
Rey mencoba menarik Hanna, dan membawanya kemobil.
"Rey, aku mohon lepaskan aku." Lirih Hanna dengan air mata yang mengalir dari sudut matanya. Itu membuat Rey terhenti, dan menatap dalam netra gadis itu. Seakan ia sedang benar-benar memohon pada Rey. "Aku mohon." Benarkan! ia benar-benar memohon akhirnya. Ucapan itu terdengar lebih lirih. Membuat Rey benar-benar melepaskan genggaman tangannya pada akhirnya.
Lalu Hanna tersenyum penuh arti ke arah Rey. Setelahnya ia berbalik dan berjalan perlahan. Rey, hanya mengikuti Hanna seperti bayangannya dari belakang.
Hanna, masih sedang mencoba untuk mengembalikan kesadarannya yang terasa cukup aneh. Ia terus berjalan tanpa tujuan, dengan jas Rey yang masih tergantung di pundaknya. Menutupi tubuhnya yang mulus terpampang nyata. Tak sedikit lirikan mata pria yang tertuju ke arah Hanna. Dan lirikan itu langsung mendapatkan tatapan tajam dari Rey yang seakan siap memangsa mereka jika mereka berani menatap ke arah Hanna.
Hanna berjalan cukup jauh. Namun, reaksi obat didalam tubuhnya semakin membuat dia ingin segera melampiaskannya. Hal yang akhirnya membuat Rey menepuk jidat adalah, ketika Hanna mengambil langkah dengan cepat dan masuk kedalam sebuah Motel.
"Huffttt... Apa lagi kali ini!" Gumam Rey.
Sedangkan Hanna, sedang mengetuk sembarang pintu dan membuat pemilik Motel tersebut marah karena hal yang dilakukannya.
"Aku akan memesan kamar." Imbuh Rey kemudian.
Si pemilik Motel menoleh ke arah Rey. "Dia kekasihmu?" Tanyanya.
"Istriku!" Jawab Rey sambil menyodorkan uang ke arah si pemilik Motel.
"Tunggu sebentar, akan aku ambilkan kuncinya." Dengusnya.
Tak berapa lama, si pemilik Motel kembali. Lalu menyodorkan kunci ke arah Rey. "Jika memang istri mengapa tak lakukan dirumah saja. Ch, kau pikir aku bisa kau bohongi." Gumam si pemilik Motel seorang diri, tapi suaranya bisa didengar jelas oleh Rey.
Rey, hanya menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum melihat si pemilik Motel yang tak henti hentinya merepet seorang diri.
Setelahnya, Rey mebuka pintu kamar itu dan membawa Hanna masuk bersamaan dengan dirinya kedalam kamar itu. "Spertinya kau minta dikurung malam ini!" Imbuh Rey sambil merebahkan tubuhnya ke atas ranjang. Ia merasa lelah karena sudah berjalan cukup jauh.
Namun hal yang selanjutnya terjadi kembali membuat Rey tak habis fikir, dan harus menelan salivanya kasar. Ketika Hanna tiba-tiba saja menindih tubuhnya. Dan yang lebih parahnya, entah sejak kapan Hanna melepaskan seluruh pakaiannya dan tak menyisakan sehelai benangpun.
"A-apa yang kau lakukan?" Rey terbata.
"Aku benar-benar sudah tidak tahan." Lirih Hanna, lalu tanpa aba-aba langsung ******* bibir Rey lembut. Untuk beberapa saat, Rey menikmati itu. Hingga ia kembali tersadar jika itu bukan hal yang benar. Ia tidak boleh mengambil kesempatan disaat Hanna sedang berada dibawah pengaruh obat.
__ADS_1
Sepertinya, yang dimasukkan si klien kedalam minuman Hanna adalah obat perangsang yang akan membuat si peminum akan merasa gejolak yang memaksa dia untuk segera melepaskan hasratnya.
Rey mendorong tubuh Hanna, lalu merebahkannya kesamping. Namun des*han Hanna justru membuat tubuhnya merinding dan sulit mengontrol diri. Hanna terus memaksa agar dicumbui, ia terus merintih.
"Hanna sadarlah!" Pekik Rey, yang semakin tak tahan dengan godaan yang ditampilkan Hanna.
Rey menarik Hanna. Membawanya ke kamar mandi. Menyenderkannya ke dinding lalu menghidupkan sower. Rey bermaksud mengembalikan kesadaran Hanna dengan mengguyurkannya dengan air,
Namun yang terjadi, justru membuat ia semakin tergoda. Hanna berdiri dengan kedua tangan yang terangkat karena Rey menyenderkannya ke dinding, mengunci tangannya dengan genggamannya agar Hanna tak melakukan perlawanan.
Tatapan teduh Hana terus menatap netra Rey.
Rey menurunkan pandangannya. Tubuh mulus Hanna yang sedang diguyur air itu benar-benar membuat Rey hilang akal bahkan tanpa pengaruh obat. Rey merasakan gairahnya yang memuncah.
"Kau pasti akan menyesalinya, Hanna." Lirih Rey, lalu ******* penuh na*su bibir ranum Hanna.
Keduanya begitu menikmati. Tapi sayangnya, Hanna sama sekali tak tahu apa yang sebenarnya sedang ia lakukan.
*
"Apa yang terjadi!" Lirihnya dengan suara bergetar.
Hanna bangkit dari tempat tidur, mencari keberadaan bajunya. Namun apa yang ia dapati justru membuat ia terduduk terkulai di lantai. Ketika pandangannya tertuju ke arah ranjang yang dipenuhi dengan bercak darah.
Air matanya tiba-tiba saja mengalir. Hanna, benar-benar sudah melakukan kesalahan besar. Sialnya, ia tak ingat siapa orang yang sudah melakukannya.
Hanna berulang kali memukul-mukul kepalanya, untuk mengingatkan apa yang telah terjadi semalam.
Seakan blank, Hanna benar-benar tak berhasil mengingat. Ia hanya ingat ketika menerima minuman dari si klien, dan setelah itu Hanna tak ingat apapun lagi.
"Apa jangan-jangan-" Lirih Hanna terputus. Hanna berfikir telah melakukannya dengan si klien.
Hanna menjambak rambutnya dengan kasar. Benar-benar menyesali kebodohan yang telah ia lakukan. Ia memaki dirinya sendiri berulang kali. Tangis Hanna pecah! Rasanya ia ingin mati saja.
__ADS_1
Hanna tak sanggup membayangkan, bisa-bisanya ia menyerahkan keperawanannya pada laki-laki itu. Laki-laki yang bahkan sama sekali tak ia kenal.
Hanna, meluapkan segala emosinya dikamar itu. Ia bahkan merasa jijik pada tubuhnya sendiri.
*
Sedangkan Rey, merasa sangat bersalah pada Hanna. Karena sudah merenggut keperawanan Hanna disaat Hanna sedang berada dibawah pengaruh obat. Seakan itu seperti Rey dengan sengaja mengambil kesempatan.
Rey benar-benar tak punya keberanian untuk mengakuinya pada Hanna. Ia takut Hanna salah faham dan membencinya.
"Hanna, apa yang harus aku lakukan?" Rey mengusap kasar wajahnya.
Dalam satu sisi, ia ingin mengakuinya. Namun disisi yang lain, ia tidak siap jika kejujurannya itu justru membuat dia kehilangan Hanna. Karena ia tahu betul, Hanna bukan orang yang akan menuntut tanggung jawab.
Rey benar-benar bingung dengan keputusan apa yang harus ia ambil.
Tatapannya langsung tertuju ke arah Hanna yang baru keluar dari Motel tersebut dalam ke adaan yang tak baik-baik saja.
Melihat Hanna seperti itu, membuat Rey tambah bersalah dan semakin takut untuk mengakuinya.
Rey menghidupkan mobilnya, memperhatikan Hanna dari jarak jauh. Ia ingin memastikan Hanna pulang dalam keadaan selamat.
Grrtt ...
Rey menoleh ke arah ponselnya, ada pesan dari Hanna. Rey langsung membuka pesan itu dengan cepat.
'Maaf, aku tidak bisa masuk kantor hari ini.'
Rey, mengalihkan pandangannya kembali ke arah Hanna, yang kini sedang terduduk termenung di halte.
Cukup lama, Rey memikirkan apa yang harus ia balas.
'Apa kau sakit?' Balas Rey akhirnya. Itu menandakan ia sudah mengambil keputusan, untuk pura-pura tidak tahu apa yang terjadi pada Hanna. Dan mencari waktu yang tepat untuk akhirnya mengakuinya kembali. Ya, Rey memilih akan melakukan itu.
__ADS_1
'Iya.' Balas Hanna cepat.
Next >>>