
Raffael melepaskan tangannya dari Hanna ketika Rey akan membawa Hanna ke mobilnya.
"Thanks, Raf." Ucap Rey.
Sedangkan Raffael, hanya bisa berdiri disana dan melihat Hanna berlalu pergi bersama Rey.
*
"Apa kata Dokter?" Tanya Rey akhirnya, ketika mereka sudah berada didalam mobil dan sedang dalam perjalanan pulang.
"Hanya kram biasa." Jawab Hanna datar.
"Bagaimana dengan bayinya?" Rey tampak khawatir.
"Baik baik saja."
Mendengar jawaban yang datar itu, akhirnya Rey memilih untuk berhenti bertanya. Ini sepertinya bukan waktu yang tepat untuk mengajak Hanna bicara. Entah apa yang terjadi, tapi Rey sangat yakin pasti ada sesuatu yang mengganggu Hanna.
Mereka sampai di apartemen. Hanna langsung masuk ke kamar dan istirahat. Sedangkan Rey, memilih untuk menghubungi Raffael.
Rey ingin memastikan, apa yang dikatakan Dokter. Benarkah bayinya baik baik saja. Setelah mendengar penjelasan dari Raffael, akhirnya Rey bisa sedikit lega. Dan berharap bayinya benar dalam keadaan baik baik saja. Rey sangat khawatir sewaktu mendapati kabar bahwa Hanna masuk rumah sakit. Entah mengapa ia merasa sangat takut kehilangan bayinya.
__ADS_1
*
"Hanna, waktunya makan malam." Ucap Rey, setelah menyiapkan makan malam, Rey berniat membangunkan Hanna! Tapi..."Kau kenapa?" Rey yang tadinya berdiri di ambang pintu langsung mendekati Hanna yang tampaknya sedang menangis di atas ranjang. "Apa perutmu sakit lagi? Kita ke Dokter sekarang!" Rey tampak sangat panik.
Hanna yang sedang duduk sambil memeluk lututnya mendongakkan wajahnya ke arah Rey, lalu menggeleng.
Rey mengernyitkan keningnya. Jika bukan karena sakit, "Lalu kenapa kau menangis?" Tanyanya memastikan.
Alih alih menjawabnya, Hanna tambah terisak. Membuat Rey tambah panik.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" Rey yang sedang duduk di hadapan Hanna, akhirnya memeluk gadis itu sambil mengusap punggungnya. Berharap itu bisa menenangkannya.
Hanna masih belum menjawab, tapi perlahan tangisnya mulai mereda.
Ternyata sedari tadi, Hanna sibuk membaca komentar jahat tentang dirinya di grup itu.
Raut wajah Rey yang tadinya tampak serius langsung berubah. Dan akhirnya tertawa terbahak.
"Kenapa kau justru tertawa." Protes Hanna di sela isakannya.
"Jadi kau terganggu karena gosip itu?" Tanya Rey, yang masih terkekeh.
__ADS_1
Hanna mengangguk.
"Hanna.. Hanna.. Sejak kapan kau perduli dengan gosip gosip seperti itu. Bukankah sebelumnya kau tak pernah ambil pusing kalau karyawan lain menggosipi mu!"
Benar yang di katakan Rey. Biasanya Hanna sangat tangguh menghadapi hal hal seperti itu bukan?
"Entahlah, tapi hatiku sangat sakit." Hanna kembali menangis.
Rey pun kembali memeluknya. "Sudah sudah, besok kita umumkan saja tentang pernikahan kita." Diiringi dengan kekehannya.
*
"Apa boleh aku izin hari ini?" Tanya Hanna, yang baru saja terbangun dari tidurnya.
"Tentu saja, bukankah kata Dokter kau memang harus istirahat beberapa hari ini." Imbuh Rey, sambil mengancingkan kemejanya. Ia sudah terbangun sedari tadi, dan bersiap untuk berangkat ke kantor.
Rey menghampiri Hanna yang masih berada di atas ranjang.
"Aku sudah siapkan sarapan untukmu." Lalu sebuah kecupan mendarat di puncak kepala Hanna. "Aku berangkat dulu, baik baik dirumah." Lanjutnya setelah itu bergegas pergi.
Ia tampak terburu buru. Hanna hanya memandangi punggung Rey yang berlalu pergi. Setelah itu menghilang di balik pintu kamar yang kembali tertutup.
__ADS_1
Next>>>