
Hanna, kembali duduk. Sambil menatap ke arah ponselnya. Dengan kontak yang baru saja disimpan oleh Myesa. Boss' Wife Nama kontak yang dipakai Myesa untuk menyimpan kontaknya sendiri di ponsel Hanna.
"Apa aku harus melakukannya?" Gumam Hanna. Bertanya pada diri sendiri.
Tak lama berselang, Rey keluar dari ruangannya. Dengan cepat, Hanna kembali berdiri. Dengan tatapan yang tertuju ke arah Rey.
"Kita ada rapat." Imbuh Rey, sambil terus berjalan melewati Hanna. Tanpa menoleh sedikitpun ke arah Hanna yang terus menatapnya.
Hanna, langsung meraih buku dan bolpen yang memang sudah tersedia di meja itu. Lalu dengan cepat mengikuti langkah Rey, yang hendak masuk kedalam lift.
"Rahasiakan kedatangan Myesa dari siapapun. Terlebih Papaku!" Perintah Rey, tepat setelah pintu lift tertutup.
"Baik, Pak." Sahut Hanna, yang kini berdiri di belakang Rey.
"Hidup mu terlalu banyak rahasia." Gumam Hanna, sambil menatap punggung Rey yang terlihat proporsional.
Dari lantai 13, mereka menuju lantai 17. Dimana ruang rapat berada. Mengikuti langkah Rey masuk kedalam ruang rapat. Semua tatapan orang-orang yang sudah berada didalam ruangan itu langsung tertuju ke arah keduanya.
Ini rapat perdana untuk Rey maupun Hanna. Jadi, wajar saja jika keduanya tampak tegang.
Om Surya, sempat mengernyitkan keningnya ketika melihat sosok Hanna disana. Namun, sekarang bukan waktu yang tepat untuk mengutarakan rasa penasarannya.
Rapatpun dimulai setelah Rey dan Hanna duduk.
Om Surya, memperkenalkan CEO baru perusahaan itu kepada para petinggi, pemegang saham dan juga para investor secara resmi. Walaupun sebelum pengangkatan itu dilakukan, mereka semua sudah tahu desas desus tentang kabar itu.
Walaupun hampir semuanya mendukung keputusan Om Surya tersebut. Namun, ada beberapa juga yang menentangnya.
Tapi pada akhirnya, mereka yang minoritas harus mengikuti mereka yang mayoritas mendukung.
Setelah pembukaan itu, rapat kini di ambil alih oleh Raffael selaku wakil Direktur. Memang, sebelum Rey. Raffael sudah terlebih dulu berkecimpung diperusahaan. Dan sudah menjadi orang kepercayaan Om Surya sejak dulu.
Rapat tersebut berakhir dalam waktu yang cukup singkat. Karena sebenarnya, rapat itu hanya simbolis saja.
"Rey, tunggu sebentar." Imbuh Om Surya, ketika Rey hendak beranjak untuk meninggalkan ruang rapat.
Rey yang sudah berdiri, akhirnya kembali ke posisi duduknya. "Kau duluan." Perintah Rey pada Hanna.
"Baik, Pak." Hanna langsung bergegas.
"Jadi kau dan dia-"
"Rafa yang minta Rey, untuk jadikan dia sekertaris Rey." Jawab Rey cepat, sebelum Papanya menyelesaikan pertanyaannya.
__ADS_1
"Jadi Rafa juga tahu?" Om Surya memastikan.
"Tidak! Mereka berteman, Jadi Rafa membantu wanita itu untuk mendapatkan pekerjaan." Ujar Rey.
"Bukankah dia memang karyawan kita?" Tanya Om Surya lagi.
"Ceritanya panjang, Pa." Imbuh Rey.
"Yasudah! Papa juga tidak sempat mendengarnya. Jadi, kau memutuskan untuk merahasiakan hubungan kalian? Termasuk pada Rafa!" Tanya Om Surya lagi, ia ingin memastikan permintaan Rey tempo hari.
"Iya, Pa. Lagi pula pada akhirnya kami juga akan berpisah." Ujar Rey mantap.
"Baiklah kalau begitu. Asal kau tidak melanggar janjimu!" Sarkas Om Surya tegas. Ya, Rey berjanji untuk tidak berhubungan lagi dengan Myesa, atau Om Surya akan menyebar rahasia pernikahan antara Rey dan Hanna. Yang lebih parah, jabatan sebagai CEO hanya akan tinggal kenangan jika itu sampai dilakukan Rey.
Tentu, itu dua hal yang sangat ditakutkan Rey. Keduanya akan menghancurkan masa depan Rey jika benar-benar dilakukan oleh Papanya.
Awalnya, Rey bisa dengan mudah menyanggupinya. Karena ia pikir, hubungannya dengan Myesa benar-benar sudah berakhir. Ia tak menyangka, Myesa akan kembali dan ia bisa dengan mudah diluluhkan oleh gadis itu.
***
"Bagaimana? Kau menikmati rapatnya?" Tanya Raffael, yang sengaja menunggu Hanna di luar ruang rapat.
"Kau masih disini?" Alih-alih menjawab, Hanna justru mengajukan pertanyaan pada Raffael.
Keduanya masuk kedalam lift. "Kau tak kembali keruanganmu?" Tanya Hanna, yang melihat Raffael tak menekan tombol lift yang menuju ke ruangannya dilantai 12.
"Aku akan mengantarmu!" Jawab Raffael santai.
"What!" Hanna kembali terkekeh dibuatnya.
*
"Kalau ada pekerjaan yang tidak kau mengerti, jangan sungkan untuk bertanya padaku!" Imbuh Raffael yang benar-benar mengantar Hanna hingga sampai ke meja kerjanya.
"Mana berani saya mengganggu waktu Anda yang berharga itu, Pak Rafa." Ujar Hanna sambil menahan kekehannya.
"Ch.." Decak Raffael, yang dibuat tersenyum dengan candaan Hanna. Ia tak lantas langsung pergi, malah justru duduk dihadapan Hanna. Lebih tepatnya di depan meja kerja Hanna.
"Aku tidak menyangka ternyata kau termasuk orang penting di perusahaan ini." Lanjut Hanna.
"Emp, dan kau bisa manfaatkan itu sepuasmu!" Ucap Raffael percaya diri.
"Jadi kau akan gunakan kekuasaan mu untuk itu?" Sahut Rey, yang tiba-tiba saja sudah berada disana.
__ADS_1
Raffael terkekeh, karena kedapatan sedang menggombal.
Tanpa menghentikan langkahnya, Rey langsung masuk kedalam ruang kerjanya dengan raut wajah datarnya.
"Sebaiknya kau pergi sekarang!" Hanna memperingati Raffael sebelum di tegur Rey seperti tadi pagi. "Dilihat dari raut wajahnya, Boss sedang tidak baik-baik saja." Lanjut Hanna sambil berbisik.
"Baiklah, kalau begitu aku akan lanjut bekerja." Raffael bangkit dari duduknya. "Jangan lupa janji makan siang kita!" Lanjut Raffael, mengingatkan Hanna. Barang kali saja ia lupa dengan janji mereka itu setelah beberapa hari tidak dilakukan.
"Iya Pak Rafa, aku tidak akan lupa." Jawab Hanna, diiringi anggukan kepalanya.
Setelah kepergian Raffael, Hanna bangkit dari tempat duduknya. Lalu menuju ke ruangan Rey.
Tok!Tok!
"Masuk!" Rey, mempersilahkan si pengetuk pintu untuk masuk. Tanpa tahu, jika itu Hanna.
"Maaf, jika aku mengganggu." Ucap Hanna hati-hati. Seiring langkahnya yang menuju ke arah meja kerja Rey. Lalu berdiri tepat dihadapannya.
"Ada apa?" Tanya Rey dingin.
"Aku ingin mengembalikan cincin ini." Imbuh Hanna sambil melepaskan cincin itu.
Namun sayangnya, cincin itu tersangkut di jari manis Hanna tanpa bisa dilepaskan.
"Kenapa?" Tanya Rey, setelah menunggu dan melihat Hanna tampak kesulitan membuka cincin itu.
"Cincinnya gak bisa dibuka." Keluh Hanna dengan ekspresi tegang, karena cincin itu benar-benar tidak bisa di buka sama sekali.
"Kau bercanda?" Rey, bangkit dari duduknya. Menghampiri Hanna, lalu membantunya untuk melepaskan cincin pernikahan itu dari jari manis Hanna.
Sedangkan di luar sana, Om Surya baru saja hendak mengetuk pintu dan masuk kedalam ruang kerja Rey. Namun sebelum ia melakukannya, suara Hanna menghentikannya.
"Aaa aa aa... Sakit!" Pekik Hanna.
"Tunggu, sabar sebentar! Sedikit lagi!" Ujar Rey.
"Au! Jangan dipaksa." Imbuh Hanna, dengan suara beratnya menahan sakit.
Sedangkan Om Surya, langsung senyum-senyum sendiri mendengar suara dari dalam sana. Tentu padahal yang terjadi di dalam sana berbeda dengan apa yang di pikirkannya.
"Dasar anak muda. Kau harus melakukannya dirumah lain kali." Gumam Om Surya seorang diri. Lalu mengurungkan niatnya untuk masuk dan memilih pergi.
Next >>>
__ADS_1