My Boss, Is My Husband

My Boss, Is My Husband
Gangguan Mental


__ADS_3

"Beb.. Apa kau masih sangat sibuk? Sebentar lagi jam makan siang akan berakhir." Imbuh Lora, yang sedari tadi sudah menunggu Hanna menyelesaikan pekerjaannya.


"Sebentar, sudah hampir selesai." Imbuh Hanna dengan fokusnya yang masih mengarah ke layar laptopnya.


"Huftt.. Baiklah, aku tunggu 5 menit lagi. Jika masih belum selesai juga, aku akan meninggalkanmu dan pergi makan sendiri." Ancam Lora.


"Iya iya..." Jawab Hanna, sambil semakin memburu pekerjaannya agar bisa diselesaikan lebih cepat.


Lora, kembali fokus dengan ponselnya. Untuk menghilangkan rasa suntuknya menunggu Hanna yang entah kapan akan selesai dengan pekerjaannya.


"Benar benar pasangan yang sangat serasi." Imbuh Lora kemudian, dengan tatapan masih tertuju ke arah ponselnya.


Sedangkan Hanna, tak menanggapi ocehan Lora tersebut. Ia masih saja fokus dengan pekerjaannya.


Membuat Lora akhirnya melirik ke arah Hanna.

__ADS_1


"Kasian sekali." Lanjut Lora sambil menggelengkan kepalanya. Dengan tatapan yang kini mengarah ke arah Hanna. "Kau disini dibuat sangat sibuk, sedangkan atasanmu menikmati bulan madunya dengan sang istri." Ucap Lora, seakan menyayangkan kerja keras Hanna selama satu bulan ini. Hari harinya selalu disibukkan dengan pekerjaan.


"Maksudmu?" Tanya Hanna yang tak mengerti dengan ucapan itu.


Lora bangkit dari duduknya, lalu menunjukkan apa yang ia lihat dari balik layar ponselnya.


Seketika, Hanna justru dibuat bengong dengan apa yang ia lihat. Atau lebih tepatnya, sel sel otakknya seakan sedang betabrakan.


Dari media sosial Myesa, ia memosting sebuah foto dimana Rey sedang memasakkan sesuatu. Rey tampak begitu serius di balik kitchen set. Sedangkan Myesa, yang masih menggunakan handuk kimononya, duduk manis di minibar yang menyatu dengan kitchen set. Ditambah caption "Good morning, baby. Having you by my side makes me very happy." (Selamat pagi sayang. Memilikimu di sisiku membuatku sangat bahagia).


Rey dan Myesa ...


"Aku ke toilet dulu." Dengan cepat Hanna bangkit dari tempat duduknya, dan bergegas meninggalkan Lora seorang diri disana.


"Hei, bukankah kita akan pergi makan siang sekarang!" Teriak Lora pada Hanna yang sudah terlanjur meninggalkannya seorang diri disana.

__ADS_1


*


Hanna masuk kedalam toilet dan mengurung diri didalam sana. Tidak seperti biasa, wanita tangguh itu akhirnya menangis hanya karena hal sepele.


"Untuk apa kau tangisi hal yang tak terberguna seperti itu Hanna! Kau sudah lalui berbagai macam hal dalam hidupmu, tapi tidak pernah sekalipun meneteskan air mata, tapi kenapa sekarang justru jadi cengeng seperti ini." Gerutu Hanna sambil menyeka kasar air matanya.


Hanna menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Lalu menangis sesenggukan, dia merasa sangat kecewa. Bukan karena Rey, melainkan karna dirinya sendiri. Ia justru menyalahkan diri sendiri karena sudah terlalu berharap. Setelah kejadian hari itu, ia pikir Rey sudah benar-benar menganggap dirinya istri. Ekspetasi Hanna terlalu tinggi untuk pernikahan yang di lakukan hanya dengan berpura-pura itu.


*


Saat Myesa dirumah sakit, Rey sempat meminta Dokter Psikolog untuk memeriksa gadis itu. Dan benar, Myesa ternyata mengalami sedikit gangguan pada mentalnya. Ia cenderung sangat memaksa keinginan untuk memiliki sesuatu dan tidak segan untuk berprilaku buruk.


Rey akhirnya memutuskan untuk mengobati gangguan itu pada Myesa. Ia memakai Dokter Psikolog terbaik untuk menangani penyakit mental yang dialami Myesa tersebut.


Ia berharap Myesa bisa dengan cepat disembuhkan, agar Rey bisa mengungkapkan perasaannya pada Hanna akhirnya. Jika tidak, tidak menutup kemungkinan Myesa bisa saja juga tanpa segan akan menyakiti Hanna. Dan Rey tidak ingin itu sampai terjadi.

__ADS_1


Next>>>


__ADS_2