Muslimah Untuk Mafia Psychopath

Muslimah Untuk Mafia Psychopath
63.


__ADS_3

Mengusap wajahnya dengan kasar, Azka segera melangkahkan kakinya menuju kamar mandi. Hanya sekadar untuk membasuh wajahnya yang sudah sangat terasa panas, akibat ulah Mark yang selalu membuat dirinya murka.


Dibalik itu, dalam keadaan menutup matanya. Unni ingin sekali tertawa dengan peristiwa yang baru saja terjadi, namun ia tahan agar tidak membuat suaminya semakin panas.


Setelah keluar dari kamar mandi, Azka kembali duduk disisi tempat tidur. Menatap sejenak wajah sang istri, lalu ia mendaratkan kepalanya kembali untuk berbaring pada sisi tempat tidur.


"Sayang, kamu tahu. Kepalaku rasanya ingin pecah, bisakah kamu segera bangun dan semuanya terasa nyaman."


Tangan Azka mengusap punggung tangan Unni lalu ia memejamkan matanya, berharap semuanya akan segera berlalu dengan sangat cepat.


"Jika kepala ini pecah, kemana lagi mencari duplicatnya?"


"Huh, duplicatnya akan aku musnahkan jika ada. Hanya aku saja yang boleh menjadi pemiliknya."


"Eh!"


Terus menerus berbicara yang ia kira dirinya sendiri, tanpa sadar jika Unni juga ikut berbicara kepadanya. Ketika menyadarinya, Azka menegakkan kepalanya dan wajahnya pada arah sumber suara.


"Sayang! Sayang, kamu!"


Azka tidak percaya dengan apa yang ia lihat saat ini, orang yang ia tunggu untuk membuka mata. Dan kini, keinginannya terkabulkan.


"Jangan suka Marah-marah, hubby. Kasihan dokter Mark." Unni menahan senyumnya.


Tidak bisa menahan rasa bahagianya itu, membuat Azka lupa akan kondisi sang istri. Ia memeluk Unni dengan sangat erat, hingga membuat wanita itu merasa sesak.


"Hu hubby, sesak."


"Maafkan aku sayang, akhirnya kamu sudah sadar. Tapi tunggu dulu, jangan bilang kalau kamu tadi melihatnya?" Azka merasa jika dirinya sungguh larut dalam emosi.


Menganggukkan kepala sebagai jawabannya, dimana Unni menyaksikan aksi Azka yang marah kepada kedua dokter tersebut. Yang dimana Mark jadi tersangka utamanya untuk mendapatkan amukan dari Azka.

__ADS_1


"Maaf sayang, kamu menjadi seperti ini." Azka sangat merasa bersalah.


"Semuanya ini sudah menjadi takdir Allah untukku, hubby jangan merasa bersalah seperti ini. Oh ya, baby?" Menanyakan keberadaan sang buah hatinya.


"Aku sampai lupa, iya sayang. Baby sudah lahir, dia masih harus berada di dalam inkubator untuk waktu yang tidak bisa ditentukan. Tapi, dia cukup aktif." Azka menceritakan mengenai kondisi baby nya dengan semangat sekali.


"Aku mau melihatnya, boleh?" Keinginan Unni dilandasi oleh kerinduan dan juga ketakutannya.


Ia sangat takut jika baby nya mengalami sesuatu, karena itu ia ingin segera melihatnya. Walaupun dengan kondisi yang masih begitu lemah.


"Tapi sayang, kamu baru saja sadar. Kita ...."


"Aku kuat, hubby. Boleh ya?" Dengan penuh harapan, Unni ingin Azka mengabulkan permintaannya.


Melihat wajah Unni yang begitu rindu, namun Azka tidak ingin bersikap egois dengan keadaan yang ada. Membuat benteng itu akhirnya runtuh, dengan perlahan Azka mengusap punggung tangan mungil itu.


Menggunakan kursi roda yang Azka sendiri mendorongnya. Melewati lorong demi lorong yang berakhir pada sebuah ruangan berdinding kaca tebal, sebelumnya Azka mengkonfirmasi pada Sovia jika Unni ingin melihat bayinya.


Perlahan tirai penutup kaca jendela tebal terbuka, memperlihatkan seorang baby mungil yang sedang mengeliat dengan cukup keras. Tidak banyak alat medis yang digunakannya, karena kondisi baby memang dipastikan cukup kuat.


"Kamu ingin mengendongnya?" Sovia hadir dihadapan kedua pasangan suami istri tersebut.


"Apakah boleh dok?" Ucap Unni dengan lirih.


"Tentu saja boleh, anak kalian cukup kuat. Ayo masuk." Sovia berjalan memasuki ruangan.


Keduanya saling bertatapan satu sama lain, rasa kebahagian itu semakin besar. Azka mendorong kursi roda Unni memasuki ruangan sang baby, yang membuat detak jantung kedua sudah tidak karuan.


Menggunakan baju khusus untuk ruangan tersebut, perlahan Sovia memindahkan tubuh kecil itu dan memberikannya kepada Unni.


"Ini ini baby?" Lirih Unni menatap sang buah hati.

__ADS_1


Azka ikut duduk disamping Unni, merapatkan tubuhnya untuk bisa melihat dan menyentuh baby. Ketika berada di dalam dekapan sangat mommy, baby pun semakin mengeliat dan menanggis.


"Oek oek..."


"Sudah waktunya kamu mulai menyusuihya." Ujar Sovia.


"Ta tapi dok, aku rasa asiku belum keluar." Ada rasa keraguan Unnj untuk melakukannya.


"Apa tidak menggunakan susu formula saja?" Azka ikut menimpali, karena ia juga takut jika hal tersebut membuat Unni semakin ragu.


"Setiap ibu dan anak, mempunyai ikatan batin yang cukup kuat, salah satunya dalam proses menyusui. Secara alami, gerakan bibir dari baby. Memberikan stimulasi untuk asi mengalir, maka dari itu. Kita coba ya."


Nampak keraguan pada Unni, ia menatap wajah suaminya yang seperti isyarat meminta persetujuan. Lalu Azka menganggukan kepalanya, dimana mereka juga tidak tega melihat sang buah yang menanggis.


"Ayo, sepertinya dia sudah sangat lapar." Sovia kembali membantu Unni untuk memposisikan tubuhnya.


Dalam posisi yang sudah baik, Unni mulai memberikan hak sang baby. Awalnya ia terlihat sedang mencari keberadaan sumber makanannya, setelah beberapa saat. Ia mendapatkannya, dan pada awal baby menikmatinya.


"Arkh!" Unni meringgis dan menggenggam tangan Azka.


"Sayang, kenapa?" Azka yang kaget menjadi panik.


"Sa sakit!" Unni meringgis pelan.


"Sovia!" Azka memberikan tatapan tajamnya kepada dokter yang malah tersenyum.


"Tenang dan rilek, bagaimana?" Sovia sedikit memberikan pijatan pada punggung Unni.


Tiba-tiba saja Unni merasakan jika ada sesuatu yang mengalir dari bagian satunya, basah!


"Masyaa Allah, hubby!" Unni menatap Azka dengan raut wajah yang sangat bahagia.

__ADS_1


Bingung dengan apa yang dimaksud oleh istrinya, Azka menaikan salah satu alis matanya. Ia pun menatap Sovia, meminta penjelasan.


"Heh! Dasar manusia batu, tidak peka." Sovia begitu malas untuk menjelaskannya pada Azka, ia membiarkan pria itu pusing mencari jawaban.


__ADS_2