
Hanna, tampak cantik dengan gaun beckless yang dikenakannya. Memamerkan punggung mulusnya yang terbuka.
Berjalan bergandengan dengan Raffael, menuju ke arah meja yang sudah dipesan.
"Kalian sudah lama menunggu?" Tanya Raffael pada Rey dan Myesa yang ternyata sudah sampai terlebih dulu.
"Tidak, kami juga baru sampai." Jawab Myesa semangat.
Raffael, menarik kursi dan mempersilahkan Hanna untuk duduk. Setelahnya, ia ikut duduk disamping Hanna.
Candle Light Dinner tanpa perencanaan itu benar-benar tampak sempurna. Bagi yang menikmatinya!
"Jadi, apa yang salah dengan tiket yang aku berikan?" Tanya Raffael kemudian disela-sela makan malam mereka.
"Tiket?" Myesa memastikan dengan ekspresi tampak bingung.
"Ya, tiket! Apa Rey tak memberitahukannya padamu? Aku memberikan kalian hadiah pernikahan untuk bulan madu." Ujar Raffael dengan penuh tanda tanya.
Myesa langsung menoleh ke arah Rey yang hanya terdiam sambil mengaduk-aduk makanannya sedari tadi.
"Sayang! Kenapa kau tak beritahu aku tentang hadiah pernikahan yang diberikan Rafa?" Protes Myesa manja.
"Kau tahukan aku sangat sibuk! Aku benar-benar tak punya waktu untuk bulan madu." Imbuh Rey datar.
"Emm baiklah, aku mengerti. Lagi pula kita juga akan melakukannya akhir bulan ini." Ucap Myesa penuh arti.
Hanna, hanya menjadi pendengar yang baik disana. Diam seribu bahasa! Ia hanya sibuk menikmati makanannya, tak ingin ingin menyia-nyiakan makanan yang sudah ada. Walau sebenarnya hati dan pikirnya sedang bergemuruh.
"Akhir bulan ini?" Raffael terkekeh. "Akhir bulan ini Rey justru akan semakin sibuk." Ujar Raffael ingin memberitahukan Myesa. Project kali ini akan lebih menyita waktu Rey.
"Aku tahu! Dan kami akan sibuk bersama. Karena aku yang akan menjadi modelnya!" Ujar Myesa dengan bangga.
"What!!!" Raffael terbelalak.
Sedangkan Hanna langsung tersedak mendengar kalimat itu.
Disaat yang bersamaan, kedua laki-laki itu langsung menyodorkan gelas yang berisi air mineral ke arah Hanna.
Hanna, hanya melihat ke arah dua gelas air yang kini di sodorkan ke arahnya. "Aku ketoilet dulu." Pilihan Hanna pada akhirnya.
"Aku juga." Imbuh Myesa yang langsung mengikuti Hanna.
Tinggallah Rey dan Raffael yang sedikit canggung. Dan kembali meletakkan gelas yang berada ditangan mereka ketempat semula.
"Apa kau yakin ingin menjadikan Myesa model untuk project kali ini?" Raffael memastikan.
__ADS_1
"Empp.." Jawab Rey singkat.
"Aku tahu dia memang istrimu! Tapi project kali ini sangat penting untuk perusahaan dan sedangkan Myesa bukan model profesional. Dia bahkan bukan model sama sekali! Aku takut itu hanya akan menghambat dan-"
"Aku yang akan mengurusnya." Sela Rey cepat.
Raffael hanya bisa menghela nafas. "Baiklah, aku hanya memberi pendapat. Tentu saja semua keputusan ada padamu! Lagi pula, kau juga yang akhirnya harus direpotkan." Pungkas Raffael, lalu kembali menikmati makanannya.
Sedangkan Rey. Hanya terdiam dengan pikirannya yang kembali teringat tentang persyaratan yang di ajukan sang klien tempo hari.
Rey penasaran, kenapa Myesa bisa mengenal laki-laki itu dan hubungan seperti apa yang mereka miliki hingga laki-laki itu bisa menunjuk Myesa sebagai modelnya. Padahal Myesa tidak berprofesi sebagai model!
*
"Apa kau terkejut? Mengetahui kalau ternyata aku yang akan menjadi model dalam project Rey kali ini?" Tanya Myesa, sengaja ingin mengacau Hanna.
"Tidak! Untuk apa aku terkejut?" Balas Hanna dengan ekspresi datarnya sambil memoles lip di bibirnya.
Myesa terkekeh. "Sebenarnya aku sudah menolaknya, Tapi Rey bersikeras memintaku untuk melakukannya. Katanya bisa untuk sekalian kami berbulan madu disana nanti." Lanjut Myesa.
Project kali ini mengharuskan mereka terbang ke Eropa. Dan sepertinya itu akan berlangsung lama.
Hanna membalasnya dengan senyuman. "Baguslah!" Setelahnya, ia berlalu pergi. Meninggalkan Myesa yang tampak geram karena merasa tidak berhasil membuat Hanna terpancing dengan ocehannya.
Kedua wanita itu kembali ke kursi mereka.
"Tidak! Kau harus tetap diperusahaan." Jawab Rey serius. Namun justru membuat Raffael terkekeh dan menganggapnya juga gurauan.
*
Sikap Hanna pada Rey masih juga sama. Masih sedingin es!
"Tidak, Kau tidak bisa hanya berdiam diri seperti ini. Atau kau benar-benar tidak akan bisa hidup tenang." Rey masih terganggu dengan pikiran dan rasa bersalahnya.
"Sepertinya aku harus jujur! Ya, apapun yang akan terjadi. Aku harus siap!" Rey bangkit dari balik meja kerjanya. Lalu menghampiri Hanna.
"Kita harus bicara!" Imbuhnya pada Hanna yang tampak sedang sibuk dengan pekerjaannya.
"Aku sedang sibuk." Jawab Hanna tanpa menoleh.
"Ini penting." Pungkas Rey.
Hanna mendongakkan wajahnya, ke arah Rey yang kini sedang berdiri tepat didepan meja kerjanya.
"Ikut keruanganku!" Lanjut Rey, setelah itu langsung bergegas pergi.
__ADS_1
Hanna menghela nafas dalam. Dan akhirnya, mengikuti permintaan Rey, ia bangkit dan masuk ke ruang kerja Rey. Sesuai dengan permintaannya.
"Kau marah padaku?" Tanya Rey, yang langsung menghadang Hanna.
"Untuk apa aku marah padamu, Pak Rey?" Pungkas Hanna. Seakan menekankan.
Rey menyeringai.
"Bukankah sudah aku katakan, cukup panggil aku dengan sebutan Rey!" Ucap Rey kembali menekankan kalimat yang dulu pernah di ucapkannya.
"Jika Anda tidak ingin mendengar kata itu dari mulutku? Anda hanya perlu untuk tidak mengajak ku berbicara!" Ucap Hanna lancang.
"Apa yang membuatmu bersikap dingin padaku? Apa aku melakukan kesalahan?" Rey ingin memastikan. Sebenarnya, apakah Hanna mengetahui kejadian malam itu atau tidak!
"Anda terlalu banyak berfikir. Sikapku sama sekali tidak berubah. Hanya saja, seperti inilah seorang bawahan seharusnya bersikap pada atasannya bukan? Kita hanya tidak perlu terlalu dekat, biasa saja seperti normalnya." Pungkas Hanna.
"Lalu menurutmu selama ini, hubungan atasan dan bawahan kita tidak normal?" Tanya Rey.
"Tidak! Sepertinya kita harus memiliki jarak yang jelas. Agar tak ada yang salah paham!" Sarkas Hanna.
"Bagaimana jika aku tidak setuju dengan pendapatmu?" Tanya Rey memastikan.
"Aku juga tidak akan mengikuti kemauanmu!" Jawaban yang sangat tegas.
Rey terkekeh tak percaya. Hanna bisa sekeras itu.
"Baik, aku menyerah. Kau menang!" Imbuh Rey kemudian, karena maksud ia memanggil Hanna bukan untuk berdebat. Ia hanya ingin mengatakan hal yang sebenarnya pada Hanna.
"Ada yang ingin aku katakan." Imbuh Rey dengan intonasi yang berbeda.
"Apa?" Tanya Hanna penasaran. Karena tiba-tiba saja raut wajah dan intonasinya bicara menjadi berubah.
"Sebenarnya malam itu-"
Tok!Tok!
"Apa aku menggangu?" Tiba-tiba saja Raffael mengacaukan semuanya.
Hanna langsung dengan cepat mengambil beberapa langkah menjauh dari Rey. Yang sebelumnya mereka berdiri dengan jarak yang sangat dekat.
Raut wajah menegang keduanya menimbulkan tanda tanya dibenak Raffael.
"Apa ada masalah?" Tanyanya penasaran.
"Tidak!" Jawab Hanna cepat. "Kalau begitu aku akan melanjutkan pekerjaanku, Pak." Imbuh Hanna pada Rey. Setelah itu langsung mengambil langkah keluar. Hanna kembali ke meja kerjanya dengan degupan jantung yang luar biasa.
__ADS_1
"Apa dia benar-benar mengetahui kejadian malam itu? Arghh sangat memalukan sekali!" Sarkas Hanna sambil mengacak rambutnya sendiri dengan geram.
Next >>>