My Boss, Is My Husband

My Boss, Is My Husband
Sudah Terpaut


__ADS_3

Myesa langsung kembali meletakkan ponsel Rey di atas meja. Ketika Rey kembai keruangan itu, dengan gelas dan pembuka tutup botol Champagne di tangannya.


Myesa, langsung melemparkan senyuman terbaiknya. Sedangkan otaknya, mulai mencari cara bagaimana agar Rey benar-benar bisa terpengaruh. Sepertinya, hasutannya kemarin tidak berguna dan sama sekali tidak membuat Rey goyah dengan keputusannya. Yang ingin serius membina rumah tangga dengan Hanna, mengingat anaknya yang kini sedang dikandung oleh gadis itu. Sepertinya Rey sangat yakin, jika itu memang anaknya.


Myesa sedikit kesal, beberapa hari terakhir ini selalu di acuhkan oleh Rey. Ditambah lagi sekarang, dia baru mengetahui jika gadis itu sudah mulai tinggal bersama Rey.


"Dasar Anthony brengsek! Bisa-bisanya dia menggagalkan rencana itu. Benar-benar tidak bisa di andalkan." Maki Myesa dalam hati. Ia benar-benar kesal, rencana yang sudah dirancangnya untuk menjebak Hanna gagal total.


Rey membuka tutup botol Champagne dan menuangkannya ke dalam gelas milik Myesa.


"Thanks.." Imbuh gadis itu.


Rey hanya mengangguk sambil tersenyum. Lalu juga menuangkan Champagne itu kedalam gelas miliknya.


Myesa mencoba untuk bersikap seperti biasa. Mencoba bersikap tetap asik. Walapun sangat jelas Rey menunjukkan sikap jaga jaraknya.


"Jadi, kau percaya. Anak yang dikandung Hanna, benar-benar anakmu?" Ujar Myesa. Akhirnya ia benar benar tidak tahan jika tidak membahas masalah itu.


Rey hanya mengangguk pelan, tanpa mengeluarkan suara. Dengan tatapan yang masih tertuju ke arah champagne ditangannya.


Myesa menyeringai kesal.

__ADS_1


"Jadi..! Kau akan tetap mempertahankan pernikahan kalian?"


"Ya..!" Jawab Rey singkat. Lalu meneguk sampagne dan setelahnya meletakkan gelas itu di atas meja.


"Bagaimana jika aku keberatan!" Protes Myesa.


"Aku minta maaf, Mye! Sepertinya kita benar benar tidak berjodoh. Dan aku yakin, kau bisa menemukan orang yang lebih baik dariku! Aku sudah pikirkan ini semua, dan sepertinya semua memang sudah ditakdirkan seperti ini."


"Tidak akan!" Myesa terkekeh penuh arti. "Yang aku inginkan kau, Rey!" Ucap Myesa penuh penekanan. Dengan tatapan tajam menghujam netra Rey. Yang kini juga sedang menatapnya penuh rasa bersalah.


"Kau tidak bisa memaksa ku. Hidup dan hatiku, aku yang atur. Aku harap kau bisa mengerti!" Sepertinya Rey benar benar sudah bulat dengan keputusannya.


Berada jauh dari Hanna, sepertinya menyadarkan Rey. Bahwa hatinya sesungguhnya telah terpaut dengan gadis itu. Sepanjang hari yang dipikirkannya hanya Hanna. Sepanjang hari yang ingin ia tahu adalah, apa yang sedang dilakukan Hanna disana, baik baikkah dia disana. Adakah Hanna merindukan dirinya juga!


Myesa benar-benar tidak menyangka, kalimat itu bisa diucapkan oleh Rey begitu lantang. Dunianya seakan runtuh seketika. Kalimat itu benar benar memperjelas bahwa ia tak lagi punya harapan, dan Rey benar benar sudah lepas dari genggamannya.


Myesa hanya terdiam, cukup lama. "Baiklah, kalau kau memang sudah putuskan itu." Imbuhnya kemudian. Ia menoleh ke arah botol champagne, lalu kembali menuangkannya kedalam gelas.


"One more, please!" Sambil menyodorkan satu gelas champagne lagi ke arah Rey.


"Sudah cukup Mey. Besok pagi kita ada pemotretan lagi." Tolak Rey, sambil meraih gelas itu dari tangan Myesa lalu kembali meletakkannya ke atas meja.

__ADS_1


Myesa langsung menunjukkan wajah ngambeknya.


"Hanya satu gelas lagi, Rey." Rengeknya. Dia sepertinya ingin membuat Rey mabuk. Agar bisa dengan mudah menjalankan aksinya. Tentu, otaknya sudah berfikir keras sedari tadi, dengan apa yang harus ia lakukan. Ia harus cepat bertindak untuk menjalankan plan B.


Rey menggeleng dengan tatapan tajamnya, pun dengan raut seriusnya. Rey bangkit dari tempat duduknya. "Ini sudah sangat larut, sebaiknya kau kembali ke kamarmu sekarang." Usir Rey secara halus.


"Aku ingin disini sebentar lagi." Ucap Myesa, alih alih bangkit dari duduknya. Ia justru merebahkan tubuhnya di atas sofa. Berselonjoran kaki sambil memainkan ponselnya.


"Mye! Aku sangat lelah hari ini. Aku ingin istirahat. Please!" Tegas Rey. Yang masih berdiri ditempat semula, dan berharap Myesa bisa mengerti dan keluar dari kamarnya.


Myesa langsung menoleh, mendengar ucapan Rey yang penuh penekanan. Itu sangat jelas, kalau ia sedang di usir dari sana saat ini.


Grrttt ... Grrttt ...


Ada panggilan masuk di ponsel Rey, yang masih tergeletak di atas meja itu. Rey meraih ponselnya, menerima panggilan itu setelah melangkah menjauh dari ruangan itu.


Dan tak lama berselang.


Kringgg ...


Terdengar suara pecahan kaca. Rey yang terkejut, langsung menuju sumber suara. Matanya terbelalak melihat apa yang terjadi disana.

__ADS_1


Pecahan botol champagne berhamburan disana, juga dengan Myesa yang dengan sengaja menyayat urat nadinya.


Next>>>


__ADS_2