
Tante Lalita seakan tak bisa mengalihkan pandangannya dari lembaran hasil USG Hanna. Raut bahagia begitu tampak jelas diwajahnya.
"Kau tahu, setelah 23 tahun. Akhirnya kami akan bisa kembali mendengar suara bayi di tengah-tengah keluarga kami. Terimakasih Hanna." Ucap Tante Lalita begitu tulus, pun juga untuk menjawab rasa penasaran Hanna. Karena sedari tadi ia terus menatap Tante Lalita dengan raut wajah penuh tanda tanya, mengapa Tante Lalita begitu excited dengan kehamilan Hanna ini.
"Dulu Tante dan Om menikah muda. Tapi sayangnya, kami sangat sulit untuk memiliki anak. Butuh perjuangan dan penantian yang panjang, hingga akhirnya Rey hadir ditengah-tengah keluarga kami. Dan setelah itu, Tante tidak pernah lagi hamil." Tante Lalita kembali mengenang kisah 23 tahun silam.
Hanna mendengarnya dengan seksama.
"Tapi sayangnya, kalian justru harus mempunyai cucu dari gadis seperti ku." Hanna menunduk, ia merasa menyesal. Seharusnya bukan dari rahimnya Rey memiliki anak.
Tante Lalita meraih tangan Hanna, lalu menggenggamnya lembut. "Tidak ada yang salah denganmu. Justru Tante sangat bersyukur, gadis yang dinikahi Rey adalah kamu!" Ujar Tante Lalita menyemangati Hanna.
Hanna mendongakkan wajahnya. Menatap Tante Lalita bingung.
"Tidak ada yang kebetulan didunia ini, Hanna. Tante dan Om, sangat menentang pernikahan Rey dan Myesa. Tapi gadis itu begitu keras kepala dan tetap memaksa agar Rey menikahinya. Entah apa yang ia lakukan hingga Rey begitu kekeh untuk menikah dengannya. Tapi akhirnya, justru dia yang tidak hadir dipernikahan itu. Lalu, tiba-tiba saja Rey justru memilih kamu untuk menjadi pengantinnya dari ratusan orang yang ada disana saat itu. Mengapa? Karena Tuhan sudah merencanakannya. Dan setelah Om dan Tante selidiki, ternyata kamu gadis yang sangat sesuai dengan keinginan kami. Kau gadis mandiri, gadis tangguh yang bisa menghadapi dunia ini hingga akhirnya berada di titik ini. Rey butuh wanita seperti kamu disampingnya." Hanna, hanya termangu mendengar itu semua.
"Rey, tidak pernah merasa kekurangan sejak dia lahir. Dia memiliki segalanya yang dia inginkan dengan mudah, dia tidak tahu selain kemewahan hidup. Dan dia akan belajar banyak hal tentang hidup melalui kamu, Hanna. Kau tak perlu mengubah apapun, kau hanya perlu tetap menjadi dirimu sendiri. Dan bantu Rey menghadapi dunia yang kejam ini. Ajarkan dia, bahwa setiap masalah harus dilalui, bukannya menyerah. Tuntun dia untuk melewati masalah-masalahnya dimasa depan." Lanjut Tante Lalita penuh harap.
Ya, terkadang kita harus belajar kepada orang-orang yang sudah merasakan betapa pahitnya kehidupan. Betapa getir dan menyakitkannya dunia. Orang-orang seperti itu punya 1001 cara untuk tetap bertahan disaat masalah terus menekannya untuk menyerah.
Hanna baru tahu, ternyata hubungan Rey dan Myesa ditentang oleh kedua orang tuanya. Hanna baru sadar, kenapa Rey sangat merahasiakan kedekatannya dengan Myesa sekarang.
"Tapi, Tante. Aku tidak yakin bisa membantu Rey sejauh itu." Ujar Hanna akhirnya.
Tante Lalita justru tersenyum. "Jalani saja, kau pasti bisa!" Tante Lalita kembali menyemangati Hanna. Entah mengapa ia begitu yakin Hanna bisa melakukannya.
*
"Dan kau akan melakukannya?" Raffael memastikan. Jawaban apa yang diberikan Rey pada Papanya.
"Aku tak punya pilihan!" Jawab Rey sambil menyibak rambutnya kebelakang dengan kasar.
__ADS_1
Raffael, menyeringai dengan geram. "Biar aku yang handle project ini." Ujar Raffael, sepertinya ia punya rencana untuk membalas Anthony.
"Tidak! Atau orang-orang itu akan punya alasan untuk menjatuhkanku." Ucap Rey, seakan sudah bisa menebak. Apa yang akan dilakukan para minoritas itu jika Rey tidak dapat menangani masalah ini.
Raffael mengangguk-anggukan kepalanya. "Ya, kau ada benarnya." Raffael setuju dengan pendapat Rey.
"Bagaimana tentang laporan kemarin?" Rey bertanya tentang laporan yang ditujukan untuk menjebaknya tempo hari sebelum ia berangkat ke Eropa.
"Sudah aku tangani, tapi aku belum bisa menemukan otak dari masalah itu. Sepertinya dia cukup lihai menyembunyikan dirinya."
Rey kembali menghela nafas kasar. Untuk pertama kalinya mendapatkan masalah dalam pekerjaannya. Rey cukup kewalahan apa lagi tanpa pengalaman sama sekali.
"Sayang!"
Keduanya, Rey dan Raffael. Serempak menoleh ke arah sumber suara.
"Oke, baiklah. Sepertinya aku harus meninggalkan ruangan ini." Ujar Raffael, sambil beranjak dari duduknya. Ketika tiba-tiba saja Myesa datang dan masuk keruang kerja Rey. Dan raut wajahnya tampak tak biasa. Walaupun Raffael tak tahu apa yang terjadi di antara sahabat dan wanita yang di pikirnya adalah istri Rey itu. Tapi sepertinya, ia harus memberikan ruang untuk keduanya. Begitulah pikir Raffael.
"Silahkan.." Raffael mempersilahkan Myesa yang masih berdiri di ambang pintu ruang kerja Rey untuk masuk dan duduk. Sedangkan dirinya, berlenggang keluar dari ruangan itu. Lalu, tatapannya tertuju ke arah meja kerja Hanna.
*
Hanna yang sedang berada didalam mobil bersama Tante Lalita langsung terbelalak saat menerima panggilan telpon dari Raffael.
Hanna lansung mematikan panggilan telpon itu, lalu dengan cepat mengetik pesan singkat untuk Raffael. "Raf, maaf. Aku sedang tidak leluasa untuk bicara saat ini." Isi dari pesan tersebut.
"Dia pasti sedang menangis saat ini." Fikir Raffael setelah membaca pesan singkat dari Hanna.
"Telpon dari siapa, Hanna?" Tanya Tante Lalita.
"Em, dari temanku Tante." Jawab Hanna sedikit gugup.
__ADS_1
"Kenapa tidak di ankat?" Tanya Tante Lalita lagi.
"Nggak apa-apa, nanti saja aku telpon balik." Imbuh Hanna, sambil kembali memasukkan ponselnya kedalam tasnya. Setelah mengubah ke mode sunyi. Sebelumnya ia juga sempat memeriksa pesan singkatnya untuk Rey tadi. Tapi masih tetap tak ada balasan.
Hanna penasaran, seperti apa keadaan dikantor saat ini setelah kejadian itu.
*
"Jadi kau benar-benar akan ke kantor? Mengapa tidak istirahat saja dirumah?" Pinta Tante Lalita saat Hanna meminta supir untuk mengantarnya ke kantor alih-alih kembali kerumah bersama Tante Lalita.
"Iya Tan, lagi pula sekarang sedang banyak sekali kerjaan yang harus dikerjakan dikantor." Ujar Hanna.
"Coba biasakan diri untuk panggil, Mama." Ujar Tante Lalita, membuat Hanna seakan kehabisan kata-kata. Setelah sekian lama, tak pernah lagi mengucapkan kata itu.
Hanna hanya tersenyum getir, lalu menunduk.
"Kau harus terbiasa, orang-orang akan beranggapan aneh jika kau tetap memanggil dengan sebutan, Tante."
Hanna menoleh, tatapannya menyiratkan sesuatu.
"Iya, Mama tahu kau ingin merahasiakan hubungan mu dengan Rey. Tapi sampai kapan? Ketika anak kalian besar nanti, mau tidak mau kalian harus mepublish hubungan kalian keluar. Tidak mungkin selamanya ditutupi. Lagi pula Mama heran, kenapa kalian justru tetap memutuskan untuk merahasiakannya." Ujar Tante Lalita, penuh tanda tanya dan tak habis pikir dengan jalan pikiran Rey dan Hanna.
"Kami punya alasan tersendiri..." Ucap Hanna menggantung. "Ma." Lanjutnya.
Senyuman diwajah Tante Lalita langsung merekah."Baiklah, terus biasakanlah dirimu dengan sebutan itu." Sambil menepuk pelan pundak Hanna.
"Kita sudah sampai Nyonya." Imbuh sang supir.
"Hanna duluan, Ma." Ucap Hanna sambil beranjak turun dari mobil.
"Emp, jangan lupa minum obat yang diberikan dokter tadi." Tante Lalita mengingatkan.
__ADS_1
Hanna mengangguk sambil menunjukkan senyuman terbaiknya. Setelahnya, ia berlalu bergegas masuk kedalam perusahaan.
Next >>>