
Rey, berulang kali melirik ke arah jam tangannya. Ia ingin memastika untuk tidak terlambat menjemput Hanna di acara lelang itu.
"Apa kau terburu buru?" Tanya Myesa, yang masih berlakon.
"Emp, aku harus menjemput Hanna sebentar lagi." Ujar Rey, sambil kembali menikmati makan malamnya. Tapi entah mengapa, perasaannya tiba tiba saja menjadi gelisah. Padahal sebelumnya masih baik baik saja. Rey berulang kali mencoba menghela nafas dalam. Mencoba menetralkan perasaannya yang terganggu entah karena apa.
Myesa, kembali tersenyum.
Senyuman yang penuh arti.
__ADS_1
Setelah selesai, Rey mengantar Myesa terlebih dulu ke apartemennya.
"Thanks, Rey. Bye...!" Ucap Myesa, setelah itu turun dari mobil Rey. Setelah mendapatkan jawaban balasan dari Rey.
Saat kembali melajukan mobilnya, Rey meraih ponselnya. Lalu memeriksa ponselnya, barangkali saja ada panggilan atau pesan dari Hanna yang tidak diketahuinya. Tapi ia justru heran, ketika mendapati ponselnya dalam keadaan mati.
Ia menghidupkan kembali ponselnya, lalu mendapati notifikasi panggilan tak terjawab dari Hanna. Rey langsung kembali menghubungi Hanna. Tapi ponselnya justru tidak aktif. Rey semakin menginjak lebih dalam pedal gas mobilnya, agar mobilnya melaju lebih cepat.
Sesampainya disana, Rey langsung mencari keberadaan Hanna didalam gedung itu. Tapi, ia tak menemukan sosok yang ia cari. Rey kembali mencoba menghubungi kontak Hanna, tapi ponselnya masih juga tidak aktif. Rey mulai khawatir dan gelisah. Walaupun sudah mencari Hanna keseluruh tempat, tapi Hanna juga tidak ketemu.
__ADS_1
Hingga, akhirnya Rey memutuskan untuk pulang ke apartemen. Memastikan, apa Hanna sudah pulang atau belum.
Saat masuk kedalam apartemen, lampu hidup. Dan itu berarti Hanna sudah pulang. Rey memanggil nama Hanna, tapi tak ada jawaban. Rey masuk kedalam kamar, tapi Hanna juga tak berada disana. Saat akan kembali menutup pintu kamar, ada sesuatu yang akhirnya menarik perhatian Rey. Ada amplop coklat, black card yang ia berikan pada Hanna sebelum ia pergi ke acara amal itu dan cincin pernikahan Hanna di atas nakas. Rey mendekati nakas, memastikan. Dan benar, itu cincin Hanna. Karena penasaran, Rey akhirnya juga membuka amplop coklat itu dan melihat apa isinya.
Persis seperti yang di alami Hanna, Rey terkejut saat melihat ternyata amplop itu berisi surat cerai. Rey langsung memeriksanya, dan disana sudah tertera tanda tangannya dan Hanna.
Jangan tanya seberapa bingungnya Rey, ia tidak pernah merasa pernah menandatangani surat itu. Tidak! Ia bahkan tidak pernah mengurus perceraian dengan Hanna. Lalu mengapa surat cerai itu tiba tiba bisa ada dan lengkap dengan tanda tangan mereka berdua.
Rey sama sekali tidak curiga pada Myesa, ia justru menganggap Hanna dengan sengaja melakukannya. Diam diam mengurus surat cerai dan lalu menyelipkannya di antara berkas yang harus di tanda tangani oleh Rey.
__ADS_1
Dada Rey langsung kembang kempis. Ia tak menyangka Hanna bisa melakukan hal itu. Padahal selama ini, ia merasa sudah memperlakukan Hanna dengan baik. Tapi mengapa ia justru pergi begitu saja, tampa sepatah katapun. Tidak! Walaupun Hanna memohon sekalipun untuk berpisah dengannya, Rey juga tidak akan membiarkannya. Ia tidak akan menyetujui permintaan konyol Hanna untuk bercerai, Rey tidak akan pernah melepaskan Hanna. Apa mungkin karena itu? Apa mungkin karena Hanna tahu Rey tidak akan melepaskan Hanna, makanya ia memilih untuk pergi secara diam diam seperti ini? Begitulah Rey, terus saja menerka nerka.
Next>>>