
"Apa Rey ada diruangannya?" Tanya Raffael, pada Hanna yang tampak termenung di balik meja kerjanya.
"Hah.." Hanna langsung menoleh. Sepertinya ia tak mendengar dengan jelas apa yang dikatakan Raffael tadi.
"Apa Rey ada didalam ruangannya?" Raffael mengulangi pertanyaannya.
"Tidak, dia sudah keluar. Apa ada dokumen yang harus ditandatangani?" Hanna memastikan, karena melihat ada dokumen yang dipenggang Raffael.
"Iya, dan aku butuh secepatnya." Ujar Raffael, sambil melirik ke arah jam tangannya.
Hanna hanya terdiam, dia tidak dapat memastikan kapan Rey akan kembali.
"Bisa hubungi dia, dan tanyakan kapan ia akan kembali ke kantor?"
"Hah .." Lagi dan lagi. Sepertinya fokusnya benar benar terganggu. Hanna yang tadinya sedang menatap kosong ke arah meja kerjanya kembali menoleh ke arah Raffael yang sedang berdiri di depan meja kerjanya.
"Ada apa denganmu?" Tanya Raffael akhirnya, sambil terkekeh. Melihat tingkah Hanna yang bahkan termenung disaat sedang bercakap dengannya. "Apa kau merasa canggung karena pengakuanku semalam?" Tanya Raffael akhirnya.
"Tidak..." Jawab Hanna pelan.
"Lalu?" Raffael memastikan.
"Tidak ada." Hanna kembali menunduk.
__ADS_1
"Jadi, bisa kau hubungi Rey sekarang. Dan tanyakan kapan dia akan kembali ke kantor?" Ulang Raffael.
Hanna langsung meraih ponselnya, lalu mencari kontak Rey. Setelah kontak itu sudah tertera dilayar ponselnya. Ia justru ragu ragu untuk menekan tombol memanggil.
"Apa bisa kau hubungi sendiri?" Ucap Hanna, sambil mengarahkan pandangannya ke arah Raffael. Dan kembali mengunci layar ponselnya.
Raffael mengernyitkan keningnya.
"Hemm hemm... Baiklah!" Ucap Raffael, sedikit bingung dengan tingkah Hanna. Setelah itu merogoh ponsel dari saku jasnya, lalu menghubungi kontak Rey.
"Aku disini." Imbuh Rey, yang baru keluar dari dalam lift. Ia baru saja berniat mengangkap panggilan itu, tetapi kembali mengurungkan niatnya setelah melihat Raffael berada di depan meja kerja Hanna.
"Syukurlah kau sudah kembali. Ada dokumen penting yang harus kau tandatangani sekarang." Imbuh Raffael, setelah itu melangkah mengikuti langkah Rey yang baru saja melewatinya. Keduanya masuk kedalam ruang kerja Rey.
"Tidak! Memangnya kau keluar kemana tadi?" Raffael memastikan.
"Myesa mengajakku kesuatu tempat." Rey menyerahkan dokumen itu, kembali pada Raffael.
"Myesa?" Raffael terkekeh.
"Empp!" Rey mengangguk. Ekpresinya tampak biasa saja. Ia seperti tak merasa bersalah, keluar dengan wanita lain tepat di hadapan Hanna yang berstatus istrinya.
Raffael mengangguk anggukkan kepalanya, ia paham. Mengapa sikap Hanna tampak sedikit berbeda tadi.
__ADS_1
"Ada apa?" Rey bertanya, ketika Raffael hanya terdiam dan tampak sibuk dengan pemikirannya.
"Tidak ada!" Raffael tersenyum ke arah Rey. "Jadi hubunganmu dengan Myesa baik baik saja sekarang?" Lanjut Raffael.
"Seperti yang kau lihat. Kami berteman cukup baik sekarang?" Jawab Rey, ikut tersenyum.
"Berteman?" Raffael memastikan.
"Tentu saja! Kami berteman sekarang. Setelah menjalani pengobatannya, mental Myesa semakin membaik. Ia tidak lagi mudah mengamuk, dan perlahan mulai menerima hubunganku dengan Hanna."
"Hemmm.... " Raffael, kembali mengangguk anggukan kepalanya.
"Apa Om Surya dan Tante Lalita tahu, kau berteman baik dengan Myesa sekarang?" Selidik Raffael.
"Tentang itu sepertinya kau harus rahasiakan pada Papa dan Mamaku!"
"Jadi mereka tidak tahu?" Raut wajah Raffael langsung berubah serius.
"Kalau mereka sampai tahu, aku tidak mungkin lagi menempati ruangan ini sekarang. Tentang project yang kemarin saja, aku harus melakukan perjanjian terlebih dulu dengan Papa. Baru dia mengizinkan aku memakai Myesa sebagai model." Rey menjelaskan.
"Jadi kau akan tetap berteman dengannya, walaupun orangtuamu melarangnya?"
"Ayolah, Raf. Kami hanya berteman!" Sarkas Rey, lalu terkekeh. "Masa untuk berteman saja aku juga harus mengikuti kemauan kedua orang tuaku?" Lanjut Rey.
__ADS_1
Next >>>