
"Maaf, aku terlambat."
Semua yang berada didalam ruangan itu seketika langsung menoleh ke arah sumber suara. "Pak, Rey.." Ekspresi mereka langsung menegang, tidak menyangka boss mereka yang dingin tiba tiba ikut bergabung bersama mereka. Dan yang jadi pertanyaannya, siapa yang mengundangnya?
"Rey, kau tahu dari mana kami disini?" Tanya Hanna, namun seperdetik kemudian pandangan matanya teralih ke sosok yang berada di belakang Rey, "Yayank, kau juga ikut." Lanjut Hanna, dengan senyuman canggungnya. Ia langsung bangun dari duduknya, diikuti dengan lirikan mata Raffael, ketika Hanna bangun dari kursinya dan justru menyerahkannya untuk Yayank. Sepertinya Hanna sengaja melakukannya, karena kursi itu berada tepat disamping Raffael.
Hanna, langsung duduk disamping Rey. "Yang jelas dari seseorang yang berada disini." Imbuh Rey, menjawab pertanyaan Hanna sebelumnya.
"Siapa?"
Mereka saling bertanya, siapa yang memberitahu Rey. Padahal sebelumnya mereka sudah sepakat untuk tidak mengajak Rey, karena ditakutkan pesta itu tidak akan seru dan canggung.
Tak berapa lama, Dika mengangkat tangannya. "Aku yang beritahu Pak Rey." Ujarnya, dan seketika langsung mendapatkan tatapan tajam dari karyawan lainnya.
"Sudah, jangan bahas itu lagi. Ayo cepat pesan, bukankah setelah ini akan ada ronde ke dua." Raffael ikut menyahut.
Makan malam itu pun berjalan dengan lancar tanpa rasa canggung seperti yang mereka khawatirkan. Tenyata, Rey tak sedingin yang mereka kira selama ini. Hanya saja, sebagai seorang CEO dan jarang berkomunikasi dengan karyawan, Rey terlihat beribawa dengan wajah datarnya dan nayris tak pernah tersenyum. Sangat berbeda dengan sosok Rey yang kini, yang justru ikut makan malam bersama karyawan bawahan dan begitu murah senyum juga ramah. Apa lagi ketika Hanna tak henti hentinya membuat lelucon. Rey, orang yang tertawa paling nyaring.
"Baiklah, aku akan jelaskan cara memainkan permainannya." Yuna, menjelaskan permainan yang akan mereka mainkan di ronde kedua. Setelah hidangan makanan yang berada di atas meja itu di gantikan dengan bir dan makanan penutup. "Kemana arah botol ini berhenti, berarti orang itu harus berkata jujur, atau bisa di gantikan dengan minum bir." Imbuh Yuna, lalu mengambil sebotol bir kosong dan diletakkan di tengah tengah meja, setelah mendapatkan anggukan dan persetujuan dari semua orang. Yuna mulai memutar botol itu, hingga berhenti tepat dihadapan Yayank.
"Aku yang akan memberikan pertanyaan." Ucap Hanna, setelah sempat hening beberapa saat. Tampaknya tak ada yang berniat memberi pertanyaan untuk Yayank.
__ADS_1
"Hemmm.." Hanna berfikir sejenak, sambil mengalihkan pandangannya ke arah Rey. Setelahnya, ia kembali menoleh ke arah Yayank, lalu mengajukan sebuah pertanyaan yang membuat Yayank berfikir dua kali untuk menjawabnya.
"Aku menyerah," Yayank mengaku kalah, dan memilih untuk menggantikan jawabannya dengan minum bir.
"Yank.." Ujar Rey, menghentikan Yayank ketika gelas bir sudah di angkatnya. Yayank ragu ragu untuk meminumnya, mengingat ia sedang mengandung sekarang. Itu juga yang membuat Rey berniat untuk menghentikan Yayank.
Namun, "Aku yang akan menggantikanmu." Hanna langsung mengangkat gelas bir dan meneguknya hingga habis. Sebelum Rey melakukannya.
Raffael dan Rey, hanya bisa melihat Hanna menghabiskan satu gelas besar bir dalam satu teguk.
"Sekarang giliran ku," Raffael langsung kembali memutar botol permainan.
Mereka kembali bermain, Hanna tampak begitu menikmati. Berbeda dengan Yayank yang justru merasa asing sendirian. Ia lebih banyak diam, dan terus memperhatikan Hanna. Dunia, seakan hanya berputar dikeliling Hanna, ia seakan menjadi pusat perhatian dari semua orang.
"Raf, tolong antar Yayank. Aku harus segera pulang, kau lihat, Hanna sudah semabuk ini." Imbuh Rey, yang beranjak lebih dulu sambil membopong Hanna.
"Tapi.." Kalimat Raffael tak lagi di perdulikan Rey. Ia sudah berlalu meninggalkan ruangan itu, pun dengan karyawan lain yang juga mulai beranjak satu persatu.
"Aku bisa naik taksi," Ujar Yayank ketika melihat ekspresi Raffael yang agak keberatan.
"Tidak perlu, aku akan mengantarmu." Raffael ikut bangkit dari duduknya, lalu berjalan lebih dulu melewati Yayank.
__ADS_1
Sepanjang perjalanan, Raffael dan yayank hanya terdiam seribu bahasa.
Hingga akhirnya, Yayank memulai percakapan. "Mengapa kau, bisa sangat menyukai Hanna?" Pertanyaan yang membuat Raffael sedikit tersedak.
Raffael berdehem, "Aku mencintainya tanpa karena." Jawab Raffael akhirnya.
Jawaban yang membuat Yayank tersenyum tipis dengan hati yang tercabik.
"Jika begitu, mengapa kau dulu mau menikah denganku?" Lanjut Yayank.
"Aku pikir, kau berbeda."
Yayank mengernyitkan keningnya. Ia tak mengerti dengan kalimat yang baru saja di ucapkan Raffael.
*
Rey, merebahkan perlahan tubuh Hanna di atas ranjang. Membuka blazer yang ia kenakan dan dua kancing atas dari kemejanya. Rey yang baru saja akan beranjak dari sana dan berniat untuk ke kamar mandi, kembali menoleh ke arah Hanna. Memastikan sesuatu yang mungkin ia salah lihat. Dan ternyata tidak, Rey tidak salah lihat. Air mata Hanna benar benar mengalir dari sudut matanya. Hanna menangis dalam lelapnya.
Rey kembali duduk di pinggir tempat tidur, lalu menyeka lembut air mata Hanna.
"Maafkan aku Hanna.." Lirih Rey, yang tampaknya mengerti dengan isi hati Hanna. Namun, ada sesuatu yang harus ia lakukan, yang semuanya tak mungkin ia ceritakan pada Hanna.
__ADS_1
Next ✔️