
Rey, mengernyitkan keningnya ketika melihat ekspresi Hanna yang tak ada takut takutnya. Sialnya, ia hanya bisa berdiri disana tanpa bisa berbuat apa-apa. Bahkan, para security pun hanya bisa mengamankan para karyawan agar tidak mengerumuni lokasi kejadian.
"Yang kau lakukan ini, juga tidak bisa mengembalikan putrimu!" Imbuh Hanna.
"Aku tak perduli, dan aku akan membuatmu menebusnya." Pungkas Tante Rosa.
"Lepaskan Hanna sekarang! Dan kita bicara baik baik, Oke!" Rey mencoba membujuk Tante Rosa, dan berharap ia akan mendengarkannya. Dan tampaknya itu percuma.
"Rey! Lihat dengan baik baik, seperti apa Myesa merenggang nyawa pada saat itu!" Sarkas Tante Rosa, sambil berteriak histeris. Ia begitu geram, ketika membayangkan tentang bagaimana ia menyaksikan jasad Myesa yang berlumuran darah.
"Apa yang dilakukan putrimu, adalah atas kesalahannya sendiri! Kau tak bisa menyalahkan orang lain untuk menanggung kesalahan dan kebodohannya." Sahut Hanna.
Sesaat kemudian, terdengar suara sirine mobil polisi. Walaupun Tante Rosa melarang untuk menghubungi polisi, namun tetap saja entah siapa di antara mereka yang akhirnya berhasil menghubungi polisi. Hanna memanfaatkan kelengahan Tante Rosa. Akhirnya, teknik bela diri yang dulu sewaktu SMA dipelajari Hanna berguna juga. Dengan cepat, Hanna menarik lengan Tante Rosa, membuat pisau ditangannya tersentak dan terlepas dari genggamannya, lalu Hanna berbalik mengunci kedua tangan Tante Rosa. Walaupun tak semulus yang ia pikirkan, pisau yang terlampau dekat dengan lehernya, mengiris sedikit leher Hanna hingga berdarah. Wanita paruh baya itu, tentu saja bukan lawan yang sepadan. Hanna, bahkan pernah melawan para preman saat mengganggunya sewaktu ia masih berjuang hidup seorang diri. Jangan lupa, dulu Hanna gadis tangguh yang mampu bertahan hidup seorang diri menghadapi segala rintangan hingga akhirnya kini menyandang sebagai nyonya besar dari seorang Rey Reivandra!
Semua orang panik saat melihat Hanna melakukan perlawanan. Termasuk Rey yang seakan menegang di tempat ia berdiri.
"Kau salah mengambil sasaran." Bisik Hanna, tepat ditelinga Tante Rosa. Membuat wanita paruh baya itu geram bukan kepalang.
Rey langsung mendekat, merogoh sapu tangan dari saku jasnya dan menutupi leher Hanna yang teriris untuk menahan darah yang keluar.
Sedangkan Raffael langsung mengambil alih menahan Tante Rosa agar tak lagi melakukan perlawanan. Sesaat kemudian, polisi tiba dan memborgol tangan Tante Rosa.
Sedangkan Hanna, dengan segera langsung di bawa kerumah sakit oleh Rey.
Walaupun lukanya tak parah, tapi jangan tanya seberapa paniknya Rey. Ia bahkan mengemudi menuju rumah sakit dalam kecepatan tinggi.
Rey baru bisa lega, setelah dokter menangani luka Hanna dan meperbannya.
*
Sesampainya di rumah, Rey menuntun Hanna untuk rebahan di atas ranjang.
"Rey, aku tak apa. Aku-" Kalimat Hanna menggantung. Ketika Rey dengan cepat langsung mengecup bibir Hanna untuk membungkamnya.
__ADS_1
"Kau istirahat saja, jangan dulu banyak bicara." Ujar Rey. Setelahnya menyelimuti Hanna dengan selimut.
Rey merasa ngilu, mengingat luka dileher Hanna. Makanya ia melarang Hanna untuk tak dulu banyak bicara.
Ting Tong Ting Tong!
Tok!Tok!Tok!
Tante Lalita yang tahu tentang kabar itu langsung menuju kediaman Rey dan Hanna. Tak cukup dengan menekan bel, ia juga mengetuk pintu hingga berulang kali.
Suara bel dan ketukan pintu yang tak henti hentinya itu, memaksa Rey untuk bangkit dari duduknya. Berjalan ke arah pintu dan membuka pintu itu.
"Ma.." Imbuh Rey, sedangkan Tante Lalita langsung masuk menerobos.
"Dimana Hanna!" Dengan kepanikan yang tergambar jelas di wajahnya.
"Dikamar, Ma.." Ucap Rey, setelahnya mengikuti langkah Mamanya menuju kamar mereka.
"Sayang, kau baik baik saja." Tante Lalita langsung berhambur ke samping ranjang Hanna. Dan menggenggam tangan Hanna dengan tangannya yang sudah berkeringat dingin.
Rey justru meletakkan telunjuknya di depan bibirnya, ia melarang Hanna bicara kah? Dasar Rey!
"Empp.." Jawab Hanna akhirnya.
Rey ikut duduk didekat kedua wanitanya itu. "Jangan dulu ajak Hanna bicara, Ma." Imbuh Rey akhirnya.
"Apa lukanya terlalu parah? Mengapa tidak di rawat dirumah sakit saja? Mengapa kau justru pulang, Hanna!" Tante Lalita, mengusap pipi Hanna, merasa terkejut sekaligus sedih dengan apa yang terjadi pada menantunya.
"Sebenarnya Hanna tak apa, Ma." Jawab Hanna, tak ingin mertuanya itu terlalu khawatir.
"Aishhh..." Rey langsung melotot ke arah Hanna, "Bukankah sudah aku katakan, jangan dulu bercakap!" Rey bangkit dari duduknya dan merapikan perban di leher Hanna.
Hanna tersenyum, melihat tingkah Rey yang ternyata bisa konyol juga.
__ADS_1
"Iya iya, benar! Sebaiknya kau diam saja. Jangan dulu banyak bercakap." Tante Lalita mendukung Rey.
Hanna, ingin sekali menepuk jidatnya. Anak dan ibunya ini benar-benar!
"Yasudah, kau istirahat saja dulu. Akan Mama buatkan bubur untukmu." Tante Lalita bangkit dari duduknya. "Tidak tidak! Kau tidak perlu mengangguk!" Pungkas Tante Lalita, ketika melihat Hanna baru saja hendak mengangguk.
Kini, justru Rey yang dibuat tersenyum, dengan tingkah Mamanya yang lebih protektif dari pada dirinya.
Baiklah, Hanna hanya berbaring tanpa mengeluarkan sepatah kata lagi sekarang. Ia hanya menatap Rey sambil memanyunkan bibirnya.
"Anak yang baik..." Ujar Rey, sambil mengacak puncak kepala Hanna. "Aku akan bantu Mama memasak." Lanjut Rey, setelahnya bangkit dari duduknya setelah mendapatkan ancungan jempol dari Hanna.
Rey turun kedapur, menghampiri Mamanya yang tampak sedang sibuk disana. "Apa yang bisa Rey bantu." Tanya Rey, lalu berdiri tepat disamping Mamanya.
"Emm.." Tante Lalita berfikir sejenak, tugas apa yang pantas ia berikan untuk Rey. "Potong ayam.." Lanjut Tante Lalita akhirnya.
"Emp.." Rey mengangguk, mengambil celemek dan memakainya. Setelahnya mengeluarkan ayam dari dalam kulkas, lalu memotong ayam itu setelah membersihkannya terlebih dulu.
"Bagaiman itu bisa terjadi? Mengapa kau tak menyadari wanita itu berkeliaran di perusahaan." Tanya Tante Lalita akhirnya, di tengah tengah keheningan mereka.
Rey hanya terdiam, tak ada jawaban apapun. Tante Lalita menoleh ke arah putranya, walaupun tangannya sedang begitu sibuk memotong ayam, tapi pikirannya sedang melayang entah kemana.
"Rey!" Panggil Tante Lalita dengan suara agak tinggi.
"Ya, Ma." Jawab Rey, yang tersentak dari lamunannya dan langsung menoleh ke arah Mamanya.
"Apa yang sedang kau pikirkan?" Tanya Tante Lalita, dengan kening berkerut.
Rey kembali menoleh ke arah ayam yang berada di hadapannya. Lalu menghela nafas dalam.
"Rey hanya tak dapat membayangkan, jika Hanna tak melakukan perlawanan dan wanita itu benar benar-"
"Sudahlah, jangan pikirkan itu lagi. Lagi pula nyatanya kini Hanna baik baik saja." Sela Tante Lalita. "Yang harus kau pikirkan sekarang, apa yang akan kau lakukan pada wanita itu!" Tanya Tante Lalita.
__ADS_1
"Rafa sedang mengurusnya di kantor polisi, dan dia pasti tahu apa yang seharusnya ia lakukan pada wanita itu!" Sarkas Rey, lalu mengayunkan pisau ke arah ayam yang berada di hadapannya dengan brutal. Seakan sedang melampiaskan amarahnya. Bahkan, Tante Lalita di buat kaget dengan hentakan pisau yang jatuh ke atas ayam itu.
Next ^^