My Boss, Is My Husband

My Boss, Is My Husband
Party Time


__ADS_3

Hari ini, Hanna pulang lebih cepat. Sebelum Raffael menawarkan diri untuk mengantarnya pulang.


Dan kali ini, ia tidak pulang kerumahnya sendiri. Melainkan ke rumah Rey. Bukan karna Rey, justru karena Tante Lalita. Ia tak ingin membuat wanita itu mengkhawatirkan dirinya sepanjang malam, seperti yang di katakan oleh Om Surya.


Kedatangan Hanna langsung disambut hangat oleh Tante Lalita.


"Kau sudah makan? Mau Mama suruh Mbak buat kan sesuatu?" Tanyanya antusias.


"Gak usah, Ma. Nanti sekalian makan malam saja. Em, Hanna mandi dulu." Imbuhnya, dan masih sangat canggung. Hanna masih belum terlalu terbiasa di perlakukan sangat baik oleh seseorang seperti itu.


"Em.. Baiklah. Cepat mandi dan istirahatlah sebentar. Nanti Mama panggil saat makan malam."


Hanna hanya mengangguk. Lalu beranjak dari sana, menaiki tangga dan menuju kamar Rey.


Sebenarnya Hanna merasa tidak enak, jika menempati kamar itu tanpa penghuninya. Tapi ya mau bagaimana!


Hanna masuk kedalam kamar itu, dan seperti biasa. Pemandangan yang pertama kali tersuguhkan adalah foto Myesa yang masih tertempel di dinding kamar itu.


Hanna hanya berdiri setelah menutup pintu kamar itu. Memandangi foto itu dengan sedikit sudut bibir yang terangkat.


"Foto itu cukup jadi bukti, bahwa kau tidak bisa menjadi nyonya di kamar ini. Selamanya kau hanya seorang pengganti, Hanna." Imbuhnya sambil terkekeh pelan.


Hanna kembali melangkah setelah menghela nafas dalam, ia mandi setelahnya bersiap untuk makan malam nanti bersama kedua orang tua yang akan kembali membuat dirinya merasa canggung.


Dan sebelum panggilan untuk makan malam itu datang, ia menyempatkan diri untuk beristirahat sejenak.

__ADS_1


Merebahkan tubuhnya ditempat tidur Rey. Lalu menyibukkan diri dengan ponselnya.


"Haruskah aku menghubunginya?" Gumam Hanna, saat ini ia sedang menatap log panggilan di layar ponselnya. Nama Rey tertera disana. Tapi rasanya gengsi untuk menghubungi Rey terlebih dulu. Apa lagi hanya untuk memberitahunya, jika kini Hanna sudah menuruti permintaannya untuk tetap tinggal dirumah Rey, untuk tidak membuat Tante Lalita khawatir.


"Ah, tidak usah saja." Hanna keluar dari log panggilan. Lalu memotret langit-langit kamar Rey, setelahnya menjadikannya Snap WhatsApp setelah memprivasikannya untuk semua orang. Hanya Rey yang dapat melihatnya. Itu cara yang Hanna pilih untuk memberitahukan Rey secara tidak langsung.


Tok!Tok!


"Hanna, ayo makan malam dulu."


Terdengar suara Tante Lalita dari luar sana. "Iya, Ma." Hanna langsung bergegas. Setelah meletakkan ponselnya di atas nakas.


Makan malam itu berlangsung cukup hangat. Walaupun tanpa Rey, Hanna bisa mengatasi rasa canggungnya dengan cukup baik.


"Hanna, apa besok bisa temani Mama? Ada sesuatu yang ingin Mama beli." Imbuh Tante Lalita disela-sela makan malam itu.


"Tidak apa-apa, besok libur kerja saja satu hari." Ujar Om Surya akhirnya, yang seakan tahu maksud dari menggantungnya jawaban Hanna.


Jika sudah di izinkan oleh empunya perusahaan, tak ada alasan lagi Hanna untuk menolak permintaan Tante Lalita.


"Emp, baiklah kalau begitu. Boleh, Ma." Jawab Hanna semangat.


Membuat Tante Lalita langsung tersenyum puas.


*

__ADS_1


Rey bekerja begitu giat, hingga hampir tak punya waktu untuk istirahat. Sedangkan Anthony, tak pernah datang untuk meninjau apapun. Semuanya diserahkan pada sekertarisnya untuk menghandle project itu.


Rey kembali ke kamar hotelnya dengan rasa lelah luar biasa. Duduk di sofa sambil berselonjoran kaki. Walaupun ia sudah mendengar kabar yang cukup melegakan dari Raffael, tapi rasanya masih saja ada yang kurang.


Hingga, postingan Hanna di lihat olehnya. Bibirnya langsung tersenyum.


"Dasar gadis keras kepala! Akhirnya kau menurut juga." Imbuhnya yang kini seakan rasa lelahnya hilang seketika. Mengetahui Hanna kini berada di tempat yang sepatutnya dan sesuai dengan keinginannya, membuat Rey cukup lega. Baru saja berniat untuk menghubungi gadis itu. Tiba-tiba saja pintu kamar hotelnya diketuk seseorang.


Rey bangkit, lalu beranjak untuk membuka pintu.


"Myesa.. !"


"Party time..." Imbuh Myesa dengan sebotol champagne ditangannya yang sedikit diangkat menggantung untuk menunjukkannya pada Rey.


"Mye.. Ini bukan saatnya untuk-"


Tanpa mendengarkan apa yang akan dikatakan Rey. Myesa langsung menerobos masuk kedalam kamar itu tanpa dipersilahkan.


"Bisa kau ambilkan gelasnya?" Imbuh Myesa sambil duduk di sofa.


Sedangkan Rey, hanya bisa menghela nafas. Karena percuma juga melarang gadis itu. Ia juga pasti tidak akan mendengarkannya.


"Baiklah!" Rey meletakkan ponselnya di atas meja. Lalu menuju kitchen untuk mengambil gelas.


Namun apa yang dilihat Myesa dilayar ponsel Rey, membuat ia penasaran. Hingga, ia meraih ponsel dengan layarnya yang masih hidup itu. Setelahnya ikut melihat postingan Hanna.

__ADS_1


Matanya terbelalak. Dengan perasaan geram dan marahnya!


__ADS_2