My Boss, Is My Husband

My Boss, Is My Husband
Rey Kembali


__ADS_3

Setelah dua hari berlalu, Rey kembali.


"Aku harus buru buru ke kantor. Sebaiknya kau naik taxi saja." Ucap Rey pada Myesa, setelah itu ia mempercepat langkahnya dan meninggalkan Myesa di bandara.


Myesa belum sempat protes. Tapi Rey sudah berlalu pergi. Ia hanya bisa memasang wajah keselnya, lalu kembali seorang diri ke kediamannya.


"Kau sudah kembali." Imbuh Mamanya Myesa, yang sedang menonton di ruang tamu.


"Emp!" Myesa merebahkan tubuh di sofa, tentu dengan raut wajah yang masih tampak kesal.


"Ada apa denganmu?" Mamanya memastikan.


Myesa menghela nafas. "Rey mau mengakhiri hubungan kami."


"Apa katamu!" Dengan mata terbelalak. "Tidak! Jangan biarkan itu terjadi."


Myesa terkekeh. "Apa Mama pikir aku akan biarkan itu?"


"Bukankah sudah Mama katakan, kau harus cepat bertindak. Cepat jebak dia, buat dia menikahi kamu secepatnya."


"Aku sudah lakukan segala cara, Ma. Tapi tidak semudah itu untuk menjebak Rey." Dengus Myesa, sambil meneguk minuman soda yang berada di meja ruang tamu itu. "Apa lagi sekarang Rey seakan semakin menjaga jarak denganku." Lanjut Myesa.


"Apa karna gadis itu?" Tebak Mama Myesa.


"Entahlah, yang jelas setelah ia menikah dengan gadis itu. Rey semakin berubah!"

__ADS_1


Mamanya Myesa terdiam, sepertinya ia sedang memikirkan cara untuk memisahkan Rey dan Hanna. Tentu saja, ia tidak akan membiarkan Rey meninggalkan Myesa. Rey adalah target yang sudah di incar sejak lama. Apapun akan ia lakukan, asala Myesa bisa menjadi istri Rey akhirnya.


"Biar Mama yang urus, kau tenang saja." Imbuhnya kemudian, dengan senyuman menyeringainya.


*


Sebuah pelukan melingkar di pinggangnya dari belakang. Hanna yang sedang mengancingi kemejanya langsung menoleh.


"Rey .." Diiringi senyuman sumbringahnya.


"Aku lelah sekali." Imbuh Rey sambil membenamkan wajahnya dileher Hanna.


"Kau istrirahat saja jika lelah."


"Rey aku harus berangkat kerja sekarang." Imbuh Hanna, sambil mencoba melepaskan pelukan itu.


Tapi tak ada jawaban, Rey malah justru memejamkan matanya. Tampa melepaskan pelukan itu.


Baiklah, Hanna menurut saja. Ia biarkan Rey tertidur sambil memeluknya untuk beberapa saat.


*


*


"Rey, rapatnya akan dimulai 5 menit lagi." Hanna mengingatkan melalui panggilan telpon.

__ADS_1


"Emp! Aku sedang dalam perjalanan ke kantor." Imbuh Rey, setelah itu mematikan panggilan itu. Dan melaju lebih cepat.


Tapi setelah 5 menit berlalu, Rey masih belum juga sampai ke perusahaan.


Sedangkan didalam ruangan rapat itu. Sudah di penuhi oleh orang orang yang akan mengikuti rapat.


"Apa kau sudah hubungi Rey?" Bisik Raffael pada Hanna.


"Sudah.." Diiringi dengan anggukan kepalanya.


Raffael berdecak kesal sambil melirik ke arah jam tangannya. "Apa menurutnya menemani Myesa lebih penting dari pekerjaan!"


Hanna hanya bisa menarik nafas dalam. Tanpa bisa berkomentar.


Tadi pagi Rey meminta izin padanya, untuk menemani Myesa ke psikiater hari ini. Tentu saja Hanna tidak akan melarangnya dan memberikannya izin. Walaupun sebenarnya, ia agak berat untuk membiarkan Rey sebegitu perdulinya pada Myesa.


Tapi mungkin benar seperti yang di katakan Rey. Kesembuhan Myesa juga demi hubungan mereka.


"Maaf saya terlambat." Ucap Rey, yang baru saja memasuki ruang rapat.


Rey, tampak mengontrol nafasnya yang agak ngos-ngosan sambil duduk di kursinya. Lalu melirik ke arah Hanna dan menunjukkan senyuman terbaiknya.


Pun dengan Hanna, yang akhirnya juga hanya bisa menunjukkan senyuman terbaiknya pula.


Next >>>

__ADS_1


__ADS_2