
"Bagaimana, kau berhasil membuat Rey menandatangani berkas itu?" Tante Rosa langsung mengintrogasi Myesa ketika pulang kerumah.
"Tentu saja." Diiringi dengan senyuman sumbringahnya. Myesa menunjukkan berkas yang sudah ditandatangani oleh Rey pada Tante Rosa. Pun dengan Tante Rosa, yang langsung ikut tersenyum sumbringah ketika melihat berkas itu sudah tertera tandatangan Rey disana.
"Apa Rey tampak curiga saat kau meminta dia untuk menandatangani berkas ini?" Tante Rosa memastikan.
"Sepertinya tidak, Ma. Rey tampak biasa saja, bahkan ketika aku mengajaknya keluar. Ia tak lagi bahas tentang berkas ini. Sepertinya ia benar benar percaya kalau berkas ini, dokumen dari Anthony." Myesa menjelaskan.
"Bagus kalau begitu." Tante Rosa kembali tersenyum puas.
"Bagaimana bisa Mama terpikirkan rencana ini?" Tanya Myesa akhirnya.
"Hemm entahlah, hanya terlintas dalam pikiran Mama begitu saja." Jawab Tante Rosa, kembali menutup dokumen itu. Setelahnya meletakkannya di atas meja.
"Apa Mama yakin, ini akan berhasil?"
"Tentu saja! Mama bahkan tidak pernah seyakin ini." Tante Rosa terkekeh.
"Tapi jika sampai Rey tahu. Dia pasti akan sangat membenciku, Ma." Raut wajah Myesa berubah seketika. Ia tampak khawatir.
__ADS_1
"Kau tenang saja, semuanya akan berjalan sesuai rencana kita." Ucap Tante Rosa penuh keyakinan.
Myesa mencoba percaya, bahwa semuanya akan baik baik saja. Dan apa yang ia lakukan ini, tidak akan sampai ketahuan oleh Rey.
*
"Ingin beli apa untuk makan malam?" Tanya Rey, saat ia dan Hanna sedang dalam perjalanan pulang ke apartemen.
"Aku tidak lapar." Jawab Hanna datar, sedangkan ia tampak berubah jadi pendiam seharian ini.
Rey menoleh. Sedangkan Hanna, hanya tampak sibuk dengan ponselnya.
"Lora!" Jawab Hanna singkat.
"Apa dia tahu, tentang hubungan kita?" Rey kembali bertanya.
"Kau tenang saja, tidak akan ada yang tahu tentang hubungan ini." Jawaban itu terdengar agak jutek.
"Bukan seperti itu maksudku." Rey terkekeh. Sepertinya Hanna salah paham dengan pertanyaannya.
__ADS_1
"Aku ingin tidur, bangunkan aku jika sudah sampai." Imbuh Hanna, setelahnya langsung memejamkan matanya.
Rey kembali menoleh ke arah Hanna, ia merasa sikap Hanna benar benar tampak berbeda hari ini.
*
Saat sampai di apartemenpun, Hanna langsung masuk kedalam kamar
"Kau benar tidak akan makan malam dulu?" Tanya Rey. Tapi, tak ada jawaban dari Hanna. Ia sudah terbaring ditempat tidur dengan mata terpejam. Setelah menunggu beberapa saat tak ada jawaban, Rey kembali menutup pintu kamar. Dan memilih untuk makan malam seorang diri.
Setelah selesai, Rey mandi dan ikut berbaring disamping Hanna. Ia tidur, sambil memeluk Hanna yang sedang membelakanginya.
*
Sedangkan ditempat yang berbeda. Raffael tampak gelisah, memikirkan percakapannya sewaktu dikantor dengan Rey tadi.
Haruskah ia membiarkannya begitu saja? Atau justru harus membuat Rey tegas dalam pilihannya. Bukan apa, ia hanya kasihan pada Hanna. Gadis itu pasti juga terpaksa menjalani semua itu, dan harus tampak baik baik saja didepan semua orang.
Raffael, kembali mengusap kasar wajahnya. Walaupun Hanna sudah menolaknya, tapi ia tetap berharap Hanna bisa menjalani hidupnya dengan baik. Raffael benar benar bingung, keputusan apa yang harus ia ambil. Raffael ingin Hanna tetap bahagia, walaupun bukan bersamanya. Ia kembali meneguk alkoholnya, padahal Rey yang memperlakukan Hanna sesuka hati dan kerap kali mengabaikan rasa sakit Hanna. Tapi anehnya, justru Raffael yang merasa bersalah.
__ADS_1
Next>>>