My Boss, Is My Husband

My Boss, Is My Husband
Hanna Tidak Pulang


__ADS_3

Tidak hanya di hari itu saja, Hanna selalu saja menghilang setiap jam makan siang.


"Kau akan keluar lagi?" Tanya Rey, yang seakan sudah tahu jam Hanna menghilang dari balik meja kerjanya.


Hanna yang baru saja beranjak dari duduknya, langsung menoleh ke arah Rey. "Empp, aku janji hari ini tidak akan lama. Sungguh!" Ucapnya, lalu langsung bergegas pergi.


"Tu-ngggu!" Rey bahkan tidak sempat menghentikannya, padahal ada sesuatu yang ingin dibicarakan Rey dengan Hanna. Tapi Hanna sudah terlanjur masuk kedalam lift.


"Hufftt.. Baiklah, sepertinya kau lebih baik sibuk disini saja." Pungkas Rey, setelah itu kembali masuk kedalam ruangannya.


*


Dan yang dilakukan Hanna diluar sana ternyata adalah, ia diam-diam menyelidiki kasus pemalsuan dokumen itu. Hanna bahkan sampai menemui manager keuangan yang sudah dipecat itu dikediamannya.


Walaupun awalnya kedatangan Hanna ditolak keras oleh sang mantan manager keuangan itu, akhirnya ia luluh juga. Ketika melihat kegigihan Hanna, bak tak pantang menyerah untuk bertemu dengannya.


Dan ternyata, sesuai dengan yang Hanna pikirkan. Ada permainan uang dan jabatan tinggi di balik itu semua.


Pak Yuda, melakukan itu semua karena awalnya di iming-imingi naik jabatan. Tetapi, ketika perbuatan mereka terbongkar. Justru Pak Yuda yang akhirnya dijadikan kambing hitam.


Setelah obrolan panjang itu, akhirnya Hanna tak pulang dengan tangan kosong. Kini, ia memegang bukti atas perbuatan para petinggi yang dengan sengaja ingin menjatuhkan Rey.


*


Dengan begitu semangat, Hanna masuk ke dalam ruang kerja Rey. Dan ingin menunjukkan bukti berserta nama-nama orang yang berada di balik pemalsuan dokumen itu.


Tetapi, ruangan itu justru sepi tak berpenghuni.


Hanna melirik ke arah jam yang melingkar di pergelangan tangannya. "Apa dia sudah pulang, ya?" Gumam Hanna. "Hemm, baiklah. Kalau begitu aku simpan saja dulu dokumen ini. Aku tunjukkan besok saja." Lanjut Hanna, setelah itu kembali ke meja kerjanya.


Tapi, Rey tetap tak kembali ke kantor walaupun sudah jam pulang kerja.


"Kau masih disini?" Tanya Raffael yang tiba-tiba muncul dan sedikit mengagetkan Hanna.


"Emp! Apa Rey sedang bertemu dengan klien? Apa dia langsung pulang?" Tanya Hanna sambil kembali melirik ke arah jam tangannya. Tumben sekali Rey tidak berada di kantor di jam kerjanya.


Mendengar itu Raffael justru terbahak. "Jadi kau tidak tahu? Rey sudah berangkat ke Paris tadi siang!" Imbuh Raffael yang tak habis pikir. Bisa bisanya Hanna yang sekertaris Rey, tidak tahu jadwal keberangkatan Rey. Dan lebih parahnya, dia tak di bawa.


"Apa?" Hanna terlonjak dari tempat duduknya.

__ADS_1


"Jadi, apa juga yang kau lakukan selama ini? Bahkan bisa tidak tahu kalau Rey akan berangkat hari ini ke Paris?" Tanya Raffael, sambil menarik kursi didepan meja kerja Hanna lalu duduk disana.


Tak ada jawaban, Hanna justru termenung di balik meja kerja. Dia masih memikirkan Rey!


"Hallooo.." Diiringi dengan ketukan di meja kerja Hanna.


"Ha... Apa katamu tadi?" Tanya Hanna yang baru kembali dari lamunannya.


Raffael justru menghela nafas dalam. "Aku sudah berbuih bicara denganmu, dan kau tidak mendengarnya!"


"Oh iya, Raf." Hanna teringat dengan dokumen yang diberikan Pak Yuda. "Aku mendapatkannya dari Pak Yuda." Lanjut Hanna, sambil menyodorkan berkas itu pada Raffael.


Raffael terbelalak ketika membuka dokumen itu dan memeriksanya dengan teliti.


"Bagaimana bisa kau-" Ucap Raffael terputus.


"Makanya, jangan remehkan orang biasa seperti ku!" Imbuh Hanna membanggakan diri.


Raffael menyeringai, dengan tatapan masih tertuju ke arah dokumen itu.


"Kau kesini karna perlu apa?" Tanya Hanna akhirnya.


"Kau ada perlu apa kesini?" Hanna mengulangi pertanyaannya, sambil menerima kembali dokumen itu. Setelahnya menyimpan dokumen itu ke tempat semula.


"Something!" Ujar Raffael, lalu bangkit dari duduknya. Pun begitu dengan Hanna yang akhirnya memilih mengikuti langkah Raffael yang menuju ke ruangan Rey.


"Kau mencari sesuatu?" Tanya Hanna yang tambah penasaran saat melihat Raffael mulai membuka satu persatu laci meja kerja Rey.


"Emp!" Jawab Raffael singkat.


"Apa?" Hanna penasaran.


"Ketemu!" Ucap Raffael, dengan ekpresi sumbringah ketika akhirnya menemukan yang ia cari.


Tangannya mengeluarkan sebuah kotak kecil dari dalam laci itu.


"Apa itu?" Hanna semakin penasaran.


Raffael membukanya, karna ia pun penasaran apa isi kotak kecil itu. Sehingga Rey yang sudah terbang ke paris harus merepotkan Raffael dengan memintanya untuk mengirimkan kotak kecil itu ke sana.

__ADS_1


Ternyata isinya sebuah kalung berlian.


Hanna mengernyitkan keningnya.


"Mungkin ini hadiah untuk Myesa, karena Rey memintaku untuk mengirimkan ini ke paris." Ujar Raffael, seakan untuk menjawab rasa penasaran Hanna.


Mendengar itu, Hanna hanya bisa menelan salivanya kasar. Seakan ada sedikit rasa kecewa yang tiba-tiba menyerang rongga dadanya.


"Hei, kenapa kau justru melamun disana! Ayo, sudah waktunya pulang." Ajak Raffael, sambil meraih tangan Hanna dan membawanya keluar dari ruangan itu.


Sepanjang perjalanan pulang. Hanna hanya terdiam, tiba-tiba saja dia berubah membisu.


"Kau lapar? Ingin makan dulu?" Tawar Raffael.


Hanna hanya menggeleng pelan, dengan tatapan yang tertuju keluar jendela mobil.


Hatinya mempertanyakan sikap Rey. "Untuk apa dia melakukannya saat itu? Jika perasaanya masih tertuju pada Myesa! Apa karena dia menganggap aku gampangan? Dasar Hanna! Bisa bisanya kau terbuai oleh lelaki seperti Rey. Jelas jelas kau tahu dia punya kekasih dan sangat mencintai gadis itu." 


*


Seperti biasa, saat pulang di antarkan Raffael. Hanna selalu turun di kediamannya sendiri. Biasanya Hanna akan kembali naik taxi dan kembali ke kediaman Rey. Tapi untuk malam ini, sepertinya Hanna tidak akan melakukan itu.


Hanna merebahkan tubuhnya di atas ranjang, dengan helaan beratnya.


"Hanna! Ayo sadarlah. Mana mungkin seorang Rey Revandra jatuh cinta pada gadis sepertimu! Cepat bangun dari mimpimu itu, kembali ke duniamu sendiri! Kau hanya akan menyiksa dirimu sendiri jika berharap lebih dari hubungan itu!" Gumam Hanna, seakan menertawai dirinya sendiri karena sempat terbuai oleh kebaikan yang ditunjukkan Rey padanya.


*


"Rey, apa kau tahu Hanna dimana? Dia belum pulang juga sudah jam segini." Tante Lalita mulai gusar, ketika sudah hampir tengah malam Hanna masih juga belum kembali.


"Apa? Hanna belum pulang!" Rey langsung beranjak dari tempatnya. Menjauh dari para krue.


"Emp! Mama tidak akan khawatir jika dia telat pulang kalau kau ada disini. Tapi ini masalahnya kau tidak ada, jadi kemana perginya Hanna sudah hampir tengah malam seperti ini."


"Rey akan coba hubungi Hanna."


"Sudah Mama lakukan! Ponselnya tidak aktif."


"Apa!" Rey tambah dibuat panik.

__ADS_1


Next>>>


__ADS_2