
Dor!
Dor!
Dor!
Pelepasan tembakan itu tepat sasaran, beberapa musuh sudah tergeletak tak berdaya. Lalu disusul dengan anggota lainnya yang juga merasa geram akan kedatangan musuh tak terduga. Dalam hitungan menit, semua musuh dapat mereka takhlukan. Benar-benar pembelajaran dan sejarah baru untuk mereka, berkumpul atas serangan tak terduga dan hampir melupakan kemampuan dari para penerus baru yang sangat melebihi kemampuan mereka sendiri.
Pertarungan telah selesai, Varo menjemput istri dan mommy nya. Begitu juga dengan Azka yang juga ikut menyusulnya, mereka kini sudah berkumpul kembali dengan porsi yang besar.
Dan Aira, Perlahan-lahan ia mulai mengenali dunia yang Varo jalani. Hampir mirip dengan Unni, mommy mertuanya. Hanya saja, Aira adalah seorang wanita yang masih memiliki sikap jika diirnya rendah dari orang lain.
Tugas Varo yang selalu memberikan pengertian untuk istrinya, dibantu dengan Unni yang selalu berada dibelakang mereka. Yang pada akhirnya membuat Aira menerima keadaannya, dan yang terpenting adalah. Jika mereka sudah menjadi pasangan suami istri yang sesungguhnya, dan Aira memantapkan hatinya untuk menggunakan hijab seperti ibu mertuanya. Karena dengan perlahan ia mendapatkan nasihat dari sang suami yang selalu setia menemaninya dalam suka maupun duka.
.
.
.
.
Beberapa tahun kemudian...
"Viandra! Berhenti!" Varo mengejar bocah laki-laki yang berlari dengan begitu kencang.
"Tidak mau! Kalau mau, ayah saja yang berhenti mengejarku! Uueek!" Bocah kecil itu menjulurkan lidahnya pada Varo.
__ADS_1
"Ya Tuhan, anak ini benar-benar membuatku sakit kepala." Keluh Varo.
Dari kursi taman, nampak keluarga besar Azka sedang berkumpul. Mereka hanya tersenyum melihat anak dan ayah itu sedang saling kejar mengejar, Viandra adalah anak pertama dari pernikahan Varo bersama Aira. Mengapa Aira tidka ikut mengejar anaknya? Karena saat ini, ia sedang mengandung anak keduanya.
"Dasar tidak sadar diri, abang dulu juga seperti itu kan." Ejek Andre yang selalu bisa memanfaatkan keadaan.
"Diamlah, sana! Kejar keponakamu itu dan bawa kemari, jika tidak berhasil. Maka kau akan aku keluarkan dari daftar klan tua (Red Dragon dan Black shadow)." Ancam Varo.
"Hah! Kenapa kau selalu menjengkelkan bang! Bisanya mengancam saja, membuatku terkena imbasnya."
Plak!
Plak!
"Dad!!" Keduanya berteriak ketika kepalanya mendapatkan pukulan dari Azka.
Dugh!
"Sakit!!" Andre mengusap tulang kering kakinya yang ditendang Azka.
"Dad!" Andre mengadu kembali.
Dari tempat duduknya, Unni dan Aira hanya menikmati perdebatan diantara para pria disana. Sungguh pemandangan yang sangat unik untuk dilihat, sedangkan Viandra sudah berhenti berlari dan berdiri disisi ibunya.
"Adek, nanti akan kakak ajari jurus untuk menghindar dari ayah ya. Soalnya ayah menjengkelkan, dan paman kembar juga tidak bisa diajak bermain. Hanya nany yang selalu pengertian, jangan lama-lama didalam perut ibu ya. Kasihan sama ibu, berat bawak adek kemana-mana. " Viandra mengusap dan memberikan kecupan kecil pada perut besar Aira.
"Terima kasih sayang, tapi jangan berkata seperti itu lagi ya. Tidak baik, nanti ayah dan paman tidak mau bermain lagi." Aira mengusap kepala anaknya.
__ADS_1
Dan kedua pria itu masih saling bertatapan dengan sangat tajam, Varo dan Andre akan selalu begitu jika sudah bermain bersama Viandra. Ada saja kekonyolan yang mereka ciptakan dan membuat orang lain menahan tawa, begitu Andra yang baru saja tiba pun terkena imbasnya.
"Assalamu'alaikum mom, kak." Andra menghampiri kedua wanita tersayang.
Saat akan baru saja mendaratkan dirinya untuk duduk disamping Unni, tiba-tiba saja kursi yang hendak ia gunakan sudah mundur kebelakang. Al hasil, membuat dirinya terjatuh bagaikan buah masak dari pohon mendarat di tanah.
Brugh!
"Bocah sialan! Tidak ayah, tidak anak. Sama-sama saja menjengkelkan. Viandra!!" Andra beranjak dari duduknya dan mengejar bocah kecil yang sudah tertawa.
"Hahaha, paman lucu sekali jatuhnya. Seperti buah busuk yang jatuh dari atas pohon." Viandra bergegas berlari dengan sangat cepat, menghindari Andra yang sudah menatapnya dengan tajam.
Aksi kejar-kejaran terjadi disana, suasana mansion semakin ramai dan ceria semenjak kehadiran Viandra. Bahkan Unni sudah tidak dapat membedakan yang mana anak dan cucu, disaat semua pria disana membuatnya geleng-geleng kepala.
Sampai akhirnya, Viandra menyerah dan berhenti berlari. Ketiga pria dewasa itu dengan cepat menangkap dan menahannya, memberikan hukuman dengan menggelitiknya dengan sangat puas.
"Kalian sedang apa? Jika cucuku terluka, kalian akan menerima akibatnya." Suara Azka membebaskan Viandra dari kekonyolan ayah dan paman kembarnya.
"Daddy! Hukum saja mereka, biar kapok." Viandra berlari memeluk Azka dan menjulurkan lidahnya kepada ketiga pria konyol menurutnya.
Baik Andre maupun Andra, mereka sudah memanyunkan bibirnya. Jika daddy mereka sudah berada disamping cucunya, tidak akan ada yang bisa menaklukkannya apapun yang terjadi. Untuk Varo, ia harus merelakan status diirnya sebagai ayah dari anak yang selalu saja membuatnya menjadi pria konyol dan darah tinggi.
Kehidupan dari keluarga para leader dunia bawah, sungguh berbeda jika dilihat dari beberapa sisi. Namun, mereka akan menjadi keluarga hangat saat bersama dengan orang-orang yang dicintai.
Azka melepaskan diri dari dunia bawah, menyerahkan sepenuhnya kepemimpinan kepada kedua putra kembarnya. Namun pada akhirnya, mereka menyatukan kedua klan yang ada menjadi satu kesatuan. Tentunya tetap Varo yang memegang kendali atas leader disana, begitu pula dengan para tetuanya (Kenzo, Mark, Peter, Eiger, David dan Ady). Mereka tetap dilibatkan dalam posisinya di dalam struktur klan, dan kini semuanya telah hidup dengan bahagia bersama keluarga dan orang-orang yang mereka cintai hingga akhir hayatnya.
......................
__ADS_1
...💐💐💐💐💐💐 TAMAT 💐💐💐💐💐💐...