
Rey, terus saja meneguk minumannya lagi dan lagi.
"Rey, pelan pelan saja." Imbuh Hanna, sambil menahan gelas berisi minuman yang kembali akan di teguknya.
Rey hanya menyeringai.
Dadanya terasa sangat panas. Bisa bisanya saat itu ia begitu memperdulikan Myesa dan sering mengabaikan Hanna. Karena rasa percayanya yang berlebihan pada Myesa, akhirnya membuat dia kehilangan Hanna dan juga Anaknya.
"Biarkan saja, ia butuh menenangkan dirinya." Imbuh Raffael ikut berkomentar.
"Tapi, Raf." Hanna tampak khawatir.
"Tidak apa apa, Hanna. Biarkan saja!" Kali ini, Yayank pun berpendapat sama. Membuat Hanna tak punya pilihan kecuali membiarkannya.
Rey benar benar mabuk malam itu.
Ia sampai harus dibopong oleh Raffael menuju Apartemen.
"Thanks, Raf." Imbuh Hanna, saat Raffael sudah merebahkan Rey di atas sofa ruang tengah.
"It's okay. Aku duluan ya, jaga dia baik baik." Ujar Raffael, sebelum meninggalkan apartemen itu.
Hanna membuka sepatu Rey, juga jas yang masih dikenakannya.
Lalu mengambil selimut, untuk menyelimuti Rey. Setelahnya, ia tinggal untuk pergi tidur.
*
Rey bangun dalam keadaan yang berantakan. Dengan rasa sakit kepala yang cukup mengganggunya.
"Kau sudah bangun?"
__ADS_1
Rey langsung menoleh.
"Mama.. Kenapa Mama disini?" Rey langsung bangkit. "Dimana Hanna?" Tanyanya sambil mengedarkan pandangannya. Pun sampai mencarinya kedalam kamar, tapi tak menemukannya.
Tante Lalita, yang sedang membuatkan bubur untuk Rey. Hanya memperhatikan putranya yang terus saja mencari kesana kemari sambil terus memanggil nama Hanna.
"Percuma juga walaupun kau teriak teriak." Imbuh Tante Lalita akhirnya.
"Apa Mama mengusirnya?" Tanya Rey penuh penekanan.
Tante Lalita langsing menoleh dengan cepat.
"Kau terlalu banyak berpikir. Cepat mandi dan bersiaplah. Buburnya sudah hampir masak. Lihat penampilanmu sekarang, kau benar benar berantakan." Keluh Tante Lalita dengan tatapan menyedihkannya.
Rey kembali ke sofa, mencari keberadaan ponselnya. Setelah dapat, ia langsung menghubungi Hanna.
"Kau dimana?" Tanyanya langsung ketika panggilan itu di terima oleh Hanna.
"Sedang belanja, persediaan makanan di kulkas hampir habis. Jadi aku keluar untuk membeli beberapa persediaan untuk selama kita disini. Oh ya, apa Mama masih di apartemen."
"Lalu, ada apa kau menelpon ku?" Tanya Hanna.
"Jangan menghilang tiba tiba seperti itu, beritahu aku sebelum kau pergi!" Pekik Rey agak sedikit emosi. Lalu langsung mematikan panggilan itu.
Membuat Hanna, akhirnya memandang bingung ke arah ponselnya yang sudah kembali ke layar utama.
"Dasar aneh!" Ujar Hanna, lalu kembali memasukkan ponselnya kedalam slim bag nya.
Rey, beranjak dari tempat ia berdiri. Masuk ke kamar, mandi dan bersiap.
Sedangkan Tante Lalita, hanya bisa menggeleng gelengkan kepalanya melihat tingkah Rey.
__ADS_1
*
"Cepat makan buburnya selagi hangat." Desak Tante Lalita saat Rey baru saja keluar dari kamar.
"Apa Hanna belum kembali." Lagi lagi, hanya Hanna yang ada dalam pikirannya.
"Belum, cepat duduk dulu. Ada yang ingin Mama bicarakan."
Rey, ikut duduk bersma Tante Lalita di meja makan.
Meraih mangkuk bubur yang sudah di siapkan oleh Tante Lalita, lalu menaruh bubur kedalamnya.
"Apa rencanamu selanjutnya?" Lontar Tante Lalita.
"Tentang?" Tanya Rey menggantung.
"Kau dan Hanna."
"Tentu saja kembali bersama!" Jawab Rey santai.
"Lalu, kenapa kalian tidak membawa anak kalian kembali bersama?" Pertanyaan itu membuat Rey menghentikan suapannya. Lalu kembali meletakkan sendok kedalam mangkuk.
Rey menarik nafas dalam. "Dia sudah meninggal." Tutur Rey agak ragu ragu untuk memberitahukan kabar buruk itu pada Mamanya.
"Apa!" Tante Lalita tentu saja terkejut mendengar kabar itu. "Bagaimana bisa?" Tanyanya yang seakan sulit untuk mempercayainya.
Rey menggeleng. "Hanna tidak memberitahukannya."
"Kenapa? Untuk apa dia merahasiakannya?" Nada Tante Lalita mulai meninggi.
"Mungkin dia belum siap, Ma. pasti akan ada waktunya Hanna akan ceritakan semuanya." Rey membela.
__ADS_1
Tante Lalita berdengus. "Syukurlah kalau begitu, jadi tidak ada lagi ikatan yang mengikat kalian." Sarkasnya.
Next >>>