My Boss, Is My Husband

My Boss, Is My Husband
Menghamili Istri Sendiri


__ADS_3

Hanna, langsung menyibukkan diri di lokasi pemotretan. Walaupun kondisi tubuhnya sedang tidak fit. Sudah diputuskan, Hanna akan terus menjalani hidup. Walau apapun yang akan terjadi. Lalu, tentang kehamilannya? Ia juga akan mencari tahu siapa Ayah dari bayinya.


"Bukankah sudah aku katakan, kau sebaiknya istirahat saja." Rey, menghampiri Hanna lalu mengambil alih barang-barang bawaan Hanna.


"Aku sudah lebih baik. Lagi pula aku datang kesini untuk bekerja, bukan untuk istirahat." Hanna bersikeras. Lalu terpaksa hanya bisa mengikuti langkah Rey.


"Aku hanya tidak ingin kau pingsan di lokasi pemotretan dan menghambat pekerjaan orang lain." Imbuh Rey, kata-kanyanya memang selalu tampak pedas, walau sebenarnya bukan seperti itu maksudnya yang sebenarnya.


"Kau tenang saja. Aku pastikan itu tidak akan terjadi!" Pungkas Hanna sedikit kesal.


*


Dan benar saja, akhirnya pemotretan tak berjalan lancar. Bukan karena Hanna, melainkan Myesa!


"Pak Rey, aku sudah mengarahkannya. Tapi tetap saja, posenya terlalu kaku." Protes sang fotografer.


"Hee.. Kau malah menyalahkanku? Kau sendiri yang tidak bisa mengambil foto dengan bagus!" Pekik Myesa tak terima disalahkan.


Rey, menyibak rambutnya geram. Diantara keduanya, Myesa dan fotografer itu. Tak ada yang mau mengalah.


"Sudah! Sudah! Kita istirahat dulu 30 menit." Ujar Rey akhirnya.


Myesa langsung menghampiri Rey. "Sayang, kau lihat sendirikan. Fotografer itu yang tidak profesional!" Rengek Myesa.


"Iya iya, kau istirahat saja dulu. Aku ada urusan mendesak." Imbuh Rey. Sedangkan tatapannya sibuk mencari sosok Hanna. Iya baru sadar, Hanna menghilang entah kemana disela-sela pemotretan.


Rey, meninggalkan lokasi pemotretan. "Kemana menghilangnya gadis itu? Apa dia pingsan disuatu tempat!" Gumam Rey sambil terus mencoba menghubungi nomor kontak Hanna.


"Hallo.." Jawab Hanna dari seberang telpon sana.


Mendengar Hanna mengangkat panggilan telponnya, membuat Rey menghela nafas lega.


"Kau dimana?" Tanya Rey langsung.


"Aku sedang memesan makan siang untuk para krue. Apa kau butuh sesuatu?" Hanna balik bertanya.


"Permisi Pak Rey, apa Anda melihat Hanna?" Tanya salah seorang krue yang tiba-tiba saja menghampiri Rey.


"Kau perlu Hanna untuk apa?" Rey memastikan.

__ADS_1


"Pak Anthony meminta untuk mengantarkan salinan kontrak ke kamarnya." Ujar gadis itu.


"Biar aku yang antarkan." Imbuh Rey.


"Baik Pak, kalau begitu aku permisi." Gadis itu langsung mengambil langkah dan bergegas pergi.


Rey kembali mendekatkan ponsel ke telinganya.


"Dimana kau letakkan salinan kontraknya?" Tanya Rey pada Hanna yang masih belum mematikan panggilan itu.


"Di atas nakas samping tempat tidurku." Ujar Hanna.


Setelahnya, Rey langsung mematikan panggilan itu. Dan berlengang menuju kamar Hanna.


Sedangkan disana, Hanna tersadar setelah panggilan telpon itu dimatikan. "Désolé, veuillez livrer cette nourriture à cette adresse." (Maaf, tolong antarkan makanan ini ke alamat ini.)  Imbuh Hanna, sambil mencatat alamat Hotel diselembar notes.


"Bien sûr." (Tentu.) Jawab si pelayan restoran.


Setelahnya Hanna langsung bergegas dengan tergesa-gesa, menuju ke kamar hotelnya.


"Tidak, Rey tidak boleh sampai melihat itu. Hannaaa... Kau sangat ceroboh." Sambil memukul pelan kepalanya, Hanna mengemudi kembali menuju ke Hotel yang berjarak tak terlalu jauh dari tempat ia berada.


*


Setelah mengambil salinan kontrak itu, Rey yang tadinya sudah berbalik dan hendak meninggalkan kamar itu. Kembali menoleh ke arah nakas.


Dengan kening yang berkerut, Rey meraih benda yang cukup menarik perhatiannya. Rey terbelalak, melihat testpack dengan dua garis merah itu.


"Ambil yang kau perlu saja." Hanna langsung meraih testpack itu dari tangan Rey, lalu menyembunyikan testpack itu didalam genggamannya.


Hanna begitu malu, dengan dada yang sudah kembang kepis. Padahal ia ingin merahasiakan kehamilannya itu, tapi kini Rey justru sudah mengetahuinya.


Sedangkan Rey, hanya terbujur kaku di tempat ia berdiri. Ia tak menyangka, kejadian malam itu bisa sampai membuat Hanna hamil.


"Biar aku saja yang antarkan salinan kontrak ini." Hanna meraih salinan kontrak itu dari tangan Rey. Setelah beberapa langkah, ia kembali berbalik. Menghadap ke arah Rey yang masih mematung ditempat ia berdiri. "Anggap saja kau tidak melihatnya, dan tolong rahasiakan ini. Aku mohon." Pinta Hanna, setelah itu langsung berlalu pergi.


"Sial! Sial! Sial!" Pekik Hanna sambil terus berjalan menyusuri koridor hotel menuju kamar Anthony.


Rey, langsung merogoh ponsel dari kantong celananya.

__ADS_1


"Ma, dia hamil! Aku harus bagaimana?" Tanya Rey langsung, ketika Mamanya mengangkat panggilan telpon itu.


Tante Lalita, langsung terperanjat dari duduknya.


"Apa katamu? Siapa yang sudah kau hamili Rey?" Pekik Tante Lalita shock.


"Hanna!" Jawabnya datar.


Seketika, Tante Lalita langsung tertawa terbahak. "Lalu apa masalahnya? Ya wajar saja jika kau menghamili istrimu sendiri!" Imbuh Tante Lalita yang masih belum bisa berhenti terkekeh dan kembali duduk ke tempat semula.


"Tapi masalahnya, Ma-" Ucap Rey terputus.


"Masalah? Apa ada masalah? Apa masalahnya?" Tanya Tante Lalita sedikit bingung.


"Hanna tidak tahu, jika itu anak Rey." Imbuh Rey sambil mengusap wajahnya kasar. Lalu duduk dipinggir tempat tidur.


"Apa?" Tante Lalita kembali tercengang. Bisa bisanya ada kejadian seperti itu.


"Rey harus bagaimana sekarang?" Rey meminta pendapat Mamanya. Tentu, disaat seperti ini Rey benar-benar butuh pendapat. Terlebih pendapat dari orang yang paling terpercaya.


"Kau hanya perlu mengakuinya saja." Imbuh Tante Lalita sambil mengernyitkan keningnya.


"Masalahnya tidak sesimpel itu, Ma." Rey kembali menghela nafas dalam. "Akan Rey ceritakan nanti. Sepertinya Rey akan butuh bantuan Mama untuk bicara dengan Hanna nanti." Imbuh Rey. Setelah itu mematikan panggilan telpon itu.


Ya, Rey takut Hanna salah paham dan menganggapnya sudah mengambil kesempatan atas ketidaksadarannya waktu itu. Apa lagi sampai membuat Hanna hamil. Hanna pasti akan marah besar!


Rey yang awalnya ingin jujur, dan mengakui kesalahannya. Kini dibuat kembali menciut. Karena kenyataannya, apa yang sudah ia perbuat benar-benar sudah merugikan Hanna. Walaupun malam itu lebih tepatnya, Hanna yang sudah memaksa dirinya untuk melakukan itu. Tapi, Hanna pasti tidak akan mengerti walaupun Rey menjelaskannya.


"Huftt... Hanna, aku benar-benar minta maaf." Imbuh Rey, sambil kembali mengusap wajahnya kasar. Setelahnya, ia keluar dari kamar itu. Kembali menuju lokasi pemotretan.


Kembali, ia mencari keberadaan Hanna yang juga tak berada disana. "Kenapa Anak itu selalu menghilang." Gumam Rey.


"Apa kau melihat Hanna?" Tanyanya pada salah seorang krue.


"Hanna tadi mengantarkan salinan kontrak ke kamar Pak Anthony." Jawab salah seorang krue lainnya.


"Dia belum kembali dari tadi?" Bisik seorang gadis pada krue yang barusan menjawab pertanyaan Rey. Krue itu hanya menggeleng, untuk menjawab pertanyaan gadis itu.


Filling Rey langsung berkata lain. Ia langsung mengambil langkah menuju kamar Anthony.

__ADS_1


Next >>>


__ADS_2