
Hanna berbaring di tempat tidur, sedangkan Rey juga ikut berbaring disamping Hanna sambil mengusap pelan perut Hanna.
"Sebaikanya kau makan saja dulu, bukankah kau belum makan siang." Imbuh Hanna kemudian.
"Lalu kau sendiri bagaimana? Bukankah kau juga belum makan." Balas Rey.
"Aku tidur dulu, setelah bangun nanti baru makan."
"Tidak! kau makan dulu baru tidur. Sebentar, aku siapkan makan siang. Tidak akan lama." Rey langsung bangkit dari tempat tidur. Lalu bergegas menuju dapur, menyiapkan makan siang untuk mereka berdua.
Benar seperti katanya, 'Tidak akan lama.' Rey kembali masuk kedalam kamar dengan semangkuk sup ditangannya.
Setelah meletakkan Sup itu di atas nakas, Rey menuntun Hanna untuk duduk di tempat tidur sambil bersandar di kepala tempat tidur. "Biar aku suap." Imbuhnya, lalu kembali meraih mangkuk sup. Dan bersiap untuk menyuapi Hanna.
"Setelah makan, kau kembali ke perusahaan saja. Bukankah ada Meeting penting." Ucap Hanna, setelah menerima suapan dari Rey.
__ADS_1
"Meetingnya sudah aku batalkan." Sahut Rey, setelah itu kembali menyuapi Hanna.
"Kenapa dibatalkan, bukankah rapat ini penting."
"Kau lebih penting!" Sambil mengecup kening Hanna.
Raut wajah serius Hanna, langsung berubah tersipu.
*
Raffael mengusap kasar wajahnya, ia sendiri kesal dengan perasaannya itu. Mengapa ia harus selalu mengkhawatirkan Hanna. Jelas jelas ada Rey disampingnya, yang pasti akan merawat Hanna dengan baik. Ia tahu jelas, seperti apa Rey kini cinta pada Hanna.
Raffael pikir, selama ini ia sudah melupakan Hanna. Dan telah berhasil menguburkan perasaannya dalam dalam. Nyatanya ia salah besar, perasaannya masih sama persis seperti dulu. Sakit di hatinya masih sama seperti saat dulu ia melihat tangan Rey merangkul dan menyentuh Hanna.
"Rafa! Kau benar benar gila! Dulu kau bisa saja mencintai Hanna karena tidak tahu kalau dia itu istri orang lain. Tapi sekarang, kau tahu dengan jelas. Bagaimana bisa perasaan itu bahkan tak berkurang sedikitpun!" Batin Raffael.
__ADS_1
*
Yayank, kembali meletakkan ponselnya di atas meja kerjanya. Selalu, sikap dingin yang ditunjukkan Raffael menimbulkan sedikit luka dihatinya.
"Hufftt... Bersabar sebentar lagi Yayank, kau pasti bisa. Kau yang sangat menginginkan pernikahan ini bukan? Dan sekarang, kau sudah mendapatkannya. Raffael memang sejak dulu seperti ini!" Yayank, mencoba untuk meyakinkan dirinya, kembali menyemangati diri sendiri. Terkadang, ia juga bersikap acuh bukan karena tak perduli. Hanya saja ia tak ingin sikap terlalu perdulinya membuat Raffael menjadi sesak dan akhirnya semakin menjauh. Selama ini, bukankah ia bisa sampai berhasil mendapatkan Raffael, karena sikapnya yang tak terlalu mengekang Raffael. Ia bersikap tak perduli, padahal sangat perduli. Bersikap tak mengemis cinta, padahal sangat butuh itu dari Raffael.
"Bu, ada tamu yang ingin bertemu dengan Anda." Imbuh bawahan Yayank.
"Suruh masuk." Ujar Yayank, lalu bersiap untuk menerima tamu tersebut. Ya, hal yang paling tepat untuk menenangkan pikirannya adalah dengan menyibukkan diri.
*
Rey yang sedang menemani Hanna, justru tertidur dengan tangan yang masih berada di atas perut Hanna. Setelah makan siang, Rey kembali memilih berbaring disamping Hanna dan kembali mengusap perut Hanna. Berharap Hanna bisa tidur, dan rasa sakit di perutnya bisa berkurang. Tapi yang terjadi, justru Rey yang tertidur pulas.
Hanna perlahan mengangkat tangan Rey, meletakkannya di atas tempat tidur. Setelahnya ia bangun dan pergi ke kamar mandi dengan tertatih tatih. Entah mengapa, rasa sakit itu semakin menjadi jadi. Hanna, mengganti pembalut yang sudah penuh.
__ADS_1
Next >>>