My Boss, Is My Husband

My Boss, Is My Husband
Datang Diwaktu Yang Tak Tepat


__ADS_3

Ting Tong...


Suara bel itu, memaksa Rey untuk melepaskan pelukannya. Lalu berjalan menuju pintu, untuk membukannya.


"Apa aku mengganggu?" Tanya Raffael, lalu menyengir lebar.


"Tentu saja!" Pungkas Rey.


"Maaf.." Imbuhnya, lalu masuk tampa dipersilahkan seperti biasa.


"Maaf mengganggu kalian, tapi aku sangat bosan dirumah." Ucap Raffael, lalu duduk di sofa sambil meletakkan minuman kaleng dan makanan yang ia bawa.


"Bukankah kau baru saja punya mainan baru dirumah, kenapa justru bosan." Ucap Rey, lalu ikut duduk bersama Raffael.


"Iya benar, kenapa cepat sekali bosan?" Hanna ikut bergabung.


"Sudah! Jangan bahas itu. Ayo cepat minum." Sarkas Raffael sambil menyodorkan minuman kepada Hanna dan juga Raffael.


"Oh ya.. Aku punya sesuatu untukmu." Rey kembali bangkit dari duduknya, lalu masuk kedalam kamar. Mengambil hadiah pernikahan yang sudah ia siapkan untuk Raffael.


"Daddy.." Imbuh Lucy yang terbangun, ia duduk ditempat tidur sambil mengucek matanya.


"Sorry honey, did Daddy wake you up?" (Maaf sayang, apa Daddy membangunkanmu?) Rey menghampiri Lucy ditempat tidur.


"where is the ice cream?" (Diamana es krimnya?) Taggih Lucy.

__ADS_1


"Do you want to eat now?" (Apa kau ingin makan sekarang?) Rey memastikan.


Lucy mengangguk.


"All right, come on." (Baiklah, ayo.) Rey menggendong Lucy, lalu membawanya keluar dari kamar.


"Apa kau membangunkannya?" Tanya Hanna saat melihat Rey keluar sambil menggendong Lucy.


Raffael langsung menoleh dengan cepat. "Apa dia anak kalian?" Dengan mata terbelalaknya.


"Sudah ku duga, kau pasti akan berfikir seperti itu." Imbuh Rey, lalu kembali duduk di sofa. Dan menyodorkan dua lembar tiket pada Raffael. "Hadiah pernikahan." Lanjutnya.


"Dia anak sahabatku." Imbuh Hanna akhirnya untuk menjawab rasa penasaran Raffael.


"Where's daddy's ice cream?" (Dimana es krimnya Daddy.) Tanya Lucy, yang masih melingkarkan tangannya di leher Rey.


"Mommy will get it in a moment." (Sebentar Mommy ambilkan.)


Kalimat itu kembali membuat Raffael terbelalak untuk kesekian kalinya.


Rey terkekeh. "Aku mengerti perasaan dan rasa penasaranmu. Tapi ceritanya terlalu panjang." Imbuh Rey.


"Tiba tiba saja aku jadi sakit kepala." Raffael merebahkan tubuhnya ke sandaran sofa.


Hanna kembali, membawakan es krim dan sendok di tangannya. Setelahnya menyuapi Lucy es krim tersebut.

__ADS_1


Raffael kembali membenarkan posisi duduknya. "Gadis kecil, apa kau anak mereka berdua? AKu tidak percaya jika mereka berkata kau bukan anak mereka. Perkataan anak kecil biasanya selalu jujur."


"What did he say Daddy?" (Apa yang dia katakan Daddy?) Tanya Lucy, yang tak mengerti apa yang dikatakan Raffael.


Membuat semua yang ada disana jadi tertawa dengan kepolosan Lucy.


*


"Apa katamu?" Pekik Myesa, ketika tiba tiba saja pemotretan itu dibatalkan.


"Maaf, ini perintah dari atasan langsung." Imbuh krue yang bertanggung jawab dalam pemotretan itu.


"Permisi, apa benar dengan Nona Myesa?" Tanya dua orang polisi.


"Iya benar." Jawab Myesa yang tampak heran.


"Kami membawa surat penangkapan Anda. Silahkan ikut kami." Perintahnya.


"Kau mungkin salah orang." Myesa terkekeh tak percaya.


Tapi kedua polisi itu langsung memborgolnya. Myesa, melawan sebisa mungkin. Tapi, tampaknya itu hanya sia sia.


Myesa langsung di pulangkan ke ibu kota.


Setelah mendapatkan kabar tentang penangkapan Myesa. Ibunya langsung datang ke kantor polisi.

__ADS_1


"Atas dasar apa kalian menangkap putriku!" Pekik Tante Rosa, yang tak terima putrinya di jebloskan kedalam penjara.


Next >>>


__ADS_2