
Bukan hanya Rey, Raffael pun seakan seperti kehilangan semangatnya dalam hidup. Ia juga sering tidak fokus dengan pekerjaannya.
"Pak.. Pakk...!" Panggil sekretarisnya Raffael, mengagetkan Raffael dari lamunannya.
"I-iya.." Jawabnya, agak kelagapan.
"Ini dokumen yang Anda minta." Imbuh Mei, sekretaris Raffael.
"Terimakasih.." Ucap Raffael, setelah menerima dokumen itu. Setelah kepergian Mei dari ruangannya, ia pun ikut beranjak dari balik meja kerjanya. Lalu, menuju lantai 13.
"Apa kau sudah dapatkan kabar tentang Hanna." Tanya Raffael, saat masuk ke dalam ruang kerja Rey.
Rey yang tadinya sedang melamun, menoleh ke arah Raffael yang kini sudah duduk di hadapannya.
"Belum.." Setelah jawaban itu, Rey kembali mengalihkan pandangannya. Lalu kembali melamun.
"Ini sudah 3 bulan, kita bahkan tak punya petunjuk sedikitpun kemungkina kemana Hanna akan pergi." Imbuh Raffael, lengkap dengan raut gelisahnya.
"Kenapa justru kau yang tampak lebih khawatir?" Tanya Rey. Lalu menghela nafas dalam. "Entah bagaimana kabarnya. Sekarang usia kehamilannya pasti sudah 7 bulan. Dan sebentar lagi ia akan melahirkan, sedangkan aku masih belum bisa menemukannya. Entah akan seperti apa ia akan menghidupi anakku nanti seorang diri!" Sarkas Rey.
__ADS_1
Raffael pun ikut menghela nafas dalam. "Semoga saja, ia tidak menikah lagi dengan pria lain." Imbuhnya begitu saja.
Rey langsung menatap tajam ke arah Raffael. Ia tak terfikirkan seperti itu, ia tak pernah berfikir kalau Hanna bisa saja menikah dengan laki laki lain. Dan anaknya, akan memanggil pria itu dengan sebutan Papa.
"Tidak! aku tidak akan biarkan itu terjadi!" Pungkasnya.
Raffael justru terkekeh melihat keseriusan di wajah Rey.
"Apa yang bisa kau lakukan memangnya, sedangkan kau masih duduk disini tampa tahu Hanna berada dimana!"
Benar, tak ada yang bisa dilakukan. Rey, maupun Raffael. Kecuali hanya dapat berdoa, agar takdir kembali mempertemukan mereka.
"Kemana?" Tanya Rey sambil mengernyitkan keningnya.
"Mencari alkohol!" Ucap Raffael yang sudah beranjak dari duduknya.
"Tentu!" Rey ikut bangkit dari duduknya, meraih jas nya setelah itu mengikuti Raffael.
*
__ADS_1
Myesa kembali pulang ke kediamannya lalu melempar kesal tas nya ke sembarang tempat.
Tante Rosa yang melihat Myesa yang tampak kesal langsung menghampirinya.
"Apa Rey masih mengabaikanmu?" Tanyanya memastikan.
Mereka memang berhasil memisahkan Hanna dan Rey. Tapi, mereka masih belum berhasil membuat Rey kembali menerima Myesa. Sepertinya, ada yang salah dalam perencanaan mereka.
"Emp!" Jawab Myesa lengkap dengan raut kesalnya.
"Aneh sekali, padahal seharusnya ini waktu yang tepat kau masuk dalam kehidupannya menggantikan gadis itu." Gumam Tante Rosa.
"Aku tidak mau tahu, pokonya Mama harus buat rencana baru. Gimana caranya agar Rey bisa jadi milik Myesa lagi!" Tegas Myesa, setelah itu beranjak dari sana dan meninggalkan Mamanya seorang diri diruangan itu.
Tante Rosa, kembali berfikir keras. Rencana apa lagi yang harus ia buat. Pasalnya, itu sudah percobaan yang entah sudah ke berapa kalinya. Tapi masih juga tetap gagal! Kini, ia benar benar dipusingkan dengan itu. Ini benar benar di luar dugaannya.
Seperti biasa, Myesa akan selalu mengamuk setiap kali apa yang ia inginkan tak kesampaian. Ia menghamburkan semua barang barang yang berada di meja riasnya. Sepertinya, penyakitnya kembali kambuh.
Ia sudah begitu bersemangat awalnya, merasa dirinya akan segera kembali menjadi nyonya dari Tuan Rey. Dapat memiliki segalanya didalam genggamannya. Tapi kini, semua itu justru seperti angan yang tak kesampaian.
__ADS_1