My Boss, Is My Husband

My Boss, Is My Husband
Pemandangan Yang Indah


__ADS_3

"Permisi sebentar." Imbuh Rey, yang langsung meraih pergelangan Hanna dan membawanya menjauh dari keramaian.


"Apa-apaan ini?" Tanya Rey, pada Hanna yang padahal sudah jelas-jelas menolak dengan keras untuk menghadiri acara itu. Tapi sekarang, ia justru datang lebih dulu dari pada Rey.


"Seharusnya kau tanyakan pada Mama mu! Dia memaksa ku untuk datang." Keluh Hanna. Benar, ia menghadiri acara itu dengan sangat terpaksa.


"Mama?" Imbuh Rey bingung.


"Iya, dia datang menemui ku tadi pagi!" Ujar Hanna sambil mengedarkan pandangannya. Untuk berjaga-jaga barang kali saja ada orang di sekitaran mereka, dan mendengar percakapan rahasia itu.


Rey kini mengerti, mengapa sikap Hanna tiba-tiba saja jadi berubah tadi pagi.


"Lalu kenapa kau justru setuju, dan tidak menolak!" Ujar Rey.


"Kau pikir aku tidak melakukannya. Aku bahkan sudah menolak dengan keras. Tapi lihat, aku tetap berakhir disini sekarang." Imbuh Hanna, diiringi dengan helaan nafasnya.


Sebenarnya Hanna sudah menolak permintaan itu. Dan meminta maaf sebesar-besarnya karena kali ini ia tak bisa membantu sama sekali. Namun Tante Lalita tetap tak menyerah. Membuat Hanna tak punya pilihan dan juga tak enak pada wanita paruh baya itu jika terus membuat ia harus terus memohon.


"Aku minta maaf, lagi-lagi harus menyeret mu dalam masalah ini." Sesal Rey.


"Sudahlah, lagi pula ini juga sudah terlanjur." Imbuh Hanna, setelah itu berlalu pergi. "Keluarga mu benar-benar besar." Gumam Hanna sambil terus berjalan, lalu berbaur dengan beberapa anggota keluarga Rey, yang disana juga sudah ada Tante Lalita.


Keluarga besar itu terdiri dari keluarga paling dekat, hingga paling jauh. Semuanya diwajibkan hadir tak terkecuali. Itu memang sudah menjadi tradisi nenek moyang Rey.


Sialnya, semuanya menyukai Hanna. Dan kerap kali memuji kecantikan dan keramahan Hanna. Membuat Tante Lalita semakin bangga memperkenalkan Hanna sebagai menantunya ke halayak.


Acara makan malam itu berjalan sempurna, diiringi obrolan hangat dan pembahasan yang cukup menarik. Hanna bahkan tak sadar, dirinya benar-benar menikmati kehangatan keluarga besar Rey. Yang tampak sangat menerima kehadiran Hanna ditengah-tengah mereka. Hanna bahkan sama sekali tak canggung menanggapi setiap obrolan dan pembahasan mereka.


*


"Apa istri mu operasi plastik? Sepertinya aku perhatikan dia berbeda dari yang aku lihat dulu." Imbuh salah satu sepupu Rey. Satu-satunya orang yang tak pernah akur dengan Rey. Dan sepertinya ia menyadari perbedaan antara Myesa dan Hanna.


"Bukan urusan mu!" Ucap Rey, setelah itu memilih untuk menghindarinya. Rey akan terpancing emosinya jika meladeni, Make.


Make, hanya terkekeh mendapati Rey tetap mengacuhkannya seperti biasa.


Rey, bergabung dengan Papa dan beberapa yang lainnya. Memilih menyibukkan diri membahas tentang bisnis.


Sedangkan Make, masih terus memperhatikan Hanna sedari tadi. Gadis itu benar-benar menarik perhatiannya.

__ADS_1


Make berjalan ke arah Hanna setelah meraih segelas Anggur. Setelahnya, mengajak Hanna untuk mengobrol. Ia ingin memastikan kecurigaannya benar atau tidak.


"Hai.." Sapanya.


"Hai.." Balas Hanna ramah.


"Anggur..?" Tawar Make, sambil menyodorkan gelas Anggur itu ke arah Hanna.


"Tidak, terimakasih." Tolak Hanna.


"Sebelumnya, selamat atas pernikahan kalian." Ujar Make kemudian.


Hanna hanya menanggapinya dengan senyuman. Kini, hanya tinggal mereka berdua ditempat Hanna berdiri tadi.


"Jadi kalian sudah berpacaran lama?" Tanya Make langsung ke intinya. Ia penasaran apa jawaban Hanna.


"Emm..." Hanna sedikit gugup mendapati pertanyaan seperti itu. Ia takut salah menjawab. Karena sebelumnya, ia dan Rey sama sekali tidak breafing tentang itu.


"Emm ?" Make mengernyitkan keningnya. "Jadi, maksudmu sudah lama?" Tanya Make lagi, seakan sedikit mendesak atas jawaban yang pasti dari Hanna. "Karena kalau tidak salah, sebulan yang lalu aku melihat Rey dengan wanita yang berbeda. Apa-"


"Maaf, aku harus ke toilet sekarang. Permisi!" Sela Hanna cepat. Sepertinya, Makea tipe orang yang harus di hindari Hanna.


Namun saat akan mengambil langkah, dan berbalik arah dari tempat ia berdiri. Tanpa sengaja Hanna bertabrakan dengan seorang pelayan, karena saking terburu-burunya ingin menghindari Make.


Suasana seketika menjadi heboh. Semua tatapan menjadi tertuju ke arah Hanna.


"Maaf.. maaf.." Imbuh sang pelayan yang merasa bersalah.


"Tidak apa-apa." Sahut Hanna sambil mengibas gaunnya yang sudah basah.


"Hati-hati!" Ujar Make yang langsung menarik lengan Hanna, untuk terhindar dari pecahan gelas.


Rey dengan cepat langsung menghampiri dan menepis tangan Make dengan kasar agar menjauh dari tubuh Hanna.


"Rey, sebaiknya kau bawa Hanna kekamar untuk ganti pakaian." Imbuh Tante Lalita, yang kini juga sudah menghampiri Hanna.


"Nggak apa-apa, aku langsung pulang saja, ta-." Hampir saja Hanna keceplosan. "Ma." Hanna mengalihkannya dengan cepat.


"Pulang apanya! Malam ini kita semua nginap disini." Imbuh seseorang.

__ADS_1


"Nginap?" Hanna memastikan dengan ekspresi shocknya.


"Ikut aku." Rey, meraih tangan Hanna, lalu membawanya ke kamar.


Hanna baru tahu, restoran itu ternyata juga menyediakan tempat penginapan.


Hanna masuk kedalam kamar mandi, lalu membersihkan tubuhnya dari tumpahan Anggur.


Hanna, hanya bisa menggunakan handuk kimono untuk pakaian gantinya. Ia tak tahu harus menginap, jadi tak membawa pakaian ganti.


"Kau masih disini?" Tanya Hanna polos, ketika keluar dari kamar mandi dan mendapati Rey yang sedang menonton diruang tengah kamar itu.


"Lalu aku harus kemana memangnya?" Balas Rey tak kalah polos.


"Ya ke kamar mu!" Ucap Hanna, lalu duduk di pinggir tempat tidur.


"Ini kamarku!" Jawab Rey santai.


"Lalu dimana kamarku?" Tanya Hanna bingung, dan bangkit dari duduknya.


"Ya Ini!" Jawab Rey masih sesantai tadi.


"Apa kau gila! Mana mungkin kita tidur di kamar yang sama." Pekik Hanna sedikit ngegas.


"Kenapa tidak mungkin? Kau takut aku macam-macam padamu?" Imbuh Rey sambil terkekeh. "Tenang saja, tubuhmu bukan selera ku." Lanjut Rey, yang masih fokus dengan tontonannya.


Hanna hanya terdiam.


Kini ia hanya termangu, sambil kembali terduduk di pinggir tempat tidur.


"Kau mengambil keputusan yang salah, Hanna." Hanna membatin.


Rey menoleh ke arah Hanna, karena cukup lama Hanna tak bersuara. Ternyata ia sedang termenung dengan tatapan kosong disana.


Rey bangkit, mendekati Hanna. "Ayo, aku tunjukkan sesuatu." Ajaknya sambil menarik pergelangan tangan Hanna.


Rey membawa Hanna ke balkon yang berada di kamar itu. Menunjukkan langit yang tampak begitu indah karena dipenuhi oleh bintang dan bulan yang membulat sempurna.


"Indah sekali." Imbuh Hanna yang seketika takjub dengan pemandangan langit itu.

__ADS_1


Kini, pandangannya tak dapat teralihkan dari sana. Pun begitu dengan Rey, yang tampak tak dapat mengalihkan pandangannya dari wajah cantik Hanna. "Ya, benar-benar indah!" Ujar Rey. Sambil terus memperhatikan setiap inci dari wajah Hanna.


Next >>>


__ADS_2