
Hanna terus saja bersandiwara, menunjukkan bahwa ia baik baik saja di hadapan Rey.
Walaupun Rey kini tampak cuek dan sering mengacuhkannya.
Hari pertunanganan itu semakin dekat.
Tante Lalita sudah mempersiapkan semuanya.
Raffael, langsung menghubungi Rey ketika tahu kabar itu.
"Bagaimana dengan Hanna?" Tanya Raffael, karna ia tahu betul, Hanna mencintai Rey.
"Di bahkan mendukung keputusan Mama itu." Sarkas Rey, tampak patah semangat.
"Tidak mungkin.." Imbuh Raffael, tapi ia tak bisa banyak berkomentar tentang hal ini. Ia hanya orang luar, yang suaranya tak akan berpengaruh apa apa.
"Jadi kau akan melakukannya?" Raffael memastikan.
"Entahlah...!" Rey mengusap kasar wajahnya.
*
Dan hari itupun tiba. Hanna datang menghadiri sesuai dengan undangan yang diberikan Rey.
__ADS_1
"Kau baik baik saja?" Tanya Raffael, yang justru tampak mengkhawatirkan Hanna.
"Tentu saja, mungkin ini akhir dari kisah kami." Imbuhnya tampak tabah.
Tante Lalita terkejut melihat Hanna menghadiri acara itu.
Acaranya pun akan segera dimulai.
Mc memandu acara, lalu mempersilahkan Rey dan Lara kedepan dan menempati tempat yang sudah di sediakan.
Lara, tampak cantik mengenakan gaun pink soft dan mahkota simpel yang menghiasi kepalanya.
Hingga waktunya pemakaian cincin. Tatapan Rey tak dapat teralihkan dari Hanna yang terus saja tersenyum ke arahnya dari tempat ia duduk.
Lara sudah bersiap untuk memakaikan cincin ke jari manis Rey, tapi Rey justru termenung di tempatnya berdiri.
"Maaf, Lara." Imbuh Rey akhirnya, lalu beranjak dari sana. Itu menghebohkan semua orang yang ada di dalam ruangan itu. Disaat Rey meninggalkan Lara disana dan berjalan menuju ke arah Hanna.
Rey meraih tangan Hanna yang tampak bingung di tempat duduknya. Lalu memeluk Hanna erat. "Menikahlah denganku, Hanna." Lirihnya, dan mengejutkan semua orang. Kecuali Om Surya, yang justru tersenyum di tempat ia duduk.
"Rey, apa yang kau lakukan?" Hanna mencoba melepaskan pelukan itu, karena saat ini mereka sedang menjadi pusat perhatian.
"Aku bisa memilih siapapun untuk menjadi istriku, tetapi anakku tidak bisa. Mereka tidak bisa memilih siapa ibu mereka. Maka dari itu, aku harus memilihkan mereka ibu yang terbaik." Imbuhnya, lalu melepaskan pelukannya dengan tangan masih mengenggam kedua pergelangan Hanna.
__ADS_1
"Aku mohon, menikahlah denganku." Pinta Rey untuk kedua kalinya.
Lara, benar benar merasa di permalukan. Pun begitu dengan kedua orang tuanya. Mereka meninggalkan ruangan itu seketika, setelah Rey justru dengan terang terangan melamar wanita lain dihadapan semua orang.
Sedangkan Tante Lalita, langsung terduduk lemas tak berdaya.
Senyuman langsung mereka di wajah Hanna. Jika Rey bisa seberani itu untuk mengungkapkan perasaannya, lalu mengapa ia juga tidak melakukannya.
"Emp.." Hanna mengangguk semangat. Menyetujui lamaran Rey.
Anggukan itu akhirnya membuat senyuman di wajah Rey merekah. Pesta pertunanganan antara Rey dan Lara, akhirnya berubah menjadi acara lamaran Rey dan Hanna.
Tepuk tangan paling heboh dilakukan oleh Raffael. Yang bersyukur akhirnya mereka berdua bisa bersatu.
*
Dan kini, keduanya sedang duduk tertunduk di hadapan Tante Lalita.
"Puas kalian sudah mempermalukan Mama?" Imbuhnya.
"Maaf, Ma." Lirih Rey. Ia tak bermaksud, tapi ia juga tidak mungkin mengorbankan masa depannya.
Tante Lalita menghela nafas dalam. "Baiklah jika itu memang maumu, dan sudah menjadi keuputusanmu." Tante Lalita beranjak dari duduknya. "Menikahlah akhir bulan ini, karena gedung sudah dipesan." Imbuhnya, setelahnya berlalu pergi.
__ADS_1
Hanna dan Rey langsung mendongakkan wajahnya, melihat Tante Lalita yang sudah berlalu pergi. Dan Om Surya terkekeh di sudut ruangan sana sambil mengacungkan jempol ke arah mereka.
Next >>>