My Boss, Is My Husband

My Boss, Is My Husband
Ungkapan Yang Menyakitkan


__ADS_3

Acara makan malam itu berlangsung sedikit hening. Hinga...!


"Sebenarnya.."


"Sebenarnya.."


Imbuh mereka di waktu yang bersamaan.


Hanna terkekeh. " Kau duluan saja." Hanna mempersilahkan.


Rey menunduk dalam.


"Mama sudah menentukan tanggal pertunanganan ku dengan Lara." Ucap Rey akhirnya.


Hanna langsung terdiam ditempat.


"Aku sudah menolaknya, tapi Mama bersikeras. Dia sudah terlanjur mengatur perjodohan itu sebelum tahu kau kembali. Dan Mama tidak dapat membatalkannya lagi." Imbuh Rey dengan raut wajah menyesal.


Hanna masih saja terdiam. Memperhatikan Rey yang tampak serba salah disana.


Rey mendongakkan wajahnya, menatap Hanna yang tak berkomentar sama sekali. Dan tetap diam seribu bahasa.


Lalu, tiba tiba saja ia tertawa. Tawa yang canggung.


"Lalu apa masalahnya? Apa yang membuatmu tampak begitu tak besemangat. Lakukan saja, permintaan Mamamu." Hanna, bersikap seolah ia mendukung keputusan Tante Lalita.

__ADS_1


Rey mengernyitkan keningnya. "Lalu kau?"


"Memangnya kenapa denganku?" Tanya Hanna pura pura bodoh.


"Bukankah kita..."


"Kita berteman, apa salahnya? Bahkan aku akan menghadiri pernikahanmu jika kau undang." Hanna bersandiwara.


"Apa? Teman?"


"Lantas? Apa kau pikir aku berniat balikan denganmu?" Hanna kembali terkekeh. "Kau terlalu berharap, memangnya kapan aku berkata kita bisa seperti dulu lagi. Hubungan kita hanya dimasa lalu, sedangkan kedepannya. Hanya milik masing masing." Hanna, masih mencoba mengontrol perasaannya sekuat tenanga. Tidak ingin air matanya jatuh di hadapan Rey saat ini.


"Mungkin kau sudah salah paham selama ini, biar aku perjelas. Aku, sama sekali tak memiliki perasaan apapun lagi padamu. Jadi, silahkan jalani kehidupanmu, pun begitu denganku."


Sedangkan Rey hanya terdiam, ia pikir Hanna sudah mulai bisa kembali menerima dirinya, terlepas dari perjodohan itu, ia pikir ia akan bisa kembali seperti dulu dengan Hanna.


Meninggalkan Rey yang masih terdiam seribu bahasa. Rey, masih ditempat semula. Memikirkan kembali ucapan Hanna!


Itu cukup menyakitkan, ketika Hanna mengakui tak lagi mencintainya dan berharap mereka menjalani kehidupan masing masing. Jelas bukan itu yang diinginkan Rey.


Andai saja, yang keluar dari mulut Hanna adalah .. Memintanya untuk membatalkan perjodohan itu dan meminta mereka seperti dulu, Rey berjanji akan melakukannya dan akan membatalkan perjodohan itu apapun yang terjadi asalkan Hanna memintanya. Rey hanya ingin mendengar pengakuan dari Hanna.


Hanna kembali kemobil, lalu menangis sejadi jadinya. Ia baru saja bahagia dengan apa yang terjadi dalam hidup, atas kembalinya Rey dan hari hari yang ia lalui bersama pria yang ia cintai itu, tapi..!


"Tuhan.. Kau kejam sekali padaku!" Lirih Hanna.

__ADS_1


Rey menghamburkan semua yang ada di atas meja makan, lilin, piring yang berisi makanan dan gelas yang berisi anggur.


Ia terus saja terbayang senyuman Hanna yang bisa dengan begitu mudah merelakannya dengan wanita lain. Mengapa? Mengapa Hanna tetap tak bisa mencintainya?


*


Hanna kembali ke apartemen, menangis dalam diam. Sakitnya, tak ada tempat untuk mengadu.


Ia terlelap dalam isakannya.


Dan saat terbangun keesokan harinya, ia harus kembali bersandiwara bahwa ia baik baik saja di hadapan Rey.


Hanna sudah bersiap memulai harinya, ia tetap harus bekerja seperti biasa. Atau Rey akan curiga.


Hanna berangkat ke kantor seperti biasa.


"Pagi, bu Hanna." Sapa sekretaris Rey.


"Pagi.." Balas Hanna, lengkap dengan senyumannya. Saat masuk kedalam ruangan itu, ternyata Rey belum datang. Meja kerjanya masih kosong.


*


Rey baru datang ke kantor disaat Hanna akan keluar untuk makan siang. Mereka berdua berpas pasan di pintu lift.


"Mau ikut denganku untuk pergi makan siang?" Tawar Hanna.

__ADS_1


"Tidak, terimakasih." Rey, bahkan tak menoleh ke arah Hanna. Ia terus saja berjalan melewati Hanna.


Next >>>


__ADS_2