafia Psychopath
23.


__ADS_3

Suasana yang dirasakan oleh Unni sangatlah nyaman, berada dihamparan luasnya padang rumput nan hijau. Ia menatap keindahan dengan penuh kekaguman, betapa indahnya.


"Masyaa Allah, indahnya ciptaanMu Ya Rabb."


"Assalamu'alaikum."


"Ah, wa Wa'alaikumussalam. " Jawab Unni yang kaget dengan suara tersebut.


Saat kedua mata itu melihat siapa yang sudah menyapanya, dua orang yang sepertinya sepasang suami dan istri. Dalam wujud yang begitu cantik dan tampan, sampai-sampai membuat Unni terdiam beberapa saat.


"Tidak baik sendirian disini, kembalilah." Ucap sang wanita kepada Unni.


"Iya nak, ini bukanlah tempatmu." Sang pria pun berkata yang hampir sama dengan wanita sebelumnya


Keadaan itu telah membuat Unni berpikir sejenak, ia begitu sangat asing dengan tempat tersebut namun begitu membuatnya nyaman berada disana.


"Ini dimana?" Tanya Unni begitu penasaran.


Kedua orang tersebut tiba-tiba saja memeluk Unni dengan begitu erat, mengusap puncak kepalanya penuh kelembutan.


"Pulanglah nak, akan ada waktunya untuk kita berkumpul kembali." Wanita tersebut membisikan ditelingan Unni lalu mencium keningnya.


"Terima kasih sudah bertahan sampai saat ini, mereka sudah menunggumu nak. " Sang pria ikut memberikan kecupan di kening Unni.

__ADS_1


Hal tersebut membuat Unni semakin bingung, perlakuan dua orang tersebut membuat dirinya seperti mendapatkan pelukan dari kedua orangtuanya yang tidak ia ketahui wajah maupun seperti apa mereka.


Masih asik dengan alam bawah sadarnya, sehingga membuat Unni tidak mengetahui bahwa orang-orang sedang menantikan kesadarannya.


Flashback on...


Mempercepat langkahnya menuju tempat dimana Unni berada, dengan kaki jenjangnya. Azka dengan cepat tiba disana, namun ia mendapati sebuah kejutan yang teramat besar. Keberadaan seseorang yang tidak ia sangka, dan kini mereka bertemu setelah sekian tahun menghilang.


Tatapan mata mereka saling bertemu, pertanyaan besar muncul dalam pemikiran mereka masing-masing. Azka menganggap jika orang yang ia lihat itu tidak ada, ia mengkhawatirkan keadaan Unni.


"Bagaimana bisa tertembak?" Tanya Azka pada Jihan yang juga masih dalam keadaan shock.


"Jangan memaksanya untuk bercerita, dia juga mengalami shock atas kejadian ini." Terang Kenzo menarik bahu Azka dari hadapan Jihan.


"Jawab!" Azka menaikan suaranya ketika Jihan tidak menjawabnya.


"Dokter!" Sebut Peter.


"Anda walinya?" Penekanan pada suara tersebut.


"Iya dok, ada apa? Bagaimana keadaannya?" Peter sangat ingin mengetahui.


"Kita harus segera membawanya ke rumah sakit yang lebih besar, racun yang terdapat pada luka tembakan menyebar dengan sangat cepat menyebar ke dalam tubuh. Sangat ditakutkan hal itu akan menyerang organ lainnya." Penjelasan dokter tersebut membuat semuanya yang mendengar menjadi semakin panik.

__ADS_1


"Baiklah, siapkan semuanya. Apakah disini mempunyai landasan untuk helikopter mendarat?" Peter memastikan hal tersebut.


"Ada tuan, dibelakang rumah sakit mempunyai aksesnya. Saya akan menyiapkan pasien."


Semuanya bergerak cepat untuk membawa Unni dari sana, saat brankar keluar dari ruangan. Dalam keadaan yang sudah safety, Azka dapat melihat wanita yang sudah menghancurkan semua pikirannya.


Hatinya sangat hancur melihat kondisinya seperti itu, wajah yang pucat dengan peralatan medis di tubuhnya. Namun ada satu yang membuatnya janggal, kain!


"Stop! Kenapa kalian melupakannya! Dimana hijab Hafsah? Palingkan muka kalian semuanya, cepat!" Suara teriakan Azka membuat yang lainnya segera menurutinya.


Suara itu terdengar begitu menyeramkan dari pada bertarung melawan raja hutan sekali pun, hal itu baru disadari oleh Peter. Ia tidak melihat hijab yang menutupi bagian atas dari tubuh Unni, dengan perlakuan dari Azka yang begitu sangat perhatian kepada sang adik. Terbesar pertanyaan besar dalam dirinya.


Azka menggunakan selimut dari rumah sakit itu untuk dijadikan sebagai pengganti dari hijab yang biasa digunakan oleh Unni, walaupun sebenarnya bagian kepala dan rambut telah tertutupi oleh topi medis. Hal itu tidak membuat Azka rela, jika apa yang dimiliki oleh wanitanya dilihat oleh banyak orang.


"Bertahanlah, jangan pernah mencoba pergi dariku, Hafsah." Bisik Azka pada telinga Unni, tanpa ia sadari jika air matanya membasahi kain yang menutupi bagian tersebut.


Dari kejauhan, Peter membiarkan Azka melakukannya. Ia tidak ingin membuat keributan yang bisa menghambat pemindahan Unni, helikopter sudah tiba dan siap untuk berangkat. Di dalam perjalanan pemindahan tersebut, tiba-tiba saja detak jantung Unni berdetak sangat lambat.


"Apa yang terjadi?" Panik Peter saat mengetahui kejadian itu.


"Detak jantungny melemah." Jawab dokter yang mendampingi.


"Lakukan sesuatu, cepat! Khumairoh, bertahanlah. Bertahanlah!" Peter begitu takut dengan keadaan Unni.

__ADS_1


Mendengar nama Khumairoh, tubuh Azka seakan kaku. Ia tahu pemilik nama tersebut adalah milik dari orang yang Peter cari selama ini. Memandangi wajah yang pucat itu dengan begitu syahdu, Azka baru menyadari jika ada kemiripan dari wajah tersebut dengan Peter.


...Apa benar dia adalah adik dari Peter? Ini tidak mungkin, bagaimana bisa....


__ADS_2