My Boss, Is My Husband

My Boss, Is My Husband
Bebas Memilih


__ADS_3

"Apa katamu!" Rey, sangat terkejut ketika mendengar apa yang di katakan Hanna. "Aku akan kembali ke London." Imbuhnya, lalu langsung mematikan panggilan itu.


Setelahnya, dalam perjalanan menuju bandara. Rey menghubungi Raffael. "Aku akan kembali ke London sekarang, tolong handle dulu masalah di perusahaan." Ujarnya sedikit tergesa.


"Terjadi sesuatu dengan Hanna?" Tanya Raffael, memastikan.


"Emp, begitulah. Jadi tolong kau handle dulu semuanya. Aku akan kembali dalam waktu dua hari." Lanjut Rey.


*


"Bukankah sudah aku katakan, aku baik baik saja Rey. Itu hanya operasi kecil." Imbuh Hanna, ketika kini, Rey mulai mengintrogasinya.


"Sekecil apapun itu, seharusnya kau beritahu aku, Hanna."


"Aku hanya tidak ingin kau khawatir."


"Lalu menurutmu, kalau sudah begini aku tidak khawatir?"


Hanna melangkah mendekati Rey, "Maaf.." Imbuhnya menyesal sambil memegang lengan Rey yang sedang berdiri dengan raut wajah tak dapat di artikan.

__ADS_1


"Bereskan barang barangmu, dan kau harus ikut aku."


"Tapi-" Ujar Hanna terputus.


"Tak ada bantahan." Rey sangat serius dengan kalimatnya, ia tak mau tahu alasan apa yang akan keluar dari mulut Hanna. Pokoknya, Hanna tetap harus ikut. Rey tidak akan meninggalkan Hanna seorang diri lagi, atau dia bahkan tidak bisa fokus sama sekali dengan pekerjaannya.


Hanna, kembali menghampiri Rey yang sedang mengeluarkan koper dan mengeluarkan baju baju Hanna dari dalam lemari, lalu memeluknya dari belakang.


"I miss you.." Lirinya.


Membuat Rey menghentikan aktivitasnya. Dan menerima pelukan itu.


Hanna mengangguk paham. "Baik, tepati omonganmu. Dan jangan pernah mengeluh jika nanti aku menjadi sangat merepotkanmu." Imbuh Hanna sambil nyengir. Tentu saja itu hanya lelucon, Hanna bukan orang yang akan merepotkan orang lain. Walaupun itu suaminya sendiri.


"Biar aku yang lanjutkan." Hanna melepaskan pelukannya.


"Tidak, kau duduk saja. Dan beritahu aku apa saja yang kau butuhkan untuk di bawa." Imbuh Rey, lalu menuntun Hanna untuk duduk di sofa dan menonton saja.


"Berapa lama kita akan disana?" Tanya Hanna kemudian.

__ADS_1


"Aku tidak bisa pastikan, jika masalahnya sudah selesai kita bisa langsung kembali. Kemarin aku sudah bernegosiasi dengan korban, dan katanya ia akan memikirkannya terlebih dulu dengan penawaran yang aku berikan." Imbuh Rey, sambil terus membereskan dan memasukkan barang barang Hanna kedalam koper.


"Lalu, apa yang kau tawarkan?" Hanna penasaran.


"Apapun! Aku membebaskannya untuk memilih." Sahut Rey, dengan raut wajah santainya.


"Bagaimana kalau dia meminta dirimu?" Tanya Hanna asal.


"Jika itu, tergantung padamu. Apa kau akan memberikannya atau tidak!" Ujar Rey diiringi dengan kekehannya.


Membuat Hanna juga ikut terkekeh. "Dasar! sepertinya kau akan langsung menjadi pengikutnya jika aku membiarkannya! Apa dia seistimewa itu? Bahkan seorang Rey bisa memberikannya penawaran tampa batas?"


"Aku hanya tidak ingin masalah ini menjadi berlarut. Aku biarkan ia memilih, agar masalah ini cepat selesai." Sahut Rey, yang kembali serius dengan percakapan itu.


Hanna mengangguk anggukan kepalanya.


"Jadi, kau benar benar akan memberikannya apapun?" Hanna memastikan sekali lagi.


"Tentu saja, apa aku tampak seperti orang yang tidak serius dengan omongan ku?" Balas Rey.

__ADS_1


Next >>>


__ADS_2