My Boss, Is My Husband

My Boss, Is My Husband
Sesuatu Yang Dirindukan


__ADS_3

Myesa kembali ke hotel dengan penuh emosi. Ia langsung menuju ke kamar Rey. Mengetuk pintu kamar itu dengan brutal. Ia sudah menahan emosinya sedari tadi, saat dihadapan Raffael. Dan kini, rasanya ia ingin cepat cepat menerobos kedalam kamar itu dan menghadang Hanna.


Hanna yang masih belum tertidur menoleh ke arah Rey yang baru saja bangkit dari tempat tidur. "Kau disini saja." Ujar Rey, setelah itu bergegas untuk membuka pintu.


Dan benar saja, saat pintu itu terbuka Myesa langsung ingin memaksa masuk. Untung Rey menahannya dan langsung menutup pintu itu kembali.


"Kita bicara dikamarmu saja." Sambil menarik tangan Myesa.


"Aku ingin bertemu dengan wanita itu."Paksa Myesa, mencoba melepaskan diri dari cengkraman Rey.


"Mye!" Bentak Rey akhirnya.


Air mata buayanya langung bereaksi. "Suruh dia keluar dari kamarmu sekarang juga, Rey." Pintanya sedikit memaksa.


Rey menghela nafas dalam. Rasanya selalu sakit kepala setiap kali menghadapi tingkah Myesa. Padahal dulu jelas jelas ia menyukai Myesa karna sikap manjanya. Tapi sekarang, ia justru muak dengan tingkah itu.


"Sebaiknya kau masuk ke kamarmu sekarang. Jangan buat keributan disini!"


"Baik! Tapi kau harus ikut ke kamarku. Aku tidak akan biarkan kalian tidur dikamar yang sama." Desak Myesa, tak mau mengalah.


"Ya ya ya.. Cepat masuk!" Rey tak mau banyak berdebat. Ia mengikuti keinginan Myesa, masuk kedalam kamarnya.


Senyuman sumbringah langsung terpancar dari wajah angkuh Myesa.


"Aku akan madi dulu. Ingat, jangan sampai menghilang! Atau aku benar benar akan marah." Ancam Myesa.


"Emm..."  Jawab Rey singkat, lalu duduk di sofa. Mengusap kasar wajahnya.

__ADS_1


*


Hanna menunggu cukup lama, tapi Rey, tak juga kembali. Berulang kali Hanna memeriksa jam di ponselnya, itu bahkan sudah lewat tengah malam. "Kemana perginya dia?" Batin Hanna. Sedangkan ponsel Rey, masih tergeletak di atas nakas.


Sepertinya Hanna benar benar harus mengalah. Ketika Myesa, lebih menjadi prioritasnya sekarang.


Mata Hanna semakin berat, lalu ia tertidur. Ketika jam, tepat menunjukkan pukul 03.00 malam.


Pagi kembali menyapa, namun langit mendung itu justru mengundang hujan. Hawa dingin itu, semakin membuat Hanna meringkuk kedinginan. Hanna semakin menenggelamkan tubuhnya kesesuatu yang terasa hangat itu.


Nyaman sekali, rasanya Hanna ingin terpejam lebih lama lagi. Tapi, tunggu! Rasanya seperti ada yang aneh. Hanna membuka matanya perlahan. Benar saja, ia sedang berada didalam pelukan Rey sekarang.


"Sejak kapan ia kembali?" Gumam Hanna. Dan sudah sejak kapan ia berada dalam pelukan Rey. Bisa bisanya ia tidak menyadari itu. Sambil terus menatap wajah Rey yang masih tertidur pulas. Hal yang sudah lama ia rindukan.


Sial, mual itu sangat menggangu.


"Kau baik baik saja." Suara itu terdengar sedikit panik.


Hanna hanya bisa mengangguk, sambil mengangkat sebelah tangannya menggantung ke udara. Untuk memberitahukan, bahwa ia baik baik saja.


"Ini sudah biasa terjadi." Imbuhnya, setelah selesai memuntahkan isi perutnya.


"Benarkah?" Tanya Rey, sambil mengikuti langkah Hanna yang keluar dari kamar mandi.


"Emp!" Hanna mengangguk. "Setiap pagi!" Lanjutnya, lalu mencari sesuatu dari dalam kulkas. Ia membutuhkan sesuatu yang dapat menghilangkan rasa pahit dari mulutnya.


"Kau ingin sesuatu?"

__ADS_1


"Emp..!" Jawab Hanna, ia masih terus mencoba mencari tapi tak menemukan apapun dari dalam kulkas itu.


"Apa?" Rey memastikan.


"Apa saja. Yang penting bisa menghilangkan rasa pahit dari mulutku." Imbuh Hanna, lalu menutup pintu kulkas itu.


"Tunggu sebentar." Rey meraih sweater dan kunci mobil.


"Kau mau kemana?" Tanya Hanna, saat melihat Rey sepertinya akan bergegas keluar.


"Mencarikan sesuatu untukmu." Jawabnya, lalu keluar dari kamar itu.


Hanna masih memandang pintu yang baru saja ditutup oleh Rey, dengan bibir tersenyum.


Grrtttt ...


Getar ponsel itu, langsung membuat ekspresi Hanna berubah. Ia bisa langsung menebak, siapa yang menelponnya.


Dan sesuai dengan dugaannya.


"Iya, Raf."


"Aku di basement hotel sekarang." Ucapnya, tak banyak basa basi.


"Aku akan turun sekarang."


Next >>>

__ADS_1


__ADS_2