
Lora terdiam beberapa saat, pandangannya jauh ke depan. Memandang ruang terbuka dihadapannya.
"Kalau menurutku-" Ucap Lora terputus. "Sebaiknya pertahankan hubungan itu. Untuk beberapa hal, terkadang kau harus membuang egomu." Lanjut Lora, lalu mengarahkan pandangannya ke arah Hanna yang masih tertunduk. "Katakan pada temanmu itu, anak didalam kandungannya membutuhkan orang tua yang utuh. Jangan jadikan dia korban hanya karena mementingkan ego masing-masing. Dan tentang pria itu dengan kekasihnya, mungkin mereka memang tidak berjodoh!" Pungkas Lora memberi pendapat.
Hanna mengangguk paham. "Kau benar!" Ujarnya kemudian.
"Bayi ini berhak untuk bahagia. Ya, aku harus memperjuangkan haknya sebagai anak Rey. Lagi pula orang tua Rey juga sudah menentang hubungan mereka berdua. Jika Myesa bisa bermain licik, aku juga bisa lebih dari itu." Pungkas Hanna mantap.
Pun begitu dengan Myesa, dia juga akan melakukan apapun, asal Rey bisa kembali menjadi miliknya.
"Waktu istirahat sudah berakhir." Lora bangkit dari duduknya. Setelah beberapa langkah, Ia kembali menoleh ke belakang. "Kau tidak akan kembali keruanganmu?" Tanya Lora, pada Hanna yang masih termenung di tempat ia duduk tampa bergeming.
"Em, sebentar lagi. Kau duluan saja." Ujar Hanna.
"Baiklah, kalau begitu aku duluan."
Hanna hanya mengangguk, lalu tersenyum ke arah Lora yang akhirnya benar-benar meninggalkannya seorang diri disana.
Setelah merasa cukup menyendiri, Hanna bangkit dan beranjak kembali keruang kerjanya. Apa pun yang terjadi, Hanna akan menghadapinya.
*
Hanna meraih berkas yang diberikan oleh Bu Mirna, lalu membawanya keruang kerja Rey.
Tok!Tok!
Hanna membuka pintu itu setelah mengetuknya, pandangannya langsung memastikan keberadaan Myesa. Ternyata gadis itu sudah tidak berada lagi disana.
"Rey, ada berkas yang harus kau tandatangani." Ujar Hanna sambil melangkah mendekati meja kerja Rey. Lalu menyerahkan berkas itu pada Rey.
Rey yang sedang tampak sibuk di balik meja kerjanya, langsung menoleh ke arah Hanna. "Kenapa kau sangat terlambat." Tanyanya sambil menerima berkas itu.
"Tadi aku kerumah sakit."
Rey yang sedang menandatangani berkas itu langsung mendongakkan wajahnya ke arah Hanna. "Kau sakit?" Tanyanya cepat.
"Tidak." Jawab Hanna yang akhirnya justru membuat kening Rey berkerut. Lantas untuk apa kerumah sakit jika tidak sakit.
"Untuk periksa kehamilan." Lanjut Hanna untuk menjawab kepenasaran Rey.
"Apa hasilnya?"
"Baik.." Jawab Hanna sekenanya.
"Hanya itu?" Rey lanjut bertanya.
"Em.." Hanna mengangguk. "Lantas?" Imbuh Hanna sedikit terkekeh. "Kau kecewa karena bayinya baik-baik saja!" Sarkas Hanna akhirnya.
Sedikit sudut bibir Rey terangkat. "Kenapa kau bisa berfikir seperti itu?"
__ADS_1
"I don't know!" Sahut Hanna sambil menaikkan kedua bahunya. Ia pun tidak tahu kenapa ucapan itu bisa terucap dari bibirnya. Apa mungkin dia masih kesal karena percakapan anatara Rey dan Myesa tadi. Entahlah!
"Kau sudah selesai? Jika sudah aku akan mengantarnya sekarang." Imbuh Hanna.
Karena sudah selesai menandatanganinya, Rey menutup berkas itu lalu menyodorkannya ke arah Hanna. "Hubungi saja, biar mereka yang mengambilnya sendiri." Nada dari kalimat itu semakin mengecil, seiring dengan langkah Hanna yang sudah menjauh tanpa mendengarkan sampai selesai kalimat yang di ucapkan Rey.
"Ada apa dengannya?" Sambil mengernyitkan keningnya.
*
"Hanna..." Ujar Raffael saat akan masuk kedalam lift, dan ternyata ada Hanna didalam sana.
"Hai.." Sapa Hanna sambil tersenyum.
"Kau baik-baik saja?" Tanya Raffael, lalu masuk kedalam lift.
"Empp, tentu." Jawab Hanna masih tidak mengerti sebenarnya, tentang maksud dari pertanyaan itu.
"Syukurlah! Jika tidak, aku benar-benar akan buat perhitungan dengan Anthony." Imbuh Raffael, lengkap dengan ekspresi kesalnya.
"Kau tahu kejadian itu?" Tanya Hanna terbelalak.
Raffael mengangguk. "Tenang saja, Rey hanya meberitahukannya padaku."
Hanna menghela nafas lega.
"Kau lega?" Tanya Raffael sambil terkekeh.
"Sayangnya Rey tidak bisa lega sepertimu!"
"Kenapa?" Tanya Hanna penasaran.
"Kerja sama dengan Anthony Company akan tetap dilanjutkan, Para pemegang sahan dan Investor mengancam akan menurunkan Rey dari jabatannya jika dia tidak bisa menyelesaikan kerja sama dengan Anthony!"
Hanna terbelalak mendengar itu.
"Kenapa Rey-"
"Tak memberitahukannya padamu?" Imbuh Raffael menyela.
Hanna mengangguk cepat.
Ting...
Pintu lift terbuka, keduanya keluar dari sana. Dengan obrolan serius itu terus berlanjut.
"Mungkin dia tidak ingin kau khawatir dan merasa terbebani." Raffael menerka.
Hanna, hanya mengernyitkan keningnya. Sepertinya ia harus bertanya langsung pada Rey tentang masalah itu.
__ADS_1
"Kau mau kemana?" Tanya Raffael akhirnya.
"Hah .." Hanna tersadar dari lamunannya. "Antar berkas ini." Ucap Hanna sambil mengangkat sedikit berkas yang berada ditangannya.
"Baiklah, nanti tunggu aku saat pulang. Aku akan mengantarmu! Aku duluan, ada rapat dengan klien." Ujar Raffael, lalu bergegas pergi sambil melirik ke arah jam di pergelangan tangannya.Tampaknya ia sedang buru-buru.
Hanna bahkan tidak sempat menjawabnya, Hanna tak sempat mengatakan pada Raffael, kalau dia tidak perlu mengantar Hanna pulang. Karena untuk saat ini, Hanna tak lagi pulang ke kediamannya.
Hanna kembali melanjutkan langkahnya menuju meja kerja Bu Mirna.
"Bukankah sudah aku katakan, hubungi saja jika sudah ditanda tangani. Aku akan mengambilnya sendiri." Imbuh Bu Mirna langsung berdiri dari kursinya saat melihat Hanna berjalan ke arah meja kerjanya.
"Tidak apa-apa Bu." Imbuh Hanna sambil tersenyum ramah. Lalu menyerahkan berkas itu pada Bu Mirna.
"Terimakasih kalau begitu." Ucap Bu Mirna.
Hanna mengangguk. "Sama-sama." Ucapnya, setelah itu beranjak dari sana. Sampai akhirnya, langkahnya dihadang oleh Selly.
Hanna langsung memasang wajah malasnya, ketika Selly sudah berdiri tepat dihadapannya.
"Apa Presdir tak memberimu pekerjaan? Sampai kau mengatar berkas itu sendiri kesini?" Tanya Selly sembari menunjukkan senyuman sinisnya.
"Bukan urusanmu!" Hanna ingin beranjak dari sana, tapi Sally dengan kasar langsung menarik pergelangannya.
"Berani sekali kau mengabaikan ku!" Sarkasnya.
"Sally, aku sedang tidak ingin berdebat denganmu sekarang. Jadi tolong lepaskan tanganku!" Pinta Hanna, yang benar-benar sedang tidak ingin meladeni Sally untuk saat ini.
Namun Sally justru menggenggamnya lebih erat. Sambil menyeringai penuh arti.
"Tunggu saja Hanna! Aku akan membuatmu kehilangan posisimu. Tunggu dan lihat apa yang akan aku lakukan padamu!" Sarkas Sally.
"Baik, akan aku tunggu! Tapi ingat, jangan terlalu lama. Karna aku tidak suka menunggu terlalu lama!" Balas Hanna sambil menepis tangan Sally.
Setelahnya, Hanna beranjak dari sana.
"Sombong sekali!" Sally menyeringai. "Akan aku buat kau bertekuk lutut dan memohon dihadapanku Hanna. Lihat saja!"
*
Om Surya tiba di paris, dan langsung menemui Anthony. Percakapan di antara keduanya berlangsung cukup lama.
Dan pada akhirnya, justru Anthony yang meminta maaf atas perbuatannya. Entah apa yang dikatakan Om Surya, sehingga keadaan seakan terbalik.
"Baik, berarti kerja sama ini akan kembali dilanjutkan." Imbuh Om Surya.
"Tentu saja! Dan aku akan minta maaf secara pribadi kepada menantumu." Ujar Anthony.
Om Surya menyeringai. Dan akan memastikan, Anthony tidak akan bisa melakukan hal buruk apapun lagi pada Hanna.
__ADS_1
Pengaruh Om Surya di bidang bisnis memang tak perlu diragukan lagi. Jika sudah ia yang turun tangan, semua masalah seakan bisa diselesaikan dengan mudah. Pantas saja, ia sampai dijuluki si pembisnis ulung!
Next >>>