
"Pak, apa yang kau lakukan?" Tanya Hanna dengan suara bergetar.
"Bukankah kau ingin tahu, seperti apa kita melewati malam itu?" Ujar Anthony seiring terus mendekati Hanna dan menyudutkan tubuh Hanna kedinding.
Awalnya, Hanna hanya berniat untuk mencari tahu. Benarkah malam itu yang sudah melewati malam dengannya adalah Anthony. Tapi sepertinya, pertanyaan yang dilontarkan Hanna sudah membuat Anthony marah dan tersinggung. Atau, semua itu hanya alasan agar ia bisa melampiaskannya pada Hanna.
"Pak, aku minta maaf jika sudah membuat Anda tersingung. Aku tidak bermaksud-" Hanna semakin ketakutan, disaat tangan Anthony kini sudah memegang kedua pundaknya.
"Ya, kau benar-benar sudah membuat aku marah!" Imbuh Anthony, lalu mencoba mencium Hanna. Namun dengan cepat, sebuah tarikan membuat tubuhnya menjauh dari Hanna. Dan sebuah pukulan melayang di wajahnya dengan sangat kuat.
"Apa yang kau lakukan?" Pekik Anthony pada Rey, sambil menyeka sudut bibirnya yang berdarah.
"Kau pantas mendapatkan itu!" Balas Rey dengan penuh amarah, matanya memerah menahan emosi. Rey ingin sekali menghajar Anthony melebihi dari pukulan itu, namun Hanna yang sudah ketakutan disudut ruangan itu mengalihkan Rey.
Rey mendekati Hanna dan menuntun gadis itu untuk bangun.
"Kau tahu akibat dari apa yang kau lakukan ini." Teriak Anthony tak kalah emosi.
"Aku tahu! Dan detik ini juga, kontraknya aku batalkan! Sekali lagi kau berani menyentuh istriku, kau akan tahu sendiri akibatnya!" Dengan tatapan seakan menghujam Anthony. Rey, benar-benar sudah sangat menahan emosinya semenjak dari malam itu. Tapi kali ini, Anthony benar-benar sudah keterlaluan.
"Istri?" Ucap Anthony dengan ekspresi penuh tanda tanya.
Rey, langsung membawa Hanna kembali ke kamarnya. "Bereskan barang-barangmu, kita akan kembali sekarang juga!" Ujar Rey sambil mengeluarkan koper dan melemparnya ke atas tempat tidur.
"Rey .." Lirih Hanna kemudian. Sedangkan Rey, berdiri sambil membelakangi Hanna dengan emosi yang masih bergebu-gebu. "Kau tidak perlu sejauh ini. Aku tahu kerja sama diantara kedua perusahaan ini sangat penting. Aku-"
"Lalu kau maunya aku hanya melihat apa yang dilakukannya terhadapmu tanpa berbuat apa-apa? Apa kau gila?" Pekik Rey sambil kembali berbalik ke arah Hanna. Seakan ingin meluapkan emosinya, Rey meneriaki Hanna hingga membuat gadis itu terkejut.
"Tapi Rey-" Dengan suara bergetarnya. Hanna seakan menjadi serba salah. Ia tidak ingin keputusan Rey ini membuat Rey hanya mendapatkan masalah pada akhirnya.
"Huffttt ...." Rey menghela nafas kasar sambil memijat tengkuknya. "Cepat bereskan barang-barangmu. Jangan buat aku mengulanginya untuk kedua kalinya!" Ujar Rey kemudian dengan nada sedikit rendah.
Hanna mengangguk pelan. Sambil menyeka air matanya, ia bangkit dan membereskan barang-barangnya sesuai permintaan Rey.
Malam itu juga, Rey membawa Hanna kembali.
__ADS_1
Didalam pesawat, sepanjang perjalan pulang. Keduanya hanya terdiam, seakan hanyut dalam pikiran masing-masing.
Sedangkan dilokasi pemotretan, semuanya sudah dibuat heboh. Saat menerima kabar, pemotretan dibatalkan dan semuanya diminta kembali.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" Myesa, meminta penjelasan pada Anthony. Yang kini sedang mengompres wajahnya dengan es batu.
Anthony, melirik ke arah Myesa dengan penuh amarah. "Apa kau mencoba mempermainkanku?" Tanyanya sambil mendekati Myesa dengan bringas.
"A-apa maksudmu?" Tanya Myesa yang mulai ketakutan, melihat Anthony yang seakan siap memangsanya.
"Kenapa tidak kau katakan bahwa gadis itu istri Rey!" Pekik Anthony.
Myesa justru terkekeh. Dan akhirnya menceritakan yang sebenarnya pada Anthony.
Cerita Myesa, membuat Anthony kembali menyeringai. "Aku akan buat gadis itu menjadi milikku." Gumam Anthony sambil meneguk minumannya.
Sepertinya, Anthony benar-benar sudah terlanjur tertarik pada Hanna. Ditambah lagi, ia sangat suka dengan tantangan. Semakin ia sulit mendapatkannya, semakin ia ingin memilikinya.
*
Plaakkk...
Dan sesampainya Rey di bandara, sebuah tamparan langsung dihadiahkan oleh Om Surya yang sudah terlanjur marah, tanpa tahu apa yang terjadi.
Hanna, hanya bisa menganga ketika melihat Rey mendapatkan perlakuan seperti itu dari Papanya.
"Pa, sebaiknya kita pulang dan bicara dirumah." Bujuk Tante Lalita, sambil melirik ke arah orang-orang yang kini melihat ke arah mereka. "Kita hanya jadi pusat perhatian disini." Lanjut Tante Lalita.
Om Surya, berdengus kesal lalu bergeges menuju mobil.
Hanna tak punya pilihan, selain hanya bisa ikut keluarga itu kembali kekediamannya. Tentu, juga untuk menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.
*
Setelah mendengar cerita yang sebenarnya. Kini justru Om Surya yang dibuat emosi. "Aku akan buat perhitungan dengan si Anthony itu. Berani-beraninya dia mengganggu menantuku!" Imbuh Om Surya penuh penekanan. Dan kalimat itu langsung mendapatkan tatapan dari semua orang.
__ADS_1
"Untuk sementara sebaiknya kau tinggal disini saja. Aku tidak yakin si Anthony itu hanya akan tinggal diam setelah apa yang terjadi, aku sangat tahu dia seperti apa." Lanjut Om Surya.
"Ng-nggak apa-apa Om. Aku-" Hanna terbata. Tentu saja ia akan menolaknya.
"Ini bukan hanya demi kamu, tapi juga demi cucu kami!" Lanjut Om Surya, yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari Tante Lalita. Padahal ia sudah meminta suaminya untuk tidak membahasnya dulu sebelum Rey menjelaskannya terlebih dulu pada Hanna apa yang terjadi.
Sedangkan Rey, langsung menepuk jidatnya. Bisa-bisanya Papanya langsung bahas itu tanpa kompromi terlebih dulu dengannya.
"Apa maksud Anda?" Hanna, dengan ekspresi bingungnya. Menatap secara bergantian ketiga orang yang kini duduk di hadapannya.
"Hanna, aku bisa jelaskan." Imbuh Rey, sedikit panik.
"Ehhemm.. Kalau begitu kalian bicaralah dulu." Om Surya berdehem, lalu memberi kode pada istrinya untuk meninggalkan Rey dan Hanna disana. Mereka butuh ruang untuk berbicara setelah Om Surya membuka jalan. Sepertinya, Om Surya memang sengaja memberi kode, agar mereka bisa mebahas itu pada akhirnya.
Hanna terkekeh tak percaya. "Jangan bilang, malam itu kau-" Ucap Hanna terputus.
"Aku minta maaf, tapi semua itu bukan kesalahanku sepenuhnya. Kau sendiri yang meminum minuman pemberian Anthony-"
"Tapi tidak seharusnya kau mengambil kesempatan seperti itu!" Sela Hanna sudah dengan linangan air mata dan amarahnya.
"Aku tahu, aku tidak seharusnya melakukan itu. Tapi keadaanmu malam itu benar-benar diluar kendali. Kau bahkan sampai membuka bajumu ditempat umum." Ucap Rey akhirnya.
Hanna menganga. "A-aku melakukannya?" Hanna bertanya dengan terbata.
"Ya, kau bahkan melakukan hal lebih gila dari itu!" Ucap Rey sambil berdengus kesal.
Hanna hanya bisa terdiam. Tatapannya kosong memandang lantai.
Walaupun tidak dapat dikatakan lega, tapi paling tidak Hanna sedikit bersyukur pria itu adalah Rey. Bukan orang asing ataupun Anthony.
"Aku benar-benar minta maaf." Ujar Rey untuk kesekian kalinya. Seakan benar-benar memohon, agar Hanna bisa memafkan kesalahannya.
"La-lalu, bagaimana dengan bayinya?" Tanya Hanna sedikit ragu-ragu.
"Aku akan bertanggung jawab." Ucap Rey mantap.
__ADS_1
Kedua orang tuanya yang sedang mengintip langsung tersenyum puas.
Next>>>