My Boss, Is My Husband

My Boss, Is My Husband
Mengganggu Pikiran


__ADS_3

"Iya, letakkan disana." Perintah Rey pada tim refit yang sedang menambahkan meja kerja dan beberapa yang di rasa perlu didalam ruangannya.


Setelah selesai, Rey pun rehat sejenak. Lalu memeriksa ponselnya.


"****!" Imbuhnya ketika, melihat pesan dari Raffael. Dengan cepat ia menghubungi seseorang yang akan membantunya membuat Myesa tidak jadi terbang ke London.


"Baik, saya akan segera menghubunginya."


Setelahnya, Rey langsung mematikan panggilan itu. Dan mengirimkan pesan balasan pada Rey.


"Brengsek kau!" Tulisnya.


*


Sedangkan di negara yang berbeda, Raffael langsung tertawa terjungkal membaca pesan dari Rey. Rasanya puas sekali mengerjai Rey!


Raffael tahu, saat ini Rey sedang menghindari Myesa. Setelah kehilangan Hanna, Rey benar benar menarik diri dari semua jenis hubungan dengan wanita. Termasuk Myesa!


Pun dengan setengah tahun ini, Rey juga yang mengirim Myesa ke luar negri dengan caranya. Agar ia bisa terlepas dari gadis itu yang seakan ingin selalu menempel padanya seperti permen karet.


Karena itu juga, Tante Lalita menjadi khawatir dengan kondisi Rey saat ini. Ia takut Rey memilih untuk terus melajang hingga tua nanti. Maka dari itu, Tante Lalita akhirnya menyuruh Raffael untuk mencarikannya seorang wanita untuk Rey.


"Apa yang membuat Anda sangat bahagia?" Tanya Mei, yang heran ketika tiba tiba Raffael tertawa terbahak setelah mendapatkan sebuah pesan.


"Sesuatu.." Ucap Raffael sambil kembali menyimpan ponselnya kedalam saku jasnya. Lalu kembali melanjutkan pembicaraan dengan Mei. "Aku mungkin akan sangat sibuk dalam beberapa bulan ini, jadi tolong handle semua pekerjaan yang memungkinkan. Dan langsung hubungi aku jika ada hal yang penting." Lanjut Raffael.


"Baik, Pak." Diikuti dengan anggukan kepalanya.

__ADS_1


*


Keesokan paginya, Rey sudah menunggu kedatangan Hanna di ruangannya. Bak sedang mempersiapkan perangkapnya, Rey terus saja menatap pintu ruangan itu, dan menunggu Hanna masuk.


40 menit berlalu, Hanna masih juga belum tiba. Rey mulai tampak gelisah menunggu.


"Apa dia tidak menganggap serius perkataanku kemarin?" Gumamnya, sambil melirik ke arah jam tangannya.


Rey masih menunggu, tapi Hanna masih juga belum datang bahkan setelah 10 menit kemudian berlalu. Akhirnya, Rey bangkit dari balik meja kerjanya sambil meraih jas yang tergantung ditempatnya.


"Kau akan keluar?" Pertanyaan itu langsung membuat langkah Rey terhenti.


Hanna, baru saja tiba dan masuk kedalam ruang kerja Rey.


Ada sebuah senyuman tipis yang sedang dicoba ditutupi oleh Rey di wajahnya.


"Emp! Iya, aku ada janji dengan seseorang." Bohong Rey, rasanya canggung sekali jika dia kembali duduk kembali setelah terlihat buru buru akan keluar.


"Baiklah! Jadi dimana ruanganku?" Tanya Hanna kemudian.


"Disini! Itu mejamu." Tunjuk Rey ke arah meja yang berada tak jauh dari meja kerjanya.


"Sejak kapan marketing advisor berbagi ruangan dengan CEO?" Tanya Hanna sambil terkekeh.


"Sejak saat ini." Jawab Rey santai.


"Apa perusahaan sebesar ini bahkan tak cukup ruangan untuk karyawannya?" Protes Hanna, yang merasa keberatan jika harus berbagi ruangan dengan Rey.

__ADS_1


"Emp!" Jawab Rey sambil beranjak dari sana dan keluar dari ruangan itu. Meninggalkan Hanna seorang diri disana.


*


Myesa, langsung kegirangan ketika mendapatkan panggilan telpon dari sebuah agency yang akan mengajaknya untuk bekerja sama. Tanpa ia tahu, bahwa itu sebenarnya ulah Rey. Ya, Rey bahkan rela mengeluarkan uang untuk menyewa agency dan meminta mereka untuk mempekerjakan Myesa selama setengah tahun sebagai model.


Segitunya ia, agar bisa terlepas dari jeratan gadis itu.


Rey, keluar dari perusahaan, lalu melajukan mobilnya tanpa tujuan yang jelas.


Sedangkan Hanna, tak punya pilihan lain kecuali hanya bisa menempati meja kerja yang sudah disiapkan oleh Rey untuknya.


Karena tak tahu harus mengerjakan apa, akhirnya Hanna memutuskan untuk menghubungi Shasya.


"Hallo, Sha!"


"Emp, ada apa Hanna?" Tanya Shasya.


"Kau baik baik saja?" Pertanyaan itu agak sedikit membingungkan Shasya.


"Tentu saja." Shasya terkekeh. "Kau sendiri, apa kau baik baik saja?" Balas Shasya bertanya.


"Tidak! Aku sedang tidak baik baik saja." Jawab Hanna sedikit tak bersemangat.


"Ada apa? Apa yang terjadi padamu?" Shasya langsung panik.


"Ada sesuatu yang menggangu pikiran ku." Imbuh Hanna, sambil memijat pelipisnya.

__ADS_1


Next >>>


__ADS_2