My Boss, Is My Husband

My Boss, Is My Husband
Akan Menjadi Kopi


__ADS_3

Ditengah malam Hanna terbangun, saat membuka mata dan memandang Rey yang sedang terlelap disampingnya, membuat Hanna enggan untuk kembali memejamkan mata.


Hanna, terus saja menatap Rey. Pria yang entah kapan bisa berubah. Bisa lebih peka terhadap perasaan Hanna! Hanna, yang tak pandai mengekpresikan perasaannya, hanya bisa bersabar dan berharap suatu saat nanti Rey mengerti. Tak ada satu pasanganpun yang suka melihat pasangannya care dengan orang lain.


Hanna, bukannya tak pernah membuat Rey jera. Ia sudah pernah pergi sejauh yang ia bisa. Meninggalkan Rey dan perasaan terdalamnya. Nyatanya, kini ia kembali jatuh dalam pelukan Rey lagi dan lagi. Hanna memeluk Rey, menenggelamkan wajahnya di dada bidang Rey, "Selama masih ada, aku akan tetap tersenyum." Batin Hanna.


Seperti bulan yang tahu dengan pasti jika esok ia akan menghilang, namun tetap setia menerangi malam.


*


Pagi kembali menyongsong, Rey yang terbangun dan mendapati Hanna sedang memeluknya juga membalas pelukan itu akhirnya. Kecupannya di puncak kepala Hanna membuat wanita itu terbangun.


"Pagi, sayang.." Imbuh Rey, yang lagi lagi mendaratkan ciumannya.


Hanna tersenyum, dengan mata yang belum sepenuhnya terbuka. "Pagi.." Balas Hanna, lalu semakin mengeratkan pelukannya. "Aku masih sangat mengantuk." Lanjut Hanna.


"Kau lanjut tidur saja, aku akan siapkan sarapan untukmu." Ujar Rey, lalu berniat melepaskan pelukan Hanna. Namun, Hanna semakin mengunci tangannya. "Biar Mbak aja yang menyiapkannya, kau tetap disini. Sebentar lagi saja." Rengek Hanna. Membuat Rey tersenyum tipis, lalu hanya bisa menurut saja. Ia duduk bersandar di sandaran tempat tidur, sambil memeluk Hanna, dengan tangan yang sebelahnya mengusap kepala Hanna lembut. Membuat Hanna kembali memejamkan matanya.


"Aku punya sebuah cerita.." Imbuh Rey akhirnya.


"Apa..?" Ujar Hanna, dengan suara beratnya.


"Ada seorang anak, mengeluh pada ayahnya mengenai kehidupannya dan menanyakan mengapa hidup ini terasa begitu berat baginya. Ia tidak tahu bagaimana menghadapinya dan hampir menyerah. Ia sudah lelah untuk berjuang. Sepertinya setiap kali satu masalah selesai, timbul masalah baru.


Ayahnya yang seorang koki, membawanya ke dapur. Ia mengisi 3 panci dengan air dan menaruhnya di atas api.


Setelah air di panci-panci tersebut mendidih. Ia menaruh wortel di dalam panci pertama, telur di panci kedua dan ia menaruh kopi bubuk di panci terakhir. Ia membiarkannya mendidih tanpa berkata-kata. Si anak membungkam dan menunggu dengan tidak sabar, memikirkan apa yang sedang dikerjakan sang ayah. Setelah 20 menit, sang ayah mematikan api.


Ia menyisihkan wortel dan menaruhnya di mangkuk, mengangkat telur dan meletakkannya di mangkuk yang lain, dan menuangkan kopi di mangkuk lainnya.

__ADS_1


Lalu ia bertanya kepada anaknya, “Apa yang kau lihat, nak?”


"Wortel, telur, dan kopi” jawab si anak.


Ayahnya mengajaknya mendekat dan memintanya merasakan wortel itu. Si anak melakukannya, dan merasakan bahwa wortel itu terasa lunak. Ayahnya lalu memintanya mengambil telur dan memecahkannya. Setelah membuang kulitnya, si anak mendapati sebuah telur rebus yang mengeras.


Terakhir, ayahnya memintanya untuk mencicipi kopi. Si anak tersenyum ketika mencicipi kopi dengan aromanya yang khas. Setelah itu, si anak bertanya, “Apa arti semua ini, Ayah?”


Ayahnya menerangkan bahwa ketiganya telah menghadapi ‘kesulitan’ yang sama, melalui proses perebusan, tetapi masing-masing menunjukkan reaksi yang berbeda.


Wortel sebelum direbus kuat, keras dan sukar dipatahkan. Tetapi setelah direbus, wortel menjadi lembut dan lunak. Telur sebelumnya mudah pecah. Cangkang tipisnya melindungi isinya yang berupa cairan. Tetapi setelah direbus, isinya menjadi keras. Bubuk kopi mengalami perubahan yang unik. Setelah berada di dalam rebusan air, bubuk kopi merubah air tersebut.


“Kamu termasuk yang mana?” Tanya ayahnya. “Ketika kesulitan mendatangimu, bagaimana kau menghadapinya? Apakah kamu wortel? Telur? atau kopi?" Lanjut sang Ayah.


Sedangkan anak itu masih diam, ia masih belum sepenuhnya mengerti dengan maksud dari perkataan ayahnya.


Hanna yang sedari tadi menyimak cerita Rey itu pun ikut bersuara. "Tentu saja aku akan menjadi kopi." Ujar Hanna singkat.


Rey tersenyum, tampaknya Hanna mengerti dari maksud cerita Rey yang tiba tiba itu. Ada sesuatu yang tersirat dari cerita itu.


Hanna merenggangkan tubuhnya, rasanya sudah cukup tidurnya. Mereka berdua harus segera bersiap dan ke kantor.


"Aku akan mandi lebih dulu." Imbuh Hanna, lalu bangkit dari tidurnya.


"Kau tak berniat mengajakku?" Tanya Rey dengan tatapan yang masih tertuju ke arah Hanna.


"Tidak!" Jawab Hanna lalu menghilang di balik pintu kamar mandi yang tertutup.


Rey menghela nafas panjang. Pikirannya cukup terganggu, ia merasa bimbang antara harus menceritakan niatnya yang sebenarnya atau tidak.

__ADS_1


*


Raffael, meraih tangan Yayank dan membawanya ke tangga darurat.


"Apa menurutmu ini lucu?" Sarkas Raffael, dengan raut wajah marah.


"Lucu? Tentu saja tidak! Sejak awal aku sama sekali tak berniat menjadi pelawak." Pungkas Yayank, lalu tersenyum sinis.


Raffael menatap Yayank semakin murka. "Apa lagi yang kau harapkan Yayank, kau dan aku sama sekali tak punya harapan."


"Maaf sudah membuat mu salah paham, Kau! bukan lagi tujuanku sekarang!" Ucap Yayank penuh penekanan.


Raffael mengernyitkan keningnya, "Apa, kau mengincar Rey?" Tebak Raffael.


Namun, Yayank hanya tersenyum smirk.


"Aku rasa, aku tak perlu melapor padamu tentang hal pribadi ku." Pungkas Yayank, dan berniat beranjak dari sana.


Raffael, dengan cepat meraih tangan Yayank dan menggenggamnya erat. "Jika niatmu, hanya untuk menyakiti Hanna. Ku peringatkan kau untuk segera berhenti." Ancam Raffael.


Yayank menatapnya semakin murka. Amarahnya semakin memuncak, ketika melihat Raffael, pria yang masih dicintainya hingga detik ini, membela wanita lain.


"Kita lihat saja, siapa yang akan menangis darah pada akhirnya." Yayank menepis genggaman Raffael. Lalu beranjak dari sana.


Larangan Raffael justru membuat Yayank semakin bergebu gebu. Ia ingin membuat Hanna juga merasakan apa yang ia rasakan. Dengan begitu, Raffael juga akan terluka diwaktu yang bersamaan.


Rasa cemburu Yayank membuat hati nuraninya membeku. Ia seakan bukan lagi dirinya yang dulu. Amarahnya, merubahnya menjadi sosok yang berbeda.


Next >>>

__ADS_1


__ADS_2