
Hanna turun dan menemui Raffael di basement.
"Masuk ke mobil." Perintah Raffael. Ia yang tadinya sedang berdiri sambil bersandar dimobilnya, pun langsung beranjak dan masuk kedalam mobil.
Hanna sempat ragu, tapi akhirnya ia masuk juga kedalam mobil Raffael.
Mobil itu langsung melaju, dengan keheningan sepanjang perjalanan.
Raffael berhenti di sebuah restoran.
"Untuk apa kita kesini?" Tanya Hanna akhirnya.
"Temani aku sarapan!" Raffael langsung keluar dari mobil dan masuk kedalam restoran tanpa menunggu Hanna.
"Huftt .. Baiklah, sepertinya ia sedang tidak baik baik saja." Gumam Hanna, sambil menatap punggu Raffael yang sudah berlalu pergi. Hanna akhirnya keluar dan mengikuti Raffael kedalam restoran.
"Kau ingin makan apa?" Tanya Raffael, dengan raut wajah seriusnya. Memeriksa satu persatu menu yang tertera di buku menu yang berada di hadapannya.
"Apa saja." Jawab Hanna, untuk mempercepat waktu.
Raffael memesan beberapa menu yang menurutnya Hanna akan suka.
"Baik, mohon ditunggu sebentar." Imbuh si pelayan, setelah itu berlalu pergi.
"Apa kau marah padaku?" Tanya Hanna, ia ingin memastikan.
"Tidak!" Jawaban yang sangat singkat.
"Lalu?" Hanna belum puas dengan jawaban itu.
__ADS_1
"Apa benar saat itu Rey memintamu menggantikan Myesa, karena ia tidak datang ke acara pernikahan itu?" Raffael sepertinya masih penasaran dengan hal itu. Dan ingin memastikannya langsung dari Hanna. Bukan hanya dari mulut Myesa saja.
Hanna mengangguk pelan. Karena memang seperti itulah keadaannya saat itu.
Raffael mengangguk pelan, seakan ia sudah paham.
"Aku kecewa kalian menyembunyikan itu semua dariku." Lanjut Raffael.
"Maaf, aku tidak bermaksud untuk membohongimu. Aku hanya merasa, itu tidak perlu aku katakan. Karena pada akhirnya kami juga akan bercerai." Hanna mencoba menjelaskan, mengapa ia sampaiĀ memilih untuk merahasiakannya.
"Bercerai?"
"Emp! Pernikahan kami hanya akan sampai satu tahun saja. Om Surya meminta kami untuk mendaftarkan peceraian kami setelah satu tahun."
Itu seperti angin segar yang berhembus dipadang pasir yang gersang, untuk Raffael.
"Benarkah?" Raffael ingin memastikan sekali lagi.
"Ada apa dengan ekspresi itu? Kenapa kau tampak sangat senang, jadi kau berharap aku bercerai dengan Rey?" Tanya Hanna, sambil terkekeh.
"Tentu saja!" Jawaban spontan itu membuat Hanna mengernyitkan keningnya.
Dasar Hanna, entah kapan gadis itu akan peka dengan perasaan Raffael padanya.
Pelayan datang, lalu menghidangkan makanan dimeja mereka.
"Ayo cepat makan." Ucap Raffael semangat.
Ia merasa sepertinya ia akan kembali memiliki kesempatan untuk memiliki Hanna. Dan kali ini, ia tak akan menyia-nyiakan waktu lagi. Atau Hanna, benar benar akan menjadi milik orang lain.
__ADS_1
"Oh iya, aku akan kembali hari ini. Apa kau akan ikut denganku?" Tanya Raffael kemudian.
"Emm.. Nanti aku beritahu Rey dulu." Jawab Hanna ragu-ragu.
"Baiklah.."
Keduanya kembali menikmati makanan mereka. Sepertinya kesalahpahaman itu bisa diselesaikan dengan mudah. Mungkin karena Raffael memang bukan sosok pemarah. Atau, mungkin karena ia bisa memaklumi situasi genting yang di alami oleh Rey dan Hanna di hari pernikahan itu.
*
Rey, dengan terburu-buru kembali ke kamar hotel. Ia membeli berbagai macam buah dan makanan ringan. Berharap itu bisa membantu menghilangkan rasa pahit di mulut Hanna.
Tapi sayangnya, kamar itu kosong tak berpenghuni. Rey mencoba mencari ke kamar mandi, tapi Hanna juga tak berada disana.
Next >>>
Jangan lupa dukungannya ya para readersss.. Agar Author tambah semangat!
Bantu Vote dan Gift supaya Novel ini masuk ranking.
Terimakasih ..........
Oh iya, satu lagi..
Maaf nggak bisa balas satu persatu komentar kalian. Tapi Author selalu baca dan kadang senyum senyum sendiri baca komentarnya....
Semongkooo Semuanyaaaa ...
Happy Reading guyssssss
__ADS_1