My Boss, Is My Husband

My Boss, Is My Husband
Kembali Ke Masa Lalu


__ADS_3

"Kosongkan jadwalmu selama satu minggu kedepan, besok kita akan melakukan perjalanan dinas." Imbuh Rey, saat akan keluar dari perusahaan.


"Kenapa tiba tiba?" Tanya Hanna tampak bingung. Mengapa ia tak tahu sama sekali tentang perjalanan dinas itu.


"Dadakan.." Imbuh Rey, lalu mengambil haluan yang berbeda dengan Hanna. Karena ia harus menuju ke mobilnya yang berada ditempat yang berbeda dengan tempat dimana mobil Hanna terparkir.


*


Keesokan harinya, Hanna sudah bersiap dengan koper berserta isinya. Sesuai dengan yang dikatakan Rey. Ia sudah siap melakukan perjalanan dinas seperti yang dikatakan Rey.


Ia menunggu jemputan dari Rey didepan gedung apartemen. Saat Rey tiba, Hanna langsung masuk kedalam mobil.


"Memangnya kita ada project baru?" Tanya Hanna, saat mereka sedang menuju ke bandara.


"Empp..." Jawab Rey sekenanya.


"Project apa?" Hanna tampak penasaran dan bingung.


Apa ia sudah melewati sesuatu di perusahaan? Hingga ia bisa tidak tahu apa apa dengan project baru ini.


"Nanti kau juga akan tahu sendiri." Jawab Rey, tampak santai.


Hanna menunggu di boarding room. Tak seberapa lama, Rey kembali dengan dua lembar tiket di tangannya. Hanna, bahkan tak melihat ke mana tujuan mereka. Ia sibuk dengan ponselnya, berkomunikasi dengan Shasya melalu chat.


Hingga naik pesawat, Hanna masih begitu serius dan fokus dengan chat itu.


Hanna, baru menyadarinya. Ketika pramugari mengumumkan bahwa mereka telah tiba di tempat tujuan.


"Apa katanya tadi?" Hanna langsung menarik lengan Rey.


Rey terkekeh. "Kau tidak salah dengar." Imbuhnya masih tampak santai.


"Tapi kenapa kesini?" Protes Hanna, sepertinya ia masih belum mau kembali menginjakkan kaki ke negara itu.


"Bukankah ada project yang harus kita kerjakan." Imbuh Rey masih menahan kekehannya.


*


Dalam perjalanan menuju apartemen yang pernah mereka tempati dulu. "Antarkan aku kerumahku saja." Ujar Hanna kemudian.


"Kau yakin?" Rey memastikan.


"Emp!" Jawab Hanna, lalu mengalihkan pandangannya ke arah luar jendela mobil.


"Baiklah.." Rey setuju saja.


Akhirnya, Rey pun melajukan mobilnya ke arah alamat rumah Hanna.


Sesampainya disana, Hanna dan Rey masuk kedalam sana. Tapi sayangnya, sepertinya rumah itu tidak mungkin ditempati sebelum dibersihkan. Rumah yang ditinggalkan sudah hampir 4 tahun itu terlalu berdebu dan banyak sarang laba laba.


"Apa kau yakin ingin tinggal disini?" Rey memastikan.


Hanna hanya terdiam, jelas jelas jawabannya tidak mungkin.


"Sudah, ikut ke apartemen saja. Kita tidak mungkin sempat membersihkan rumah ini hari ini. Lagi pula, kita hanya selama satu minggu saja disini, jadi lebih baik tinggal di apartemen saja." Tawar Rey, yang akhirnya Hanna menurut juga.


Sebelum keluar dari rumah itu, Hanna melihat si pinky yang sudah sangat berdebu. Seakan kembali teringat dengan perjuangan mereka di masa lalu.


"Sabar sebentar lagi, aku akan menjemputmu." Imbuh Hanna, tersenyum ke arah si pinky. Setelahnya keluar dari rumah dan menuju ke mobil Rey.


*


"Welcome back to our apartment." ( Selamat datang kembali ke apartemen kita.) Rey mempersilahkan Hanna untuk masuk.

__ADS_1


"Apartemen kita?" Hanna menyeringai.


Ia langsung mengedarkan pandangannya. Tak ada yang berubah dari apartemen itu. Setiap ruangan dan perabotannya masih sama persis seperti 3 tahun lalu. Bahkan, foto pernikahan mereka masih terpajang dan tersusun rapi ditempatnya.


"Biar aku bantu bereskan barang barangmu." Rey meraih koper yang berada di tangan Hanna. Lalu memasukkannya kedalam kamar.


Hanna, masih memperhatikan setiap sudut apartemen itu. Banyak kenangan yang tercipta disana. Walau hanya beberapa bulan saja Hanna menempati apartemen itu. Tapi itu cukup, baginya dan Rey menciptakan banyak kenangan.


Hanna tanpa sadar tersenyum, ketika kini ia memandang lekap ke arah foto pernikahannya dan Rey.


Benar benar konyol, bisa bisanya saat itu Rey menikahinya dengan cara seperti itu. Pun dengan dirinya yang bahkan bisa dengan begitu saja setuju tanpa berfikir panjang.


Hanna terkekeh seorang diri.


"Orang akan mengira kau gila, karena tertawa sendiri." Goda Rey, yang kini sudah duduk di sofa ruang tamu.


"Kenapa kau masih menyimpan semua foto pernikahan itu?" Hanna melangkah, lalu ikut duduk bersama Rey di ruang tamu.


"Lalu kau berharap aku membuangnya?" Rey balas bertanya.


"Tapikan itu sudah tidak diperlukan lagi."


"Itu menurut mu!" Tegas Rey.


Tapi entah mengapa, ada bahagia di benak Hanna. Ia tersenyum, sambil memperlihatkan Rey yang tampak serius dengan tontonannya setelah menghidupkan televisi.


"Jika kau lelah, istirahat saja dikamar. Aku akan tidur disini." Imbuh Rey akhirnya.


"Emp baiklah." Hanna langsung beranjak. Dan melangkah menuju ke kamar.


"Ch.. Dia bahkan tak menolaknya." Ujar Rey, melirik ke arah Hanna yang berlalu pergi dan masuk kedalam kamar.


Tak dapat di pungkiri, Rey bahagia. Ketika kini, ia berhasil kembali bisa membawa Hanna kembali ke apartemen itu. Walaupun dengan status yang berbeda.


"Aku akan jadikan kau kembali menjadi milikku, Hanna. Dan jangan harap kau bisa melepaskan diri lagi saat itu." Sarkas Rey sambil menyeringai.


*


Sepertinya Hanna benar benar lelah setelah melakukan perjalan selama 12 jam, ia tertidur begitu pulas.


Saat terbangun, hari sudah gelap. Dengan cepat ia mangalihkan pandangannya ke arah jam yang sudah menunjukkan pukul 23.15 waktu setempat.


Hanna beranjak dari tempat tidur, keluar dari kamar. Dan mendapati Rey masih juga sedang menonton di tempat semula. Dengan lampu ruangan sudah di matikan, hanya ada cahaya remang remang yang di pancarkan dari televisi.


"Kau sudah bangun? Kalau lapar, aku sudah siapkan makan malam untukmu." Imbuh Rey, pada Hanna yang sedang berjalan menghampirinya.


"Kau sudah makan?" Hanna balik bertanya.


"Sudah.." Jawab Rey tanpa menoleh.


Hanna duduk tepat disamping Rey. "Kenapa tak bangunkan aku?" Tanya Hanna sambil mengucek matanya.


"Kau terlihat begitu lelap, aku jadi tidak tega ingin membangunkannya." Ucap Rey, lalu menutup mulutnya yang menguap.


"Kalau mengantuk, kenapa tidak tidur saja?"


"Aku takut kau kembali melarikan diri." Imbuh Rey, lalu merebahkan kepalanya di pangkuan Hanna.


"Ch.. Untuk apa aku melarikan diri." Hanna terkekeh, lalu mengusap lembut kepala Rey. Membuat Rey langsung memejamkan matanya.


Hanna, memandang lekat wajah itu. Wajah, yang sudah sejak lama ia rindukan. Wajah yang mengingatkannya pada bayi mungilnya.


Ya, bayi itu sangat mirip dengan Rey, matanya, hidungnya, juga bibirnya.

__ADS_1


Hanna, langsung menengadahkan wajahnya. Ketika air matanya mengalir dan akan jatuh ke wajah Rey. dengan cepat Hanna menyeka air matnya.


Rey perlahan membuka matanya. "kenapa kau menangis?" tanya Rey, lalu kembali memejamkan matanyanya yang terasa sangat mengantuk.


"Aku merindukan seseorang." Imbuh Hanna.


"Siapa? Apa ia laki laki?" Rey memastikan.


"Emp.." Jawab Hanna dengan kekehan penuh arti dan air mata yang kembali ia seka.


"Ch.. Aku akan merebutmu kembali dari laki laki itu, dan tidak akan pernah membiarkan mu menangisi ia lagi." Lanjut Rey.


"Kau tidak akan pernah bisa melakukan itu." Balas Hanna.


"Kita lihat saja nanti." Rey tetap bersikeras. Lalu, benar benar terlelap ketika Hanna memilih untuk tidak lagi berdebat dengannya.


*


Saat terbangun keesokan paginya, Rey tak mendapati Hanna disana. Ia sudah tertidur dengan bantal di kepala dan selimut yang menyelimutinya.


Dengan cepat Rey mengedarkan pandangannya. Lalu menghela nafas lega ketika melihat Hanna sedang sibuk di balik kitchen set.


"Jika sudah bangun, cepat mandi dan bersiap." Imbuh Hanna, ketika menyadari Rey sudah terbangun.


"Sebentar lagi, aku masih mengantuk." Ucap Rey yang kembali memejamkan matanya.


Hanna hanya tersenyum, lalu melanjutkan menyiapkan sarapan untuk mereka berdua.


*


Setelah selesai menyiapkan sarapan, Hanna menghampiri Rey yang masih terlelap.


"Rey cepat bangun, bukankah katamu ada project yang harus kita kerjakan disini." Imbuh Hanna, sambil menguncang pelan tubuh Rey.


"Acaranya nanti malam." Rey, sepertinya masih enggan untuk bangun. Ia masih saja terpejam.


"Tapi tetap saja kau harus bangun sekarang. Ini sudah hampir siang, dan aku sudah sangat lapar."


Mendengar itu, Rey langsung terbelalak. "Kenapa kau tidak sarapan duluan saja?"


"Mana mungkin, jika tuan rumah nya saja belum sarapan."


"Kau sungkan sekali." Ucap Rey, lalu menarik pergelangan Hanna yang sedang berdiri tak jauh dari ia berbaring hingga terjatuh ke atas tubuhnya.


"Rey apa yang kau lakukan?" Hanna terbelalak sambil mencoba melepaskan diri dari dekapan Rey.


"Sedang memeluk mu." Imbuh Rey santai.


"Cepat lepaskan aku Rey! Bagaimana kalau kekasihmu tiba tiba datang dan melihat ini."


"Kekasih?" Rey terkekeh. "Aku tak punya." Lanjutnya.


"Tak perlu berbohong. Jelas jelas saat itu kau memanggil seseorang dengan sebutan, yank."


Rey tertawa terbahak. "Jadi kau cemburu karena itu?"


"Tidak! Siapa juga yang cemburu. Biasa saja!" Hanna mengalihkan pandangannya ke arah lain.


Rey kembali terkekeh. "Baiklah, aku akan kenalkan kau padanya nanti malam." Imbuh Rey akhirnya.


"Berarti...!" Hanna kembali menoleh ke arah Rey dengan cepat lalu menatapnya tajam. "Kau benar benar brengsek." Maki Hanna, lalu dengan sekuat tenaga melepaskan diri dari dekapan Rey hingga benar benar terlepas. Lalu berlalu, dan mengurung diri di kamar.


Sedangkan Rey, justru tersenyum melihat raut cemburu di wajah Hanna yang tampak begitu jelas.

__ADS_1


Next >>>


__ADS_2