
Raffael membanting stir, lalu kemudian menghentikan mobilnya di bahu jalan. Obrolannya dengan Rey beberapa menit yang lalu cukup mengganggu Raffael. Ia mengutuk dirinya sendiri, atas kebodohan dan kecerobohan yang ia lakukan tempo hari.
*Flashback on
"Apa kau masih mencintai Hanna?" Pertanyaan Rey spontan langsung membuat Raffael terbelalak.
"A-apa maksud pertanyaan itu." Raffael jelas terkejut, tiba - tiba saja Rey mengajukan pertanyaan yang diluar dugaan.
Rey yang awalnya duduk bersandar di sandaran sofa, menegakkan posisi duduknya, menatap penuh selidik netra Raffael. "Raf, kau tak sengaja mengakui perasaan mu itu saat mabuk. Jadi tak perlu mengelak lagi! Aku tidak akan marah." Ujar Rey dengan intonasi datar.
Benarkah? Benarkah Rey tak akan marah! Kalau Raffael mengakui perasaannya dengan terang - terangan.
Raffael terdiam, cukup lama. Ia menelan salivanya kasar. Telapak tangannya berkeringat dingin.
"Ya! Aku memang masih menyukai Hanna. Tapi tak pernah sekalipun berniat merebutnya darimu." Ungkap Raffael akhirnya.
"Aku percaya!" Rey kembali bersandar disandarkan kursi, menghela nafas dalam. "Lagi pula, bagaimana bisa kau merebut yang telah di gariskan Tuhan untuk ku." Lanjut Rey.
__ADS_1
*Flashback off
"Kenapa baru sekarang Rey membahasnya?" Gumam Raffael, bertanya pada dirinya sendiri. Pikiran Raffael benar - benar kacau saat ini. Bagaimana ia harus bersikap di hadapan Rey kedepannya. Pasti akan canggung sekali rasanya.
*
Sebuah kecupan mendarat di puncak kepala Hanna, sesaat setelahnya, Hanna tenggelam didalam dekapan Rey.
"Aku tak menyangka kau bisa seberani itu." Ujar Rey, tampaknya kejadian siang tadi masih terngiang-ngiang di benaknya.
Hanna hanya tersenyum tipis, lalu meraih tangan Rey, dan menggenggamnya lembut.
"Tidak! Aku tidak akan biarkan kau berada dalam situasi seperti itu lagi." Tegas Rey.
"Kita tidak bisa memprediksikan apa yang akan terjadi dalam hidup kita, Rey." Hanna melepaskan diri dari dekapan Rey, lalu menatap netra Rey lembut, sedangkan kedua tangannya kini menggenggam tangan Rey lebih erat. "Kau tahu, apa yang aku syukuri atas kejadian tadi siang?" Tanya Hanna.
Rey sedikit mengernyitkan keningnya, "Apa?" lalu balik bertanya.
__ADS_1
"Aku bisa tahu, siapa - siapa saja yang benar - benar mengkhawatirkanku." Imbuh Hanna, diiringi dengan senyuman merekahnya.
"Bisa - bisanya kau jadikan itu, uji percobaan untuk melihat siapa yang paling mengkhawatirkanmu." Rey mengacak puncak kepala Hanna, setelahnya kembali menarik tubuh Hanna kedalam dekapannya.
*
Tiga bulan berlalu, dan hari ini adalah putusan akhir dari sidang atas penyerangan yang dialami Hanna tempo hari. Setelah menjalani proses yang panjang, akhirnya hari ini Tante Rosa akan menerima ganjaran atas perbuatannya.
Setelah semua bukti dan kesalahan masa lalunya kembali terungkit.
Ya, kasus Myesa dulu, akhirnya juga menyeret Tante Rosa kedalamnya. Membuat hukuman yang akan diterimanya lebih berat lagi. Ia terbukti telah merencanakan penyerangan itu sejak lama.
Selama tiga bulan terakhir, banyak hal yang terjadi. Misalnya seperti membaiknya hubungan diantara keempatnya. Setelah Raffael memutuskan untuk rujuk dengan Yayank, Rey pun bisa menghela lega. Raffael, dengan sungguh - sungguh akan mengubur perasaannya dalam - dalam. Dan memulai semuanya kembali dari awal dengan Yayank.
Pun dengan Hanna, ia sangat bersyukur Yayank bisa memaafkannya. Walaupun sesungguhnya, bukan ia yang patut disalahkan atas perasaan Raffael terhadapnya.
Begitupun dengan kasusnya kali ini, Hanna meminta Yayank untuk menjadi pengacaranya. Hanna yakin, Yayank pasti bisa memenangkan kasusnya kali ini.
__ADS_1
Next >>>