My Boss, Is My Husband

My Boss, Is My Husband
Berhasil Dikerjai


__ADS_3

Rey langsung menoleh. Apa maksudnya kalimat itu?


Ceklek..


Pintu terbuka, Hanna pulang.


Tante Lalita langsung bangkit dari duduknya. Membuka celemeknya, lalu meraih tasnya.


"Mama, mau pulang?" Tanya Hanna saat memasuki area dapur dan mendapati Tante Lalita yang sudah bersiap dengan tas nya.


Alih alih menjawab, Tante Lalita justru menoleh ke arah Rey.


"Jangan lupa acara makan malam dengan keluarga Lara malam besok." Imbuhnya, setelah itu beranjak dari sana tampa menoleh ke arah Hanna.


Hanna hanya terdiam disana, mendapati Tante Lalita yang tampak mengacuhkannya.


Pintu apartemen kembali tertutup setelah Tante Lalita keluar dari sana.


"Jangan di pikirkan, mungkin Mama sedang sensi." Ujar Rey.


Hanna kembali mengambil langkah. "Apa Mama marah padaku?" Tanya Hanna, dan ikut duduk bersama Rey di meja makan setelah meletakkan barang belanjaannya di atas kitchen set.


"Tentu saja!" Rey justru terkekeh, dengan ekspresi santainya.


Hanna menggit bibir bawahnya. dengan pikiran yang sudah melayang entah kemana dan tatapan kosongnya.


"Bukankah sudah aku katakan, jangan di pikirkan." Lanjut Rey, yang menyadari Hanna kembali melamun.


*


Raffael, menyambut pagi barunya. Dengan seorang istri disampingnya kini.


"Selamat pagi menjelang siang." Sapa Yayank, yang kini sedang berada dalam pelukan Raffael.

__ADS_1


Raffael hanya tersenyum, lalu bangkit dari tempat tidur.


Rasanya tidak seperti ekspektasinya. Ia tidak sebahagia yang ia harapkan.


Raffael, mengguyur tubuhnya dengan air dingin. Untuk metralkan perasaannya yang memanas, pun dengan perasaan menyesalnya.


Yayank terlalu baik, membuat Raffael tak tega menolak permintaan Yayank kala itu.


Gadis yang berprofesi sebagai pengacara itu sudah sangat banyak membantu menangani kasus yang terjadi di perusahaan.


*


Raffael keluar setelah bersiap, mendapati Yayank yang sedang bergelut di dapur.


"Tidak apa apa, biar aku yang siapkan sarapan. Kau mandi saja." Imbuh Raffael, mengambil alih.


"Tapi.."


"Sudah cepat mandi." Ujar Raffael, sambil menuntun gadis itu masuk ke kamar. Setelahnya ia kembali ke dapur, resiko memiliki istri yang tidak dapat memasak.


*


"Jadi apa project baru yang kau maksud?" Tanya Hanna.


"Jadi kau percaya dengan yang aku katakan itu?" Rey terkekeh.


"Tentu saja!" Hanna tampak serius.


"Aku gunakan alasan itu hanya agar kau mau ikut denganku."


"Jadi kau berbohong!"


Rey tertawa terbahak.

__ADS_1


"Kau ini..!" Bantal sofa langsung melayang ke arah Rey. Pun dengan Hanna yang ikut terkekeh akhirnya, bisa bisanya ia percaya begitu saja. Hingga sampai berhasil di kerjai oleh Rey.


"Jadi..." Ucap Hanna menggantung.


"Hemm .. " Rey menoleh, menunggu kalimat selanjutnya.


"Kau akan hadiri acara makan malam itu?"


"Tergantung izinmu. Kalau kau mengizinkan, aku akan menghadirinya. Kalau tidak, aku tidak akan menghadirinya."


"Kenapa begitu? Ada hak apa aku?" Hanna berdengus.


"Apa kau cemburu?" Goda Rey.


"Aku? Cemburu padamu? Ch.. Tidak akan."


"Jujur saja, wajahmu saja sudah memerah."


"Kau salah lihat, sepertinya kau harus ke dokter mata." Hanna bangkit dari tempat duduknya.


"Kau mau kemana?" Tanya Rey.


"Bukan urusanmu!" Jawab Hanna ketus.


"Aku ikut.." Rey ikut beranjak dan berlari mengikuti Hanna.


*


Jujur saja, sebenarnya kalimat terakhir Mamanya sedikit mengganggunya.


Ada tanda tanya besar didalam benaknya.


Pun dengan sikap yang ditunjukkan Mamanya pada Hanna.

__ADS_1


Rey memang meminta Hanna untuk tidak memikirkannya. Tapi sedangkan dirinya, terus saja memikirkan hal itu.


Next >>>


__ADS_2