
Mobil berhenti, dengan cepat Kenzo membuka pintu mobil dimana Azka berada. Dengan mengendong tubuh wanita yang sudah tidak sadarkan diri itu masuk ke dalam mansion, semua para pelayan disana kaget saat melihat tuan mereka membawa seorang wanita ke dalam mansion dan itu adalah pertama kalinya.
"Itu tuan Azka kan, apa mataku salah ya." Ucap salah satu pelayan disana bernama Mawar.
"Iya ya, apa mataku juga." Putri ikut nimbrung.
Bagaimana tidak mereka akan selalu memperhatikan tuannya, tidak ada perempuan yang menolak jika prianya itu adalah Azka. Sudah tampan, tubuh yang atletis, tinggi, berkarisma, pintar dan kaya raya.
"Kembali pada tugas kalian!"
Suara itu membuat semuanya pelayanan yang sedang nimbrung akan tuannya membawa seorang wanita ke dalam mansion menjadi bubar begitu cepat, wajah Hugo begitu dingin dan menakutkan untuk seluruh pelayan yang ada begitu juga pada pekerja lainnya.
Menjadi orang kepercayaan untuk menjaga mansion dan juga mengawasi seluruh para pekerja yang ada, membuat Hugo menjadi orang yang begitu ditakuti setelah Azka.
.
.
.
Dalam pikiran Azka saat ini adalah menyelamatkan wanita yang kini terbaring tidak sadarkan diri dihadapannya, tidak memperdulikan kemarahan yang seperti apa yang akan diberikan padanya.
"Hah, kenapa denganmu aku sangat sulit. Sial!"
Meminta Hugo memberitahukan kepada pelayan wanita disana, untuk membantu menggantikan pakaian yang dikenakan oleh Unni. Jika biasanya ia akan dengan mudah menyentuh wanita lainnya, namun kali ini timbul perasaan yang cukup aneh sehingga membuat dirinya lebih memilih orang lain untuk melakukannya.
Menunggu dari luar kamar saat para pelayannya menggantikan pakaian Unni, namun pelayan itu mengalami kebingungan.
"Maaf tuan, kita tidak mempunyai hijab seperti yang digunakan oleh nona." Ucap Putri kepada Azka.
"Arkh, sialan. Kenapa jadi begini, gunakan apa saja agar dapat menutupinya. Karena dokter akan segera datang." Mengusap rambut kepalanya dengan kasar.
"Baik tuan." Putri seger masuk kembali ke dalam kamar tersebut.
Mencari sesuatu benda yang bisa mereka gunakan, pada akhirnya mendapatkan sebuah kain biru langit lalu menutupkannya pada bagian tubuh seperti semula.
__ADS_1
"Hei, ada apa kau menyuruhku kemari? Pasienku sangat banyak, kau seenaknya saja menculikku. " Keluh Mark pada Azka yang berada didepan pintu kamar miliknya.
"Diam, masuk."
"Huh, tidak pernah berubah."
Mengikuti langkah Azka untuk masuk ke dalam kamarnya, lalu kedua mata Mark membulat dan mulut yang terbuka lebar. Seakan tidak percaya dengan apa yang ia lihat. Seorang wanita yang sudah terbaring di atas tempat tidur, pemandangan yang sangat langka untuk seorang Azka.
"Siapa wanita ini?" Tangan Mark akan menyentuh kain yang menutupi bagian kepala Unni.
"Jangan pernah menyentuhnya tanpa izin dariku!"
Sangat cepat tangan Azka menghentikan itu semuanya, sorot mata tajamnya membuat Mark merinding. Sudah lama ia mengenal seorang Azka, tapi tidak untuk saat ini.
"Cepat periksa dan obati dia."
"Iya iya, kau berhutang penjelasan padaku." Mark melakukan tugasnya dan mulai melihat apa yang terjadi pada luka itu.
"Aku bilang, jangan menyentuhnya!"
"Aish, bagaimana aku bisa melihat dan mengobati lukanya jika tidak disentuh. Kau ini aneh, sana." Mark balik mendorong Azka agar menjauh darinya, membuat pekerjaannya menjadi terhambat.
"Kenapa membawanya kerumah bukan rumah sakit? Kau ini, untung saja lukanya tidak dalam." Celoteh Mark menggelengkan kepala atas sikap Azka yang seperti ini.
"Tidak usah banyak bicara, jika tugasmu sudah selesai. Hugo akan mengantarmu ke luar. "
"Ish, kalau tahu begini. Lebih baik aku praktek saja, kasihan para pasienku yang sangat merindukan untuk bertemu."
Bugh!
"Yah!!" Tubuh Mark tersungkur akibat tendangan dari kaki kokoh itu.
Duduk disisi tempat tidur, Azka memandangi wajah Unni yang sangat pucat. Ada suatu perasaan yang aneh dirasakan oleh Azka, dimana selama ini ia tidak pernah mengenal apa itu perasaan cinta. Apalagi tertarik dengan wanita, itu sudah tidak masuk dalam kamus kehidupan dirinya. Namun, saat ia berhadapan dengan wanita ini. Semuanya terasa begitu berbeda.
"Apa yang menarik dari dirimu? Kenapa kau membuatku seperti ini, bahkan aku merasa seperti orang bo**h jika berhadapan denganmu."
__ADS_1
Tangan itu mulai membelai wajah yang berwarna pucat dengan penuh kelembutan, sangat berbeda sekali. Rasa getaran itu kembali dirasakan Azka saat menyentuh Unni.
"Aku tahu, kau sangat membenciku saat menyentuhmu. Kenapa kau begitu menolaknya, diluar sana. Banyak wanita yang ingin berada disisiku, tapi kau tidak."
Masih asyik dengan perasaan aneh yang ia rasakan, bahkan Azka tidak menyadari jika ada seseorang yang sedang menyaksikan sikapnya dan siap mengeluarkan suara.
"Woi, anak orang. Main toel-toel aja, kalau suka ngomong aja. Heh, dasar manusia datar!"
Memejamkan kedua matanya dengan tangan yang sudah mengepal kuat, mendengar suara itu membuat Azka menjadi murka.
"Mark!!" Teriakan yang sangat kuat.
"Hahaha, iya. Aku pamit." Mark ketahuan dan langsung saja kabur.
Jiwa usilnya datang saat melihat keanehan dengan sikap yang Azka perlihatkan, seperti makanan lezat yang siap ia santap dan membuatnya bahagia.
Dengan keusilan yang dilakukan oleh Mark, membuat Azka harus meredam emosinya yang sempat tersulut. Memang Mark adalah sahabatnya yang sangat usil dan tengil, untung saja ia memiliki otak yang cemerlang. Jika tidak, entah apa yang terjadi padanya saat ini.
Kembali menatap Unni, Azka merasa tertantang untuk mendapatkan jawaban atas apa yang dikenakan oleh Unni saat ini. Mencoba menarik ujung dari kain yang menutupi bagian kepalanya, namun ada perasaan yang ragu-ragu akan hal tersebut.
"Hem, kalau dia marah bagaimana? Tapi, dia kan masih tidak sadar. Jangan lah, arkh!"
Merasa menjadi orang yang sangat kekanak-kanakan, membuat Azka heran akan sikap dirinya sendiri. Berjalan menjauh dan kembali mendekati Unni, menjauh lagi, mendekat lagi.
"Anda kenapa?"
Suara itu membuat Azka terdiam dan menoleh ke arah sumber suara, kedua mata dari wanita berwajah pucat itu telah terbuka. Menatapi dirinya yang bersikap konyol, tidak mencerminkan sekali seorang Azka yang dingin.
"Kau, kau sudah sadar?" Dengan wajah tidak percaya, namun masih membuat Azka terlihat tampan.
"Anda bertanya pada saya?"
"Kau! Kenapa selalu saja membuatku emosi, hah?" Gertak Azka dan menghampiri Unni yang mencoba bangkit dari tempat tidur.
"Saya tidak pernah membuat anda emosi, anda sendiri yang tidak bisa mengontrol emosi diri anda sendiri." Jawab Unni dengan tenang, bersandar sejenak agar mempunyai tenaga untuk berdiri.
__ADS_1
"Hah! Apa katamu?!" Azka hendak mencengkram lengan Unni.
"Saya tidak perlu menjawab ataupun menjelaskan, anda sudah mendapatkan jawabannya sendiri." Merasakan luka pada tubuhnya masih terasa begitu nyeri.