My Boss, Is My Husband

My Boss, Is My Husband
Mengisi Posisi Yang Kosong


__ADS_3

Rey kembali keruang kerjanya, hati dan pikirannya sedang tak baik baik saja kini. Lagi dan lagi, ia meremas tengkuknya yang terasa sakit dan menghela nafas dalam setelahnya untuk mentralkan perasaannya yang campur aduk. Pikiran buruk tentang Raffael dan Hanna terus saja mengusiknya.


"Hallo.." Ucapnya malas, saat menerima panggilan telpon di ponselnya tanpa melihat siapa yang menelpon. "Baik, aku segera kesana." Imbuh Rey akhirnya, dan langsung bergegas dari duduknya sambil meraih kunci mobilnya. Ia tampak begitu tergesa, bahkan tak menyadari ada Hanna di parkiran dan melihatnya mengemudi dengan terburu buru.


Hanna tampak mengernyitkan keningnya, ia langsung merogoh ponselnya dari dalam tas. Dan berniat menghubungi Rey. Namun akhirnya, Hanna memilih untuk mengurungkan niatnya.


*


"Maaf, lagi lagi aku harus merepotkan mu." Suara berat itu menyambut kedatangan Rey.


"It's okay!" Rey menunjukkan senyumannya. "Apa yang terjadi?" Selidik Rey kemudian, lalu duduk disamping ranjang pasien. Dimana Yayank sedang terbaring lemah disana.


"Seseorang menyerang ku dengan tiba tiba." Ucap Yayank, dengan raut wajah yang tampak ketakutan.


"Kau sedang menangani sebuah kasus?" Tanya Rey kembali.


"Tidak." Jawab Yayank di iringi dengan gelengan pelan.


Rey mengernyitkan keningnya, mencoba berfikir apa motif orang tersebut sampai melakukan hal tersebut. Sambil memperhatikan Yayank yang mendapati beberapa luka di bagian wajah dan lengannya.


"Bagaimana dengan bayimu?" Tanya Rey akhirnya, setelah sempat terdiam beberapa saat.

__ADS_1


"Dia baik baik saja." Imbuh Yayank sambil memegang perutnya. Dengan suara yang sedikit bergetar. Ya, Yayank bersyukur bayinya tak sampai kenapa kenapa. "Semoga dia kuat. Ya, dia harus kuat menjalani ini semua." Lirih yayank dengan air mata mengalir di sudut matanya.


Rey yang melihatnya kembali mengasihani Yayank. Rey hanya bisa menatapnya pilu, dan tak bisa berbuat apa apa ketika Yayank bersikeras ingin merahasiakan kehamilannya pada Raffael. Rasa sakit hatinya membuat ia tak ingin Raffael tahu bahwa ia sedang mengandung anaknya.


*


Hanna kembali melirik ke arah jam tangannya, ketika mendapati Rey tak kunjung kembali. Ia tampak gelisah, apa lagi setelah mendapatkan jawaban dari asisten Rey, bahwa Rey tak sedang ada janji temu dengan klien. Lalu, kemana perginya Rey dengan begitu terburu-buru seperti itu?


Ceklekk...


Tatapan Hanna langsung tertuju ke arah pintu.


"Hanna, kau disini." Imbuh Rey ketika melihat Hanna berada didalam ruang kerjanya.


"Ada apa?" Tanya Rey kemudian, ketika ia sudah duduk tepat disamping Hanna.


"Apa boleh aku kembali bekerja, aku merasa sangat bosan dirumah." Imbuh Hanna, penuh harap. Hanna sangat berharap Rey mengizinkannya.


"Tapi.." Rey tampak ragu ragu memberi jawaban.


"Aku mohon." Rengek Hanna sambil menggenggam punggung tangan Rey.

__ADS_1


"Posisi sekretaris dan asisten sudah terisi." Ujar Rey.


"Tak masalah, aku tidak harus di posisi itu." Hanna optimis. Apapun posisinya, tak akan masalah. Yang penting ia bisa kembali bekerja.


Rey menatap Hanna penuh selidik. Entah mengapa ia justru mencurigai keinginan Hanna yang kembali ingin bekerja. Rey meraih ponselnya, lalu menghubungi HRD.


"Iya, Hallo Pak Rey." Sahut Manager HRD.


"Apa ada posisi kosong di perusahaan?" Tanya Rey, dengan tatapan tertuju ke arah netra Hanna yang juga sedang menatap penuh harap ke arah Rey.


"Ada Pak, posisi staf di bagian penjualan."


"Selain itu?" Tanya Rey lagi, menurutnya tak mungkin Hanna menempati posisi itu.


"Tidak ada, Pak."


Hanna yang mendengar langsung percakapan itu, karena sedari tadi Rey menghidupkan speakersnya mengangguk. "Aku tak masalah." Imbuhnya sambil melebarkan senyuman.


"Kau yakin?" Rey memastikan.


"Tentu!" Jawab Hanna sungguh sungguh.

__ADS_1


Next ✔️


__ADS_2