My Boss, Is My Husband

My Boss, Is My Husband
Semoga Saja


__ADS_3

Pintu lift berhasil di buka, dan Rei orang pertama yang menerobos masuk kedalam sana.


"Hanna, kau baik baik saja!" Rey langsung memeluk Hanna dengan erat. Rasa khawatirnya benar benar memuncak hingga ke ubun ubun.


"Aku baik baik saja, cepat bawa Yayank kerumah sakit." Imbuh Hanna, panik.


Raffael, langsung membopong Yayank dan membawanya keluar dari lift.


Hanna, meraih tas Yayank yang tergeletak disana. Dan Rey membereskan berkas berkas y berhamburan karena terlepas dari tangan Yayank.


Setelahnya, Hanna dan Rey. Menyusul Raffael kerumah sakit.


*


"Apa Yayank, akan baik baik saja." Tanya Hanna, dalam perjalanan menuju rumah sakit.


Rey menoleh, ke arah Hanna yang sedang menggigit ujung kuku jari jempolnya. Padahal ia sendiri sebenarnya sangat takut sewaktu didalam lift tadi. Pikirannya sudah menerka nerka kemungkinan buruk yang bisa saja terjadi. Ia bahkan berfikir, mungkin saja ia akan mati hari itu jika lift itu gagal di perbaiki dan jatuh dari lantai 10.


Rey meraih tangan Hanna, lalu menggenggamnya. "Tenangkan dulu dirimu, baru khawatirkan orang lain." Imbuh Rey, yang akhirnya membuat Hanna menoleh ke arahnya. "Yayank akan baik baik saja, ia pasti sedang ditanggani dirumah sakit sekarang." Rey mencoba menenangkan Hanna. "Tidak perlu berpura pura kuat didepanku, jika kau takut, tunjukkan saja. Jika kau marah, tunjukkan saja dan maki lah aku sepuasmu. Jika kau cemburu, tunjukkan saja rasa cemburumu."


Hanna, mengernyitkan keningnya. Kalimat itu ambigu bagi Hanna. Entahlah! Hanna menghela nafas dalam, hatinya masih berdegup kencang, lututnya pun masih terasa gemetar.


Saat sampai dirumah sakit, Hanna langsung bergegas. Mencari keberadaan Raffael, "Disana.." Tunjuk Rey, yang menghampiri Hanna di dalam ruang UGD sambil celingak celinguk.


Hanna, kembali mengambil langkah. Diikuti Rey dari belakangnya.


"Bagaimana keadaan Yayank?" Tanya Hanna, pada Raffael yang juga tampak khawatir.


"Dokter sedang menanganinya." Imbuh Raffael, Hanna ikut melihat ke arah tatapan Raffael. Disana, Yayank sedang di pasang alat bantu pernapasan.


Raffael melangkah, mendekati Dokter yang tampak telah selesai memeriksa keadaan Yayank. "Bagaimana keadaannya, Dok." Tanya Raffael.


Hanna juga ikut melangkah mendekat, hanya Rey yang masih berdiri ditempatnya semula. Agak jauh dari mereka.


"Pasien baik baik saja sekarang. Dia akan tenang setelah obat Antiansietas  bekerja." Imbuh dokter tersebut.


"Maaf, Dok. Apa obat itu bisa mempengaruhi kehamilannya?" Tanya Hanna hati hati.


"Apa katamu? Yayank hamil?" Raffael, mengernyitkan keningnya dan menatap Hanna tajam.


Hanna menoleh, lalu mengangguk pelan.


"Tidak masalah, obat yang kami berikan tidak akan berpengaruh pada janinnya. Untuk pemeriksaan lebih lanjut, sebiaiknya pasien juga di periksa oleh Dokter Kandungan." Ujar Dokter tersebut. "Saya permisi." Lanjutnya, setelah itu berlalu pergi.

__ADS_1


"Kau yakin? Yayank hamil?" Raffael memastikan.


"Emp.. Dia berniat merahasiakannya padamu!" Imbuh Hanna, itu tidak mungkin dirahasiakan lagi. Raffael tentu harus tahu tentang itu.


Raffael terkekeh, raut wajahnya tampak kesal.


"Ini.." Hanna menyodorkan tas Yayank, pada Raffael. "Aku lega Yayank baik baik saja sekarang. Aku dan Rey akan kembali ke perusahaan." Ujar Hanna.


"Empp.." Jawab Raffael, lalu menerima tas itu.


"Bicara baik baik dengannya. Pikirkan masa depan anak kalian." Lanjut Hanna, setelah itu beranjak dari sana.


*


Di perusahaan, Tante Rosa membayar seseorang. Tampaknya accident lift itu memang disengaja.


Tante Rosa tersenyum puas, kali ini ia memang tidak ingin menyakiti Hanna. Hanya ingin menakut nakuti nya saja. Ia ingin bermain main terlebih dulu!


"Kau akan semakin dekat dengan ajalmu, Hanna!" Gumam Tante Rosa dengan senyuman penuh arti.


Ia, kembali mendorong box berisi pel dan sapu.


Bahkan Tante Rosa berpas pasan dengan Hanna dan Rey saat keduanya sudah kembali ke perusahaan.


Sedangkan Rey, sedikit mengernyitkan keningnya. Lalu melirik ke arah Tante Rosa.


"Rey.." Panggil Hanna, mengalihkan Rey.


"Iya, Hanna.." Jawab Rey, lalu menghentikan langkahnya mengikuti Hanna.


"Aku lupa, ada dokumen yang harus kau tanda tangani. Dokumennya tertinggal di mobilmu." Imbuh Hanna.


"Aku akan mengambilnya, kau tunggu diruanganku saja." Ujar Rey, setelah itu beranjak dari sana, kembali ke parkiran.


Sedangkan Hanna, kembali melangkah. Namun, ia ragu ragu ketika akan masuk lift. Hanna masih merasa takut, setelah kejadian yang menimpanya tadi. Hanna mengurungkan niatnya. Lalu memilih menaiki tangga. Menuju lantai 13!


Rey, sampai keruangannya lebih dulu. Ia tak mendapati Hanna disana.


"Kemana perginya dia?" Rey mengernyitkan keningnya, meletakkan dokumen yang berada di tangannya ke atas meja kerjanya. Lalu keluar dari ruangannya untuk bertanya pada sekretarisnya.


"Apa Hanna sudah kesini tadi?" Tanya Rey.


"Tidak Pak.." Diikuti dengan gelengan kepalanya.

__ADS_1


Rey kembali mengernyitkan keningnya. Lalu merogoh ponselnya dan menghubungi Hanna.


"Kau dimana?" Tanya Rey ketika Hanna menerima panggilan nya.


"Aku sedang menuju kesana.." Imbuh Hanna dengan suara ngos-ngosan.


"Kau.."


"Aku ditangga darurat lantai 7.." Jawab Hanna, memangkas kalimat Rey.


"Tunggu disana!" Ujar Rey, setelahnya langsung mematikan panggilan itu. Ia bergegas menuju tangga darurat di lantai 7.


"Apa yang kau lakukan? Mengapa justru naik tangga?" Tanya Rey, lalu duduk disamping Hanna. Yang sedang duduk ditangga sambil mengatur nafasnya.


"Apa menurutmu, aku masih bisa naik lift. Setelah apa yang terjadi?" Sarkas Hanna, terpenggal penggal.


Rey justru terkekeh dan mengacak puncak kepala Hanna.


"Hemm baiklah baiklah..." Rey bangkit dari duduknya, lalu berjongkok di hadapan Hanna sambil membelakanginya. "Ayo naik, aku akan membawamu ke lantai 13." Ucap Rey.


"Ch! Kau yakin?" Hanna terkekeh, ia tak yakin Rey sanggup menggendongnya sampai lantai 13.


"Tentu saja! Kau terlalu meremehkan ku!" Pungkas Rey.


Hanna malah terbahak, dan tak beranjak dari duduknya.


Akhirnya Rey meraih pergelangan Hanna, menuntun Hanna untuk naik ke punggungnya.


"Pegang yang erat." Ujar Rey, setelahnya melangkah menaiki tangga.


"Rey..." Panggil Hanna, di tengah tengah keheningan mereka menuju lantai 13.


"Emm..." Jawab Rey.


"Apa menurutmu, hubungan Rafa dan Yayank akan kembali membaik?"


"Hemm entahlah, semoga saja begitu. Mereka bukan lagi anak kecil, mereka pasti tahu apa yang tebaik untuk anak mereka. Aku yakin, Rafa pasti akan mengambil keputusan yang benar." Entah mengapa, Rey begitu yakin, Raffael dan Yayank pasti akan memperjuangkan yang terbaik untuk anak mereka. Accident itu justru berdampak baik, akhirnya mereka punya alasan untuk memberitahu Raffael tentang kehamilan Yayank.


"Semoga saja.." Hanna menghela nafas dalam.


Sebenarnya, dalam hati kecilnya. Hanna berharap masalah ini bisa cepat terselesaikan. Dengan begitu, Yayank tak perlu lagi terus berada di ruangan Rey. Dan Rey pun, tak perlu lagi bersusah payah mencari cara untuk membuat Raffael dan Yayank kembali bersama.


Next ✔️

__ADS_1


__ADS_2