My Boss, Is My Husband

My Boss, Is My Husband
Fad


__ADS_3

Hanna beranjak dari tempat ia berdiri, kembali melanjutkan langkahnya menuju departemen pemasaran.


"Bu Hanna..." Sapaan dengan anggukan kepala, sepanjang jalan menuju departemen pemasaran didapati Hanna. Walaupun setelahnya, mereka kembali berbisik dan bertanya tanya mengapa Hanna berjalan menuju departemen pemasaran.


Hanna membalas sapaan mereka dengan senyuman ramahnya.


Sedangkan di depan departemen pemasaran, manajer pemasaran sudah menunggu kedatangan Hanna. "Silahkan, Bu." Lelaki paruh baya itu mempersilahkan Hanna untuk masuk dan membawanya ke meja kerja yang memang sudah disiapkan khusus untuknya, sesuai dengan perintah Rey.


"Ini meja Anda, Bu." Ucap manager pemasaran.


Tak langsung duduk, Hanna hanya berdiri lalu berbalik melihat ke belakang. "Mengapa meja saya sangat jauh dari karyawan yang lain?" Tanya Hanna kemudian.


Manajer pemasaran sempat terdiam beberapa saat. Dengan kening berkerut. "Pak Rey-" Ucapnya agak terbata.


Hanna tersenyum, mengerti dengan maksud kata yang tak terucap itu.


"Apa meja itu kosong?" Tunjuk Hanna ke salah satu meja yang terletak di antara meja karyawan yang lain.


"Ko-kosong, Bu." Sahut manajer pemasaran.


"Saya tempati yang itu saja." Imbuh Hanna, setelahnya melangkah menuju ke arah meja yang kosong itu dengan semangat.


"Ta-tapi, Bu." Manajer pemasaran mengikuti Hanna, ia merasa juga tak pantas Hanna berada di tengah tengah karyawan yang lain. Sedangkan posisinya adalah sebagai istri dari CEO perusahaan.


Semua mata tertuju ke arah Hanna, semuanya diam kehabisan kata kata.


Sebelum duduk, Hanna tidak lupa memperkenalkan dirinya secara resmi. "Perkenalkan saya Hanna, sebagai karyawan baru di departemen pemasaran. Mohon perlakukan saya sesuai dengan jabatan saya, terlepas dari siapa saya." Imbuhnya dengan senyuman yang merekah di raut wajahnya.


"Bu, apa ibu sangat bosan? Hingga iseng iseng melakukan ini?" Pertanyaan kocak dari salah seorang karyawan. Alih alih marah, Hanna justru tertawa.


"Apa menurutmu begitu?" Hanna balik bertanya.


"Lantas? Mengapa Anda bekerja di departemen ini? Padahal jelas jelas Anda bisa meminta jabatan yang lebih tinggi pada Pak Rey." Sahut yang lainnya.


"Hemm, itu karena saya tidak suka memanfaatkan orang lain dalam bekerja." Jawaban itu membuat beberapa yang lainnya berdehem dan terkekeh. Tampaknya ada yang tersindir dengan kalimat itu.


"Sudah sudah, cepat bekerja. Jangan ganggu Bu Hanna." Pungkas manajer pemasaran akhirnya, ikut bersuara.

__ADS_1


Seketika suasana di ruangan itu menjadi hening, dan semua karyawan kembali menghadap ke arah meja mereka masing masing.


"Silahkan, Bu. Jika perlu sesuatu hubungi saya saja." Imbuh manajer pemasaran mempersilahkan Hanna untuk duduk.


Hanna mengangguk, lalu tersenyum. Pun dengan manajer pemasaran, ia berlalu ke ruangannya setelah membalas senyuman Hanna.


Hanna menghembus nafas dalam dan lega, sambil melihat kesekeliling. Tampaknya ia disambut hangat oleh para karyawan.


*


Raffael langsung bergegas menuju ruang Rey dengan semangat.


Tok!Tok!


Raffael langsung masuk setelah mengetuk pintu. Namun senyuman diwajahnya seketika langsung berubah ketika melihat sosok yang menempati meja kerja yang dipikirnya ditujukan untuk Hanna.


"Kau! Mengapa kau ada disini?" Tanya Raffael dengan ekspresi terkejut.


"Aku yang memintanya untuk bekerja disini." Jawab Rey seketika. Sedangkan Yayank, hanya bisa terdiam menatap Raffael.


Raffael langsung menolah ke arah yang berlawanan dengan Yayank. "Memperkerjakannya?" Tanya Raffael terkekeh, "Untuk apa? Sejak kapan perusahaan ini berubah menjadi firma hukum." Sarkas Raffael. "Mengapa kau tak tanya dulu pendapatku soal ini?" Rasanya belum puas, Raffael kembali mengajukan pertanyaan.


"Tapi Rey.." Raffael melangkah beberapa langkah mendekati meja kerja Rey.


"Rey, sebaiknya aku-" Yayank bangkit dari duduknya.


"Tidak, Yank! Kau tetap disana." Imbuh Rey tegas. "Tak ada yang bisa membantah keputusan yang telah aku buat." Pungkas Rey dengan tatapan tajam menghujam Raffael.


"Ch!" Raffael terkekeh tak percaya dengan ucapan Rey. "Sejak kapan kalian menjadi seakrab ini?" Tanya Raffael masih diiringi dengan kekehannya. "Apa Hanna tau, kau melakukan ini?" Pertanyaan yang akhirnya membungkam Rey.


*


Raffael keluar dari ruangan Rey dengan kesal, ia bahkan membanting pintu ruang kerja Rey dengan keras hingga membuat sekretaris Rey terkejut dibuatnya.


Entah apa yang membuat Raffael begitu emosi. Karna Hanna tak jadi bekerja? Atau justru karna Yayank semakin dekat dengan Rey? Jika karena itu, apa mungkin Raffael sebenarnya menaruh rasa pada Yayank namun hanya saja tak pernah menyadarinya. Karena perasaannya pada Hanna terlalu dalam!


Entahlah, yang jelas saat ini Raffael sedang berjalan dengan raut wajah marahnya menuju ruang kerjanya. Ia bahkan tak lagi memperdulikan sapaan para karyawan.

__ADS_1


Raffael masuk kedalam ruang kerjanya, menghentakkan tubuhnya ke atas kursi di balik meja kerjanya. Meremas kasar rambutnya.


"Aku pikir, aku sudah berhasil melepaskan diri darimu Yank. Siapa sangka kau bahkan mengejarku hingga kesini." Prangsaka itu tiba tiba saja mengrogoti benak Raffael. Ia merasa maksud Yayank bekerja di perusahaan, hanya untuk kembali menarik perhatiannya.


Tok!Tok!


Ketukan pintu itu, membuat Raffael kembali dari lamunannya. "Masuk." Imbuhnya, sambil menunduk merapikan jasnya yang tampak sedikit berantakan.


"Pak, aku butuh tanda tangan Anda."


Suara itu langsung membuat Raffael mendongakkan wajahnya.


"Hanna.." Dengan mata terbelalak, Raffael menatap Hanna tanpa berkedip.


Hanna melangkah lebih dekat, meletakkan dokumen di atas meja Raffael. Lalu berdiri dengan tegak, menunggu Raffael menandatangani dokumen tersebut.


"Kau.." Ucap Raffael mengantung.


"Iya, ini hari pertama aku bekerja." Imbuh Hanna.


Raffael kembali dibuat terkekeh, padahal ia sudah sempat kecewa tadinya.


"Bisa Anda menandatangani dokumen ini dengan segera?" Sarkas Hanna, tampaknya ia melakoni pekerjaannya dengan profesional.


"Tentu.." Raffael meraih bolpen, dan menandatangani dokumen itu setelahnya.


"Terimakasih.." Hanna meraih dokumen yang diserahkan Raffael. Namun, Raffael justru menahan dokumen itu saat Hanna ingin menariknya.


"Apa kau tau, Rey memperkerjakan Yayank di perusahaan ini dan lebih parahnya ia meletakkan meja kerja Yayank didalam ruang kerjanya?" Tanya Raffael dengan tatapan menatap lekat netra Hanna.


Tatapan Hanna yang tadinya tertuju ke arah dokumen itu, perlahan beralih ke arah netra Raffael. Tak langsung menjawab pertanyaan itu. Hanna, sempat terdiam dengan wajah datarnya.


"Tentu, aku tau!" Jawab Hanna akhirnya.


Kini, giliran Raffael yang terdiam. Dan perlahan melepaskan dokumen itu dari tangannya. Hanna, menarik dokumen itu dan kembali berdiri tegak. "Aku permisi." Imbuhnya, setelahnya berlalu pergi dari ruangan Raffael.


"Dan bisa bisanya kau tak mempermasalahkan itu?" Gumam Raffael seorang diri.

__ADS_1


Hanna keluar dari ruangan Raffael, Lalu menarik nafas dalam. Langkahnya sempat terhambat beberapa saat, pikirannya sedang tak baik baik saja. Namun tampaknya Hanna tak mau larut dalam hal itu. Ia kembali mengambil langkah dan membusungkan dadanya.


Next


__ADS_2