
"Pak, ini dokumen yang Anda minta." Hanna menyodorkan dokumen yang sudah di tandatangani Raffael pada manajer pemasaran.
"Terimakasih, Bu-"
"Hanna! Panggil saja Hanna, dengan begitu aku lebih merasa nyaman." Sela Hanna cepat.
Manajer pemasaran membalas senyuman Hanna, "Baik, Hanna." Lanjutnya.
Sudut bibir Hanna semakin tertarik ke atas. Ia tersenyum dengan manis. Setelahnya kembali ke mejanya.
"Bu.." Panggil Vany, karyawan wanita yang mejanya berhadapan dengan Hanna.
"Iya.." Hanna langsung menoleh ke arah Vany.
"Kami berencana untuk ngadain mini party untuk merayakan hari pertama ibu bergabung di departemen pemasaran, menurut ibu gimana?" Tanya Vany.
"Hemm .." Hanna mengangguk anggukkan kepalanya, "Tampaknya menarik, pesan tempatnya aku y traktir." Ujar Hanna semangat.
"Yes..!" Balas Vany tak kalah semangat dan langsung membuat seisi ruangan heboh kegirangan.
"Tempatnya dimana aja boleh kan, Bu." Sahut yang lain.
"Iiyaaa.." Hanna menyanggupi, dengan bibir yang ikut tersenyum melihat mereka begitu bersemangat. "Tapi sebelumnya, tolong ubah nama panggilan kalian. aku hanya ingin dipanggil dengan nama saja, aku tampak terlalu tua jika dipanggil, Bu. Lagi pula sepertinya aku dan kalian hampir seumuran." Lanjut Hanna.
"Siap..!" Imbuh Vany lengkap dengan anggukan kepalanya.
*
"Rey, tampaknya keberadaan ku disini tak membantu apa apa." Imbuh Yayank, ketika melihat Rey tampak begitu sibuk sedangkan dirinya hanya duduk saja sedari tadi.
"Tentu saja tidak," Rey menghentikan pekerjaannya lalu bangkit dari mejanya dan mencari sesuatu di antara tumpukan dokumen yang berada di sebuah rak.
Setelah menemukan apa yang ia cari, Rey mengambil langkah menuju meja Yayank. "Tolong periksa dokumen ini," Sambil menyodorkan sebuah dokumen ke arah Yayank dan sebelah tangannya merogoh ponselnya yang berdering.
"Baiklah.." Yayank menerima dokumen itu.
Sedangkan Rey, langsung menerima panggilan telepon dan berjalan kembali ke meja kerjanya. "Iya sayang.." Jawab Rey.
Yayank sempat menoleh sebentar ke arah Rey, lalu kembali memilih fokus dengan dokumen di hadapannya.
__ADS_1
"Rey, malam ini mungkin aku akan pulang agak terlambat. Karyawan di departemen pemasaran mengadakan mini party untuk merayakan hari pertama aku bergabung dengan mereka." Imbuh Hanna dari balik telpon.
Rey terkekeh, "Tampaknya kau sangat disambut disana." Rey kembali duduk dibalik meja kerjanya, dan menikmati obrolannya dengan Hanna.
"Tentu saja," Jawab Hanna puas.
Yayank perlahan mendongakkan wajahnya, melihat ke arah Rey. Disana, Rey yang sedang mengobrol dengan Hanna melalui panggilan telpon itu tampak senyum senyum sendiri sambil memainkan bolpen ditangannya. Yayank penasaran, apa yang sedang mereka obrolkan, apa yang Hanna katakan hingga membuat Rey bisa senyum senyum sendiri seperti itu. Cara apa yang Hanna pakai untuk memikat hati kedua pria itu, Rey dan Raffael. Hingga membuat mereka bertekuk lutut dihadapannya.
Yayank terus saja memperhatikan ekspresi yang tergambar di wajah Rey, suara Rey yang samar samar terdengar membuat Yayank semakin penasaran dibuatnya.
"Baiklah, kalau begitu sampai bertemu dirumah." Imbuh Rey, lalu mematikan panggilan telpon itu.
Yayank dengan cepat langsung mengalihkan pandangannya, ketika Rey sekilas menoleh ke arahnya.
"Tampaknya kau sangat menikmati obrolanmu dengan Hanna." Imbuh Yayank akhirnya.
Rey terkekeh, "Tentu, dia selalu punya cara untuk membuatku tersenyum." Jawab Rey, setelahnya kembali melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda tadi.
*
"Kalian mau kemana? Kompak sekali." Ujar Raffael, yang tak sengaja berpas-pasan dengan tim departemen pemasaran diparkiran.
"Hanna?" Raffael terkekeh, "Tampaknya kalian sangat akrab." Lanjut Raffael sambil melirik ke arah Hanna yang mencoba menghindari kontak mata dengannya.
"Ayo, aku sudah sangat lapar." Ujar Hanna akhirnya, berniat mengakhiri obrolan mereka dengan Raffael.
Hanna masuk ke dalam mobil Vany, di jok kedua belakang supir. Saat Yuna hendak masuk dan duduk disamping Hanna. Raffael mencegat dengan cepat, lalu masuk dan duduk disamping Hanna.
"Apa yang kau lakukan?" Tanya Hanna dengan intonasi sedikit kaget.
"Aku ingin ikut." Jawab Raffael enteng.
"Pak Raffa, naik mobil mu sendiri jika mau ikut. Atau aku tak kebagian tempat duduk." Rengek Yuna, mereka memang kerap kali berbicara santai dengan Raffael. Sosok Raffael di perusahaan terkenal humble dan bisa di ajak becanda. Berbeda dengan Rey yang terkenal tegas dan selalu berwajah datar.
"Kau gunakan mobilku saja." Sambil menyerahkan kunci mobilnya pada Yuna. Membuat beberapa karyawan yang mendengar percakapan itu menganga lebar.
"Sungguh? Kau yakin?" Yuna memastikan dengan ekspresi excited.
"Pak Rafa, apa kau yakin membiarkan Yuna mengemudikan mobil mu yang mewah itu?" Sahut Dika, dari jok paling belakang.
__ADS_1
Raffael terkekeh, "Tentu saja." Dengan santainya ia membenarkan posisi duduknya dan memasang safety belt.
Sedangkan Hanna, hanya bisa menghela nafas tampa bisa berbuat apa apa.
Yuna langsung jingkrak kegirangan dan bergegas menuju tempat dimana mobil Raffael sedang terparkil.
"Ayo, tunggu apalagi?" Imbuh Raffael, dengan senyuman sumbringah diwajahnya.
*
Tak tanggung tanggung, tahu yang akan mentraktir mereka adalah istri boss besar, para karywan sengaja memilih sebuah restoran mahal berbintang lima.
Padahal mereka sendiri belum pernah memasuki tempat semewah itu, tapi berani sekali memilih restoran itu dari banyaknya restoran yang ada.
"Apa menurutmu, Hanna akan marah pada kita? Karena memilih restoran ini?" Bisik Dika pada Hendri.
"Entahlah," Balas Hendri balik berbisik, "Tampaknya tidak, lihat saja ekspresinya tampak biasa saja." Lanjut Hendri.
"Tentu saja Hanna tidak akan marah, jangankan mentraktir kita. Jika ia mau, ia bahkan bisa membeli restoran ini dengan mudah." Sahut Yuna dengan suara lantang, yang tiba tiba saja muncul di belakang Dika dan Hendri.
"Ssstttt..." Serentak Dika dan Hendri, berniat membuat Yuna mengecilkan suaranya.
"Ssttt ssttt apanya, suara bisikan kalian saja bisa terdengar dengan jelas!" Lanjut Yuna, setelahnya berjalan mendahului keduanya.
Sedangkan yang lainnya hanya terkekeh, termasuk Hanna. Yang sedang berjalan didepan dan setelahnya menemui salah seorang pelayan, meminta pelayan itu untuk menyiapkan sebuah private room.
"Silahkan, lewat sini." Si pelayan langsung membawa Hanna dan rombongannya melewati koridor restoran menuju room yang masih kosong.
Saat pelayan itu membuka pintu room yang ia tujukan untuk Hanna dan rombongannya, pemandangan mewah dengan suasana nyaman langsung tersuguhkan. Terdapat meja makan bundar berukuran besar ditengah tengah ruangan, dihiasi bunga segar di tengah tengah meja dan terdapat lampu krital yang menjuntai dari langit langit ruangan.
"Waawww..." Vany langsung masuk mengikuti langkah Hanna, dengan tatapan takjub tak bisa terelakkan.
Sedangkan Raffael, langsung membantu menarik kursi saat Hanna hendak duduk. "Terimakasih.." Imbuh Hanna akhirnya, setelah sempat terhenti beberapa saat ketika Raffael melakukan hal yang tak perlu ia lakukan padahal. Karna itu tak akan berpengaruh apa apa pada akhirnya.
Beberapa pelayan lainnya masuk dan menyerahkan buku menu pada masing masing orang.
"Jangan sungkan sungkan untuk memilih," Imbuh Raffael. "Ingat, orang yang akan mentraktir bukan hanya sanggup membayar makanan disini, tapi juga sanggup membeli restoran ini." Lanjut Raffael sambil melirik ke arah Dika dan Hendri secara bergantian, dengan ekspresi menahan tawanya.
Sedangkan Hendri dan Dika hanya terkekeh canggung dan garuk garuk kepala padahal tak gatal.
__ADS_1
Next