My Boss, Is My Husband

My Boss, Is My Husband
Sering Kali Diabaikan


__ADS_3

"Berapa lama kau disini?" Tanya Hanna lagi.


"Kurang lebih dua minggu."


"Yayank juga ikut kesini?" Hanna, tampak tak puas puas bertanya.


"Tidak, dia sibuk. Tidak bisa ikut kesini."


"Apa sudah selesai introgasinya? Sekarang, boleh kami bekerja?" Rey, menengah.


Hanna langsung memanyunkan bibirnya. Lalu bangkit dari tempat ia duduk, menuju ke balik meja kerjanya. Meninggalkan Rey dan Raffael, mereka sedang duduk di sofa yang berada di tengah tengah ruangan itu.


Hanna memilih menyibukkan diri dengan ponselnya, sedangkan Rey dan Raffael langsung membahas tentang pekerjaan yang akan mereka kerjakan selama dua minggu ini.


"Jika sudah final, kita bisa langsung adakan rapat." Ujar Rey. Lalu menutup berkas yang ada ditangannya.


"Bagaimana dengan model modelnya?" Tanya Raffael.


"Kita rekut yang baru saja. Dan untuk busananya, juga kita pilih ulang saja."


"Bailah, kalau begitu aku akan minta sekretarisku untuk mengirimkan contoh busana yang sudah kami siapkan sebelumnya.


"Baik, berarti seperti itu saja untuk hari ini."


"Kalian sudah selesai?" Hanna, langsung menyela pembicaraan kedua pria itu. "Sudah waktunya makan siang, sebaiknya kita makan siang bersama." Ajaknya, lalu langsung mendahului beranjak dari ruangan itu.


"Kenapa dia tampak begitu semangat?" Tanya Raffael, pada Rey.


Rey hanya menaikkan kedua bahunya, lalu terkekeh.

__ADS_1


*


Kedua pria itu, akhirnya berjalan mengikuti langkah Hanna yang akan menuju ke kantin perusahaan. Sampai akhirnya, langkah mereka terhenti, ketika Hanna yang tadinya sedang menelpon dengan Shasya menghentikan langkahnya.


"Kau kenapa?" Rey langsung mendekati Hanna dan memegang lengannya, ketika Hanna semakin meringkuk.


"Sepertinya aku datang bulan." Bisik Hanna.


Rey langsung menoleh ke arah Raffael yang masih berdiri tak jauh dari Hanna dan Rey.


"Sepertinya kau harus makan siang sendiri, aku harus bawa pulang Hanna sekarang."


Raffael baru melangkah mendekati keduanya.


"Apa Hanna baik baik saja?" Tampak raut khawatirnya.


Hanna menoleh, lalu memaksakan senyuman ke arah Raffael."Hanya masalah wanita." Imbuhnya.


Ia hanya memandang ke arah keduanya yang sudah berlalu pergi dan keluar dari perusahaan.


*


"Apa rasanya masih sesakit dulu?" Tanya Rey, dengan wajah paniknya. Pada Hanna yang kini sedang duduk sambil merebahkan sandaran jok mobil. Sedangkan wajah Hanna sudah dibasahi dengan keringat dingin.


Hanna mengangguk pelan, sambil mengigit bibir bawahnya untuk menahan sakit di area perutnya.


"Apa kita kerumah sakit saja?" Usul Rey.


Hanna menggeleng, "Tidak perlu, setelah istirahat rasa sakitnya akan berkurang." Lirihnya.

__ADS_1


"Kau yakin?" Rey memastikan, lalu mengusap puncak kepala Hanna.


"Emp.." Hanna kembali memejamkan matanya. Sakit saat haid itu memang akan selalu mengganggu harinya. Tapi kali ini, entah mengapa rasanya lebih sakit dari biasanya.


*


Raffael, kembali ke hotel. Lalu meletakkan sebuah kotak di atas meja.


Kotak berisi hadiah, yang sudah ia siapkan untuk ulang tahun Hanna.


Entah mengapa, setiap kali ia berniat memberikan sesuatu untuk Hanna, selalu saja gagal. Kotak dengan berukuran sedang itu terbalut manis dengan warna kesukaan Hanna, peach lembut.


Raffael, merogoh ponselnya. Lalu menerima panggilan dari Yayank.


"Kau sudah sampai?" Tanya Yayank dari seberang telpon sana.


"Emm..! Sudah." Jawab Raffael singkat.


"Kenapa tak beritahu aku?" Yayank kembali bertanya.


Raffael memijat pelan keningnya.


"Maaf, setelah sampai aku langsung menuju perusahaan. Jadi lupa menghubungi mu." Imbuh Raffael, menyesal.


Bukan karena disengaja, Raffael memang sering kali lupa, jika sekarang ia sudah punya istri yang berkewajiban tahu dengan aktivitasnya.


"Kau sudah makan?" Yayank kembali bertanya. Jika hanya menunggu dari Raffael, sudah pasti tidak akan ada pertanyaan apa pun.


"Nanti aku hubungi lagi, aku akan mandi dulu sekarang."

__ADS_1


"Baiklah.." Yayank, langsung mematikan panggilan itu.


Next >>>


__ADS_2