Muslimah Untuk Mafia Psychopath

Muslimah Untuk Mafia Psychopath
34.


__ADS_3

Beberapa hari setelah dirawat, Peter diperbolehkan untuk pulang. Keadaannya sudah lebih baik dari saat ia pertama dirawat, Unni merasa sangat senang mendengar hal tersebut.


"Untuk sementara, kita akan tingal di mansion Azka. Apa kamu tidak keberatan?" Ujar Peter saat membenahi penampilannya.


"Apa tidak ada alasan yang lain kak?" Walaupun kaget, Unni berusaha untuk tenang.


"Keadaan belum terlalu baik untuk kita kembali, mansion juga masih dalam perbaikan. Tidak apa-apakan?" Memastikan jika sang adik tidak merasa keberatan.


"Jawaban kakak sudah mewakilinya."


Peter memandangi Unni dengan sangat teduh, wajah itu mengingatkan dirinya dengan sang bunda. Tak terasa jika ada air yang mengalir dari sudut matanya, dan itu segera ia hapus menggunakan jemari tangannya.


Semua telah siap, keduanya berjalan bersama untuk keluar dari rumah sakit. Dimana Eiger sudah menunggu mereka disamping mobil, lalu mereka melakukan perjalanan menuju mansion Azka.


Selama didalam perjalanan, Unni hanya diam dan memandangi ke luar jendela mobil. Peter mengetahui perasaan sang adik, namun semuanya itu ia lakukan untuk kebaikannya.


.


.


.


"Semuanya sudah selesai, tuan." Hugo melaporkan jika perintah Azka sudah dilaksanakan.


"Pastikan semuanya terlihat sempurna, kau tahu itu." Masih dengan sikap arogannya, Azka memberikan perintah.


"Baik tuan." Hugo pamit undur diri untuk memastikan semuanya telah siap.


Mata tajam itu memandangi suasana kamar yang akan ditempati oleh Unni, sengaja ia mendekatkannya berdampingan dengan kamar utama miliknya.


"Seperti permintaanmu, aku akan berusaha untuk menjadi pelindungmu Khumairoh. "

__ADS_1


Terdengar suara dan juga klakson dari mobil yang baru saja tiba, dimana Azka mengetahui siapa yang datang. Ia segera berjalan cepat untuk menyambutnya.


Terlihat Peter dan juga Unni yang baru saja keluar dari mobil, dengan dibantu oleh para pelayan untuk membawakan barang-barang milik mereka memasuki mansion.


"Masuklah." Azka menyambut Peter dan merangkulnya.


"Lepaskan, aku risih dengan sikapmu ini." Peter tidak suka jika Azka merangkulnya, hingga terkesan seperti pasangan saja.


"Sudah diamlah, atau kamarmu akan aku kasih ranjau." Ancam Azka mempertahankan rangkulan tersebut.


Dua orang pria di depannya, membuat Unni mencebiknya. Mereka melupakan dirinya yang harus berjalan sendiri dengan wajah sudah bertekuk, benar-benar terlupakan atau memang sengaja dilupakan.


Mereka bertiga duduk di ruang utama, dengan beberapa hidangan untuk menyambut kedatangan mereka disana.


"Pet, izinkan aku meminang Hafsah." Ucapan yang cukup tegas dari seorang Azka.


"Hah!" Peter tersedak akibat ulah Azka.


"Ya, aku serius. Sorry jika kau kaget, tapi itulah yang selama ini aku tunggu untuk bicara padamu."


Disaat yang bersamaan, seorang wanita menerobos masuk ke dalam mansion tersebut dengan membuat kegaduhan. Penampilannya cukup membuat mata pria menjadi sakit, dan juga aroma parfum yang begitu kuat menusuk hidung.


" Arkanza Aynan, apa kabar?" Ujar wanita itu.


Mendapati kehadiran wanita tersebut, membuat Azka menampakkan wajah dinginnya. Apalagi dia hadir disaat yang tidak tepat, membuat Azka mengepalkan kedua tangannya.


"Kak, bisakah aku berisitrahat?"


"Hem, berisitirahtlah. Hugo, tolong hantarkan adikku."


Dengan sigap, Hugo mengiyakannya. Mempersilahkan Unni untuk mengikuti dirinya menuju kamar yang telah dipersiapkan, dan yang membuat Unni kaget. Kenapa letak kamarnya berdampingan dengan Azka?

__ADS_1


Kembali pada situasi di ruang utama, baik Peter maupun Azka sudah mengetahui siapa tamu mereka. Begitu beraninya wanita itu menghampiri dan memeluk lengan Azka, sangat agresif.


Namun tidak dengan Peter, dia duduk dengan tenang menikmati pemandangan yang cukup mengesankan. Wanita yang dulunya sempat hadir kehidupannya, seiring waktu disaat rasa cinta itu telah tumbuh. Sangat mudahnya menghempaskan dirinya jatuh ke dalam jurnal yanh terdalam, bahkan hampir saja ia kehilangan semua apa yang menjadi miliknya.


"Ah, ternyata ada kamu juga sweety. Kebetulan sekali kita bertemu lagi."


Jeniefer, dialah wanita tersebut. Bagi Peter, wanita itu telah mati. Tidak ada lagi baik wujud ataupun yang lainnya didunia ini mengenai wanita itu, ia mengacuhkan begitu saja Sapaan dari Jenie.


"Hugo!" Teriak Azka dengan cukup keras.


Hugo hadir dengan sedikit berlarian kecil, agar segera tiba disaat suara Azka bergema di dalam mansion.


"Saya tuan."


"Lakukan tugasmu, jika terulang kembali. Kau akan tahu akibatnya." Azka meninggalkan ruang utama menuju kamarnya.


"Baik tuan." Menundukan sebagian tubuhnya saat Azka berjalan melewatinya.


Mengetahui Azka meninggalkannya, Jenie berteriak dan berusaha untuk mengejar langkah Azka. Namun sudah terlebih dahulu mendapatkan benteng penghalang dari beberapa keamanan disana.


"Sebaiknya anda pergi dari sini, nona. Jika tidak, kami akan menggunakan cara kasar." Hugo menggunakan caranya.


"Awas, minggir kalian. Harus kalian tahu, akulah calon nyonya disini. Kalian semuanya akan aku pecat!" Jenie mengeluarkan ucapan yang dimana membuat Peter tersenyum.


Karena tidak menuruti apa yang sudah Hugo katakan, dengan kata lain mereka menggunakan cara tersendiri untuk membawa Jenie keluar dari sana.


Bagaikan sebuah karung, tubuh Jenie dibawa keluar dari mansion oleh para keamanan yang ada. Sebelum itu, Peter berjalan menghampirinya.


"Mimpimu terlalu tinggi."


"Dasar pria tidak berguna, tunggu pembalasanku!" Jenie terus memberontak.

__ADS_1


"Akan kami tunggu."


Lalu Peter mengayunkan tangannya kepada keamanan untuk segera menyingkirkan wanita itu.


__ADS_2