My Boss, Is My Husband

My Boss, Is My Husband
Hak Orang Lain


__ADS_3

Saat Yayank terbangun, orang yang pertama kali ia lihat adalah Raffael.


Raffael, hanya menatap Yayank tanpa bergeming, sedangkan Yayank, mengedarkan pandangannya. Setelahnya, spontan ia memegang perutnya.


"Apa-" Kalimat Yayank menggantung.


Raffael, mengalihkan pandangannya ke arah perut Yayank. "Dia baik baik saja." Ujar Raffael, setelahnya kembali mengalihkan pandangannya ke arah netra Yayank, menatapnya tajam dengan ekspresi datar.


"Sampai kapan kau berencana merahasiakannya padaku?" Tanya Raffael akhirnya.


"Aku rasa, kau pasti juga tidak akan perduli. Walaupun tahu!" Ujar Yayank.


"Apa kau pikir aku setega itu? Bahkan tak perduli pada anakku sendiri!" Ucap Raffael penuh penekanan.


Pembicaraan mereka terhenti, ketika perawat menghampiri ranjang Yayank.


*


"Kau tak ingin istirahat dulu disini." Rey, meraih pergelangan Hanna. Menghentikan langkah Hanna yang akan beranjak dari sana.


Setelah mendapatkan tanda tangan Rey di dokumen yang diminta managernya, Hanna berniat kembali ke departemen nya.


"Aku harus segera menyerahkan dokumen ini." Sambil mengangkat sedikit dokemen yang sedang di pegangnya.


Rey menarik tangan Hanna, hingga membuat Hanna terduduk di pangkunya.


"Tapi tiba tiba saja aku merindukanmu." Rengek Rey, sambil memeluk pinggan Hanna.


Hanna meraba kening Rey. "Apa kau sakit?" Tanya Hanna, sambil menahan tawanya. Pasalnya, Rey tak biasanya bersikap seperti ini.


"Hannaa...." Geram Rey.


Hanna terkekeh pelan, lalu mengecup bibir Rey.


"Pak.." Sekretaris Rey masuk tiba tiba, membuat Hanna terlonjak kaget.


"Ma-maaf, Pak." Sekretaris Rey langsung berbalik, dan kembali menutup pintu ruangan Rey dengan cepat.


Muka Hanna langsung memerah karena malu, sedangkan Rey... Tertawa begitu lepas melihat ekspresi Hanna.


"Kau..!" Hanna, mencubit pinggang Rey. Lalu bergegas keluar dari ruangan itu.


Rey, masih terkekeh sambil mengelus pinggangnya yang terasa sakit karena di cubit Hanna cukup kuat.


*


"Hanna... Kau baik baik saja!" Meja kerja Hanna, langsung di serbu oleh Vany dan yang lainnya.

__ADS_1


"Emp, aku baik baik saja." Jawab Hanna, lalu tersenyum ke arah mereka semua yang tampak mengkhawatirkannya.


"Syukurlah... Kau tahu, kami sangat terkejut saat mendengar kau terjebak didalam lift." Hendra ikut menimpali.


"Benarkah? Apa aku bisa mempercayai itu?" Imbuh Hanna bercanda.


"Tentu saja!" Sahut Dani bergebu gebu.


Hanna terkekeh. "Baiklah, Aku percaya! Tolong berikan dokumen ini pada Pak Manager." Hanna menyodorkan dokumen pada Dani.


"Baik.." Dani menerima dokumen itu, setelahnya langsung menuju ruang manager untuk menyerahkan dokumen itu pada pak manager.


"Kau sungguh baik baik saja?" Vany kembali memastikan.


"Iya, sungguh.. Aku baik baik saja. Lihat, aku masih bisa tertawa sekarang. Aku hanya sedikit terkejut saja tadi." Hanna mencoba meyakinkan.


"Hufftt... Aku lega sekarang." Vany menghela nafas.


Hanna bersyukur, masih ada orang orang baik yang mengkhawatirkannya. Dan mereka terlihat tulus pada Hanna, dan tidak pernah memanfaatkan Hanna sebagai istri pemilik perusahaan.


"Apa Hanna sudah kembali?" Tanya Pak Maneger pada Dani.


"Iya, Pak. Sudah.." Jawab Dani, diiringi dengan anggukan kepalanya.


"Dia baik baik saja?" Pak manager kembali memastikan.


"Tampaknya begitu, dia bahkan masih bisa bercanda." Jawab Dani.


"Kalau begitu saya permisi, Pak." Ucap Dani, lalu keluar dari ruangan manager setelah mendapatkan anggukan darinya.


*


"Pak, aku sudah memeriksa beberapa cctv. Dan benar, ada yang tampak mencurigakan." Imbuh sekretaris Rey.


Saat dirumah sakit, Rey menghubungi sekretarisnya untuk melakukan pengecekan, karena selama ini tak pernah ada gangguan apapun di perusahaan. Baru kali ini, ada kasus lift macet.


Rey, melihat hasil rekaman cctv yang ditunjukkan oleh sekretarisnya. Sedikit sudut bibirnya terangkat, ketika melihat rekaman itu. Benar seperti dugaannya, Rey langsung merasa ada sesuatu yang aneh dengan wanita paruh baya yang bekerja sebagai cleaning service itu saat mereka berpas pasan tadi.


"Wanita itu, baru bekerja 2 minggu yang lalu. Sedangkan pria itu bekerja 3 bulan yang lalu." Lanjut sekretaris Rey.


"Suruh mereka keruanganku sekarang!" Perintah Rey.


"Baik, Pak.." Sekretaris Rey, langsung bergegas dari ruangan Rey.


Sedangkan Tante Rosa, saat tahu dirinya di minta untuk ke ruangan Rey, ia bisa langsung menduga kalau perbuatannya pasti sudah ketahuan. Tante Rosa tak lagi mengulur waktu. Ia mengeluarkan pisau kecil dari tas nya. Lalu bergegas mencari keberadaan Hanna.


Sesampainya di departemen pemasaran, Tante Rosa langsung menarik Hanna dari tempat duduknya dan mendekap Hanna dengan pisau yang di letakkan di leher Hanna. Semua karyawan menjadi histeris dan terkejut.

__ADS_1


Tak terkecuali dengan Hanna, ia pun ikut terkejut dengan apa yang dilakukan Tante Rosa.


Semua karyawan menjadi heboh, berita itu sampai hingga telinga Rey.


Rey panik, dan langsung bergegas menuju departemen pemasaran.


Pun dengan Raffael, yang baru tiba di perusahaan. Ia langsung mengetahui dari beberapa karyawan yang berlari menuju departemen pemasaran, mereka penasaran dengan kejadian itu.


Raffael, langsung mengambil langkah menuju departemen pemasaran tanpa menunggu lagi.


Rey menekan tombol lift, namun tak kunjung terbuka. Akhirnya, karna tak sabar ia memilih turun menggunakan tangga.


Dari lantai 13 menuju lantai 4, rasanya jauh sekali ketika dalam keadaan seperti itu.


Sedangkan Jantung Rey, sudah berdetak tak karuan. Pikirannya sudah menerka nerka ke hal yang paling buruk, yang bisa terjadi pada Hanna.


"Apa yang kau lakukan?" Tanya Hanna, pada wanita yang kini sedang mendekapnya.


Tante Rosa tak menjawab, ia hanya terkekeh pelan.


Sedangkan yang lainnya, menjadikan itu sebagai tontonan yang menegangkan.


Tak terkecuali dengan Vany dan lainnya. Tak ada yang bisa mereka lakukan untuk menyelamatkan Hanna.


"Tak ada yang boleh memanggil polisi! Atau, lehernya akan langsung aku gorok!" Ancam Tante Rosa. Ketika melirik ke arah Vany yang tampak sedang menelpon.


Sesaat kemudian, Raffael tiba disana. Juga dengan Rey yang langsung menerobos keramaian.


"Rey .." Lirih Hanna, ketika netranya menangkap sosok Rey.


Tante Rosa, langsung menoleh ke arah Rey. Lalu tersenyum sinis.


"Akhirnya kau datang juga! Aku sedang menunggu mu dari tadi." Ujar Tante Rosa, dengan senyuman menyeringai.


"Apa mau mu!" Tanya Rey, akhirnya.


"Mau ku!" Lagi dan lagi, Tante Rosa terkekeh. "Aku ingin kau menyaksikan, dia merasakan apa yang dirasakan putriku, Myesa!" Ungkap Tante Rosa.


Rey mengernyitkan keningnya, ia kembali ingat. Pernah bertemu dengan wanita itu saat Myesa di dalam penjara. Bisa bisa nya Rey melupakan wajah itu.


Rey, menelan salivanya.


"Lepaskan dia, sekarang!" Raffael, ikut bersuara. Ia, tak kalah tegangnya dibanding Rey.


"Jadi, kau orang tuanya Myesa!" Ujar Hanna.


"Apa kau terkejut?" Bisik Tante Rosa tepat disamping telinga Hanna. "Ini akibatnya, ketika kau begitu berani merebut hak milik orang lain." Lanjut Tante Rosa.

__ADS_1


Alih alih takut, Hanna justru tersenyum. Membuat semua orang yang berada disana heran. Termasuk Rey dan Raffael.


Next ✔️


__ADS_2