
Rey duduk sambil bersandar di kepala tempat tidur. Ia pun harus kembali mengatur nafasnya yang sudah tak beraturan. Hanna, menarik selimut lalu menutupi tubuh mereka berdua. Ia memeluk Rey sambil merebahkan kepalanya di dada bidang Rey.
"Saat itu, usia kehamilanku memasuki 9 bulan. Tapi aku masih bekerja di restoran sebagai koki untuk bertahan hidup. Aku harus mengumpulkan banyak uang sebelum melahirkan, atau aku bahkan tak bisa membelikannya susu. Malam itu, kebetulan Shasya dan Bram sedang merayakan anniversary pernikahan mereka disana. Dengan Lucy yang baru berumur satu tahun. Naasnya, tiba tiba saja ada api yang muncul entah dari mana dan menyebar begitu cepat. Aku berhasil keluar dari pintu evakuasi darurat. Tapi tidak dengan Shasya dan Lucy, mereka terjebak disana karena pada saat itu Bram sedang ke toilet. Aku tidak berfikir panjang saat itu, aku kembali masuk dan memutuskan untuk menyelamatkan mereka. Aku harus menerobos gumpalan asap dan hawa panas yang sangat menyengat. Aku langsung menggedong Lucy, dan menuntun Shasya untuk keluar dari sana. Kami berhasil keluar, tapi aku mengalami kontraksi dan dilarikan kerumah sakit. Pun begitu dengan Shasya dan Lucy, mereka juga harus dirawat karna menghirup terlalu banyak asap. Saat itu, aku sudah terlalu lemas." Air mata Hanna mengalir dari sudut matanya dan membasahi dada Rey. Rey, tampak begitu serius mendengar cerita Hanna.
"Dokter mengusulkan agar aku melahirkan secara cecar, tapi aku menolaknya. Aku begitu percaya diri bisa melahirkannya secara normal." Hanna terkekeh dengan air mata yang terus mengalir. Menertawakan betapa bodohnya ia saat itu.
__ADS_1
Mata Rey mulai berkaca kaca, tapi ia masih diam seribu bahasa.
"Detak jantungnya semakin melemah, sedangkan aku masih berusaha untuk terus mengejan. Kondisi ku yang lemah tidak memungkinkan aku punya kekuatan yang cukup untuk mengejan. Rasanya saat itu aku hampir mati, aku sudah pasrah. Seandainya saja hari itu Tuhan mencabut nyawaku, aku sudah siap. Tapi ternyata, Tuhan lebih menyayanginya. Ia terlahir ke duania, tapi dalam kondisi meninggal." Hanna terisak. Rey semakin mengeratkan pelukannya.
"Dia laki laki, dan sangat mirip denganmu. Mata, hidung dan bibirnya persis sepertimu. Dan aku sangat bersalah, karena telah membunuhnya." Lirih Hanna, tangisnya semakin menjadi. Selama dua tahun, Hanna terus saja menyalahkan diri sendiri atas kejadian itu.
__ADS_1
Rey tak dapat berkomentar apapun. Air matanya ikut menetes. Seharusnya ia lebih berusaha keras lagi mencari Hanna saat itu, mungkin semua ini juga tidak akan menjadi semenyedihkan ini.
Rey mengusap pelan punggung Hanna, mencoba menenangkannya. Hanna terus saja menangis dalam pelukan Rey. Maka dari itu selama ini Hanna terus saja bungkam tentang kejadian 3 tahun lalu itu, karena ketika harus kembali mengingat kejadian itu Hanna akan sangat hancur. Hatinya benar benar terluka, dan rasa bersalah kembali menggerogoti dadanya.
Bayangan tentang bagaimana ia mendekap tubuh bayinya yang sudah tak bernyawa, memandang wajah teduh itu dengan mata yang sudah terpejam. Hanna bahkan tak sempat mendengar suara tangis bayinya. Hanna sangat terpukul saat itu, seakan dunianya runtuh. Rasanya ia juga tak ingin hidup lagi saat itu, ia ingin mati saja. Ikut bersama bayi mungilnya.
__ADS_1
Next >>>