My Boss, Is My Husband

My Boss, Is My Husband
Benar Benar Mencintai


__ADS_3

"Maaf, sudah membuat kalian menunggu lama." Imbuh Yayank yang kembali menemui Hanna dan Raffael di dalam aula pernikahan.


Setelahnya, mereka mengobrol banyak hal sambil menunggu Rey kembali.


Saat Rey kembali, belum lagi sempat ia duduk.


"Sebentar, ada yang ingin aku bicarakan denganmu." Hadang Raffael, dan langsung membawa Rey menjadi dari kedua wanita itu.


Rey, hanya mengernyit heran. Tapi tetap mengikuti langkah Raffael yang membawanya cukup jauh dari tempat Hanna dan Yayank berada.


"Ada apa?" Tanya Rey akhirnya.


Raffael langsung menunjukkan beberapa bukti pada Rey.


"Apa maksudnya ini?" Rey masih tampak bingung, memang beberapa berkas yang tertera di layar ponsel Raffael.


"Ternyata surat perceraian mu, berasal dari Myesa!" Ucap Raffael langsung ke inti.


Alih alih terkejut, Rey justru terkekeh.


"Ternyata benar seperti dugaanku." Ya, setelah pembicaraan dengan Hanna, ia kembali teringat dengan berkas yang terburu di mintai Myesa untuk ia tanda tangan. Myesa bahkan langsung menarik berkas itu saat ia kembali ingin memeriksanya. Tapi ia, juga tidak ingin asal menuduh tampa bukti.


"Dari mana kau tahu tentang ini?" Tanya Rey.


"Mereka mengurus perceraianmu dengan Hanna melalu orang dalam di firma hukum tempat Yayank bekerja. Kau terlalu lengah, hingga Myesa bisa memiliki salinan dokumen penting milikmu." Raffael begitu bergebu-gebu. Ia begitu geram dengan apa yang dilakukan Myesa.


"Apa kau pernah menghamilinya?" Sarkas Raffael lagi.

__ADS_1


"Apa kau gila!" Pekik Rey sedikit terkejut dengan pertanyaan itu.


"Benar! Itu tidak mungkin. Tapi apa kau tahu, ia keguguran di hari pernikahan kalian." Lanjut Raffael.


Rey tampak mengernyitkan keningnya.


"Yayank tak sengaja mendengar percakapan mereka saat itu. Ia dan Mamanya! Sepertinya Tuhan memang sedang ingin menunjukkan sifat aslinya padamu!"


"Mamanya?"


"Kau terkejut? Aku juga! Berarti selama ini ia telah berdusta padamu. Semua yang ia katakan hanya kebohongan belaka."


Rey meremas geram tangannya. Ia benar benar merasa telah sangat di permainkan oleh wanita itu. Rey tak menyangka ia selicik itu.


*


"Apa yang kalian obrolkan? Hingga lama sekali." Papar Hanna, ketika keduanya kembali bergabung dengannya dan juga Yayank.


"Kau kepo sekali." Sambil mengacak puncak kepala Hanna. Rey ingin mengalihkan pembicaraan.


"Jadi.. Apa yang harus kita lakukan sekarang?" Tanya Yayank kemudian.


"Minum, sepertinya aku butuh alkohol." Sarkas Rey, lalu beranjak dari duduknya.


"Aku rasa juga begitu." Raffael setuju, dan ikut bangkit menyusul Rey.


Hanna dan Yayank hanya dapat mengernyitkan kening mereka. Lalu juga ikut beranjak dari duduk mereka.

__ADS_1


Mengikuti kedua laki laki itu yang sudah keluar dari aula pernikahan.


Mereka pun melaju dengan mobil masing masing.


*


"Apa yang kalian bicarakan?" Hanna tampaknya benar benar penasaran.


"Obrolan laki laki. Kau tak perlu tahu." Elak Rey.


Hanna kembali menatap tajam ke arah Rey. Ia penasaran karena tiba tiba saja raut wajah Rey tampak berbeda setelah obrolannya dengan Raffael tadi.


*


"Kau memberitahukannya pada Rey?" Yayank memastikan.


"Emp.. Aku rasa dia harus tahu yang sebenarnya." Raffael mengiyakan.


"Apa itu tidak akan mengganggunya?"


"Itu lebih baik, dari pada ia terus saja di perdaya oleh wanita itu!" Raffael tampak begitu emosi.


Pasalnya, apa yang telah dilakukan Myesa benar benar merugikan Hanna dan juga Rey.


Walaupun Raffael mencintai Hanna, ia tetap ingin memberikan Hanna yang terbaik. Baginya, tak apa Hanna menolaknya. Yang penting Hanna bisa bahagia dengan pilihannya.


Karena tampaknya, Hanna sepertinya telah benar benar mencintai Rey pada saat itu. Walaupun ia berdalih itu semua demi anaknya.

__ADS_1


Next >>>


__ADS_2